> September 2009 | Prigibeach Trenggalek

PILBUP TRENGGALEK 2010: SIAPAKAH KANDIDATNYA?




Oleh : Hamzah Abdillah

Agustus 2010 akan datang, KPUD Trenggalek akan menggelar Pilihan Bupati masa jabatan 2010-2015. Sementara Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Trenggalek mulai menghitung berapa dana yang diperlukan untuk hajatan demokrasi ini, para kandidat yang kemungkinan bakal maju menjadi bakal calon Bupati sudah pula "mensosialisasikan" diri pada masyarakat. Terutama untuk sang incumbent (H. Soeharto), yang nampak selalu kunker (Kunjungan Kerja) dan bersafari ke desa-desa, bisa dipastikan akan kembali "macung" di pesta demokrasi tersebut.

Dalam pada itu, mantan Bupati Trenggalek masa jabatan 2000-2005, Ir. Mulyadi WR, MMT., yang pada Pilbup 2005 lalu dikalahkan dengan nilai sangat tipis oleh pasangan H. Soeharto dan Mahsun Ismail, niscaya pula akan mencoba peruntungannya lagi untuk mengabdi kepada Bumi Menak Sopal melalui kemegahan Pendopo Agung sebagai penguasa tunggal. Wacana yang bisa dibaca dari gencarnya iklan-iklan pribadi dan keluarganya dalam beberapa media di berbagai event menarik, dan gelegar aktivitasnya setahun terakhir ini yang peduli rakyat Trenggalek. Hasrat majunya Mulyadi WR sebagai bakal calon Bupati banyak dibicarakan publik dan para tokoh.

Mahsun Ismail, S.Ag.,MM., yang sekarang menjabat Wakil Bupati Trenggalek juga telah menggebyarkan lampu kuning pada segenap jajaran Ansor dan ulama Nahdiyin. Sejak setahun lalu, wacana ini sudah merebak, namun "panglima" Pemuda Ansor Trenggalek ini senantiasa menghindar dan berusaha berstatus-quo. Alasannya, karena sudah dua kali menjabat sebagai Wakil Bupati, ada kemungkinan dirinya akan terganjal oleh peraturan. Baru pada bulan Ramadhan yang lalu, warga nahdiyyin memperoleh tanda-tanda bahwa Mahsun Ismail akan mencalonkan diri.

Kandidat lain, mungkin banyak yang belum menyangka. Belum lama ini ternyata beredar kasak-kusuk, bahwa DPC PDI-P Trenggalek akan mengajukan bakal calon Bupati 2010-2015 dari salah seorang kadernya. Siapakah dia? Tidak lain dan tidak bukan, sudah tentu Ketua DPC yang sekarang menjabat Ketua Sementara DPRD Trenggalek : Drs. Akbar Abbas,MM. Bahkan, dari salah seorang petinggi Partai berlambang Banteng ini, Akbar Abas akan maju dengan perkiraan kepastian 90% (baca: sembilan puluh prosen). Artinya, untuk mencapai 100% dia hanya memerlukan 10% saja lagi, yang akan dia peroleh 1% dari Tangan Ilahi, yang 9% prosen lagi dari restu DPP PDIP dan Propinsi plus dukungan dari 14 Kecamatan yang ada di Trenggalekini.

Rumor lain yang beberapa bulan terakhir mencuat, Sekretaris Kabupaten Trenggalek Ir. Cipto Yuwono, barangkali juga tak mau ketinggalan untuk memeriahkan bursa kandidat bakal calon Bupati Trenggalek. Namun, tokoh yang satu ini terkesan tertutup dan hati-hati. Mungkin mengingat posisinya sebagai bawahan sang incumbent.

Lantas, kira-kira kelima kandidat tersebut akan naik "kereta kencana" berbendera apa untuk menuju ke Pendopo Agung? H. Soeharto tak mungkin mendapat dukungan dari PKS, PPP, Golkar, atau PDI-P. Sedang PKB, jika Mahsun Ismail pasti maju, tentu akan menolaknya pula. Ada kemungkinan, incumbent akan menaiki "kereta kencana" berbendera Demokrat berkoalisi dengan PAN. Mulyadi WR sekali lagi mengandalkan bendera Golkar dan koalisinya. Mahsun Ismail dengan PKB dan warga NU, plus PKS. Akbar Abas dengan PDI-P yang bergandeng tangan dengan Patriot (itu bila Patriot tak segan “bentrok” dengan koalisinya dalam fraksi di Dewan -karena masih merasa punya hubungan emosional dengan PDI-P tatkala Pilpres lalu). Sementara Cipto Yuwono, masih harus mencari-cari "kendaraan" yang memenuhi nilai tawar atau bargaining yang disepakati.

Apabila prediksi ini mendekati kebenaran, siapa yang mungkin akan muncul sebagai Bupati Trenggalek 2010-2015? Apakah Sang Incumbent H. Soeharto? Mulyadi WR? Mahsun Ismail? Akbar Abas? Ataukah justru Cipto Yuwono? (Masih terlalu dini untuk berspekulasi!?)

Read more..

Kakek Maniak Seks Hajar Istrinya


• Minta Jatah Biologis Tidak Diberi

Trenggalek, PrigiBeach

Tidak diberi jatah biologis, seorang kakek maniak seks, Rochim Gandik (59) warga Trenggalek harus berurusan dengan polisi, karena ulahnya yang telah menghajar istri syahnya sendiri dengan gagang sapu ijuk yang terbuat dari batang kayu. Karena tidak terima sang istri tercinta melaporkan kasus ini ke unit PPA (Perlindungan Perempouan dan Anak) Mapolres Trenggalek.

Rochim Gandik yang tinggal di RT 12 RW 02 desa Karanganom, Kecamatan Durenan, memang seorang yang haus akan kebutuhan seks. Dengan polos dia mengakui kepada PrigiBeach, biasanya dijatah begituan sama istri seminggu bisa sampai enam kali. Sementara Sukarti (57) istrinya entah sebab kelelahan atau sedang tidak mood, pagi itu Minggu (27/09) sekitar pukul 03.00 (WIB) menolak keinginan buas sang kakek.

“Masa’ saya suaminya yang syah, minta jatah begituan kok malah ditolak dengan mengatakan saya seperti anjing?! Istri macam apa dia itu?” kata kakek Rochim kpeada PrigiBeach. Akibat kata-kata kasar istrinya, sekitar pukul 05.30 hari itu juga, emosi sang kakek tidak terbendung lagi. Dia minta jatah sambil merayu, namun ternyata istrinya tetap kukuh menolak. Kakek maniak seks ini naik pitam lalu mengambil sapu ijuk yang ada di dapur, dan kembali menemu istrinya yang masih terlentang tidur dib alai-balai di kamarnya. Tanpa ampun Rochim memukuli Sukarti berkali-kali dengan gagang sapu itu.

Tak ayal, wanita yang berasal dari desa Bendosari, Kecamatan Sanankulon, Blitar itu menjerit-jerit kesakitan sambil meminta tolong pada tetangganya, hingga tetangga berdatangan untuk memberikan pertolongan. Korban yang dinikahi Rochim sejak tahun 1990 dan belum dikaruniai anak tersebut langsung dengan diantar tetangganya melaporkan ke Mapolres Trenggalek.

Kapolres Trenggalek, Drs. Desmawan Putra, SH.M.Hum, melalui KBO Reskrim Iptu Khoiril, S.Pd., M.Hum., membenarkan adanya kasus tersebut, bahkan tersangka saat ini sudah ditahan dan diperiksa oleh Unit PPA. “Barang bukti yang dipakai untuk menjerat tersangka adalah hasil visum etrepertum RSUD Dr. Sudomo Trenggalek, dan sapu ijuk sudah kami amankan”, ujar Khoiril. Luka yang diderita korban mata bagian kanan lebam-lebam dan bengkak, imbuhnya. Mungkin besok (hari ini, Rabu,30/09) korban akan dimintai keterangan. Sampai hari ini korban masih berlindung di rumah orang tuanya sendiri di Sanankulon, Blitar. Sementara, tersangka akan dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan berat dan pasal KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) UU No. 23/2004, pasal 44 ayat 1, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.(PB).

Read more..

Foto : H. Soeharto & Akbar Abbas saat bercengkrama di Kupatan. Gus Baha’ dan Tim usai pagelaran, Reyog Warga Kelutan (Dok.PrigiBeach)


 Tidak Hanya Terpusat di Durenan Tapi Sudah Menjadi Tradisi Warga Trenggalek

Trenggalek, PrigiBeach

Suasana “kupatan” 7 Syawal 1430 H yang jatuh pada Minggu (27/09) kemarin berlangsung sangat meriah, bahkan lebih istimewa daripada tahun-tahun sebelumnya, karena Ponpes Kelutan” Kidul Kali” bersama masyarakat Kelurahan Kelutan juga menggelar ritual tersebut dalam bentuk entertaint. Tradisi kupatan yang sudah berlangsung lebih dari satu abad ini memang merupakan moment yang sakral, religius, merakyat dan familiar.
Pemerintah daerah Kabupaten Trenggalek mendukung kegiatan keagamaan tersebut, dan memberikan kontribusi tiada ternilai bagi ummat Islam di daerah ini, yakni antara lain bila Kupatan berlangsung pada hari kerja, maka kepada PNS diijinkan untuk ikut merayakannya, serta dengan mengerahkan satuan pengamanan baik dari Polres maupun Satpol PP. Seperti dikatakan oleh Kapolres Trenggalek AKBP Drs. Desmawan Putra, SH.M.Hum, pihaknya telah menerjunkan 148 personil untuk pengamanan selama lebaran. Mulai dari kegiatan penjagaan di lima pos yang ada, sampai dengan kelancaran lalu lintas selama lebaran dan kegiatan-kegiatan lain, termasuk dalam acara kupatan ini.

Menurut Bupati H. Soeharto, melalui Kabag Humas Pemkab Trenggalek, Drs. Joko Setyono, M.Si, Pemkab memberikan ijin kepada PNS yang ingin merayakan Kupatan yang jatuh pada hari kerja. “Namun, bagi mereka yang bertugas dalam pelayanan publik pada instansi yang vital dan urgensinya menyangkut kepentingan mendesak, pada hari itu ya tetap harus bertugas”, katanya.
Aktivitas dan suasana kupatan sudah terasa semenjak Sabtu (26/09), terutama di wilayah Kecamatan Durenan yang merupakan pusat dan cikal bakalnya tradisi Lebaran Kupatan. Tampak di Pondok Joglo Desa Semarum, Kecamatan Durenan, santri dan tamu dari seluruh penjuru hilir mudik berdatangan untuk sungkem kepada para kyai. Terlebih lagi di Ponpes Babul Ulum, Durenan, yang konon menjadi tempat awal mula tradisi kupatan, ummat Islam dan ratusan wisatawan dari sekitar Kabupaten Trenggalek terlihat berbaur dalam nuansa Islami.

Kyai Fatah Mungin, pengasuh pondok mengaku senang dengan semakin maraknya perayaan kupatan. "Ya , yang dulu hanya satu rumah, sekarang menjadi tradisi hampir seantero Kecamatan Durenan, Pogalan dan Trenggalek. Tentu saja sebagai penggagas kami senang," kata Fatah Mungin.

Meski akhirnya sebagian dari keramaian bukan sekedar orang yang datang untuk mengikuti kegiatan religius, Bupati Trenggalek H. Soeharto mengatakan sangat bangga dan gembira. Menurutnya, esensi kupatan adalah peningkatan keimanan kepada Allah. "Disamping untuk refreshing, namun esensinya sarat dengan nilai-nilai ukhuwah islamiyah. Merasa sebagai manusia yang penuh dosa dan noda, juga saling memaafkan dengan sesama. Pemkab sangat mendukung, bahkan ini akan kami agendakan sebagai obyek wisata tahunan," katanya, seperti disampaikan oleh Kabag Humas.

Dalam pada itu, Lebaran Kupatan 7 Syawal 1430 H (Minggu, 27/09) kali ini, Gus Baha’ dari Ponpes “Kidul Kali” Kelutan, membuat gebrakan yang kreatif, positif dan dinamis, bekerja sama dengan komunitas warga di Kelurahan Kelutan Kecamatan Trenggalek. “Bukan saya kreator dan penyelenggaranya, tapi ini adalah persembahan dari komunitas warga Kelutan”, kata Gus Baha’ dengan tawaddhu dan tegas. Warga sepakat menggelar kegiatan dibawah bendera “Komunitas SATU (S-portif, A-ktif, T-oleran dan Unity)”. Anggota tetap komunitas SATU adalah warga Kelutan, namun tidak menutup kemungkinan akan kehadiran anggota tetap dari luar, kata Gus Baha’ menjelaskan.

“Pagelaran aneka kesenian seperti Band, Dandut, Hadrah, Elektone dan juga Reyog Ponorogo, pada acara menyambut Lebaran “Kupatan” kali ini, Insyaallah akan kami selenggarakan rutin setiap tahun”, ujarnya. Tujuannya, pertama untuk mengurangi kemacetan tatkala lebaran Kupatan, selama ini antusiasisme masyarakat terpusat ke Durenan. Kedua, mempersatukan komunitas yang beraneka, antara lain seni spiritual/religius, olahraga, dan kehidupan berkesenian yang lain. Ketiga, melestarikan kerukunan warga dalam kehidupan sosial dengan keberagaman visi dan religi, melebur dan menyatu di panggung entertaint. Menciptakan kerukunan warga dari seluruh unsur dan elemen, mulai dari tingkat bawah hingga menengah ke atas. “Kami selenggarakan kegiatan ini bukan untuk mengalihkan “Durenan” ke Kelutan, tapi sebaliknya justru mendukung sepenuh tradisi Kupatan serta membantu mencegah terjadinya hal-hal yang tidak terduga, seperti kemacetan atau kecelakaan lalulintas yang disebabkan totalitas arus warga Trenggalek yang terpusat pada Durenan”, ujar Gus Baha’ menolak anggapan negatif atas kreativitas Komunitas SATU tersebut.

Sementara itu pengunjung sangat membludag, membanjiri setiap panggung yang ada, mereka datang dari jauh seperti dari Karangan, Tugu, Suruh, Bendungan, dan Pule “Kami sekeluarga datang jauh-jauh dari Desa Gamping, (Kecamatan Suruh/Red) untuk menyaksikan konser Hadrah dan lainnya,” kata Sakdiyah (33) salah seorang pengunjung yang datang dengan rombongannya, sambil menambahkan bila dirinya dan warga lain yang hadir merasa terhibur dan sangat berterima kasih pada Pondok “Kidul Kali” yang sudah menyediakan hiburan gratis dan bisa menikmati hidangan Ketupat Lebaran yang disediakan panitia tanpa harus jauh-jauh ke Durenan. Sementara Diah Reni (18) dari Pule. menyampaikan komentar senada, dan kebanyakan para pengunjung sangat berharap kegiatan tersebut bukan hanya sekali ini saja ada, namun bisa rutin setiap tahun pada lebaran Ketupat. Kegiatan ini dimulai sejak pukul 07.00 pagi dan berakhir tepat pukul 13.00 (WIB) sesuai dengan perizinan yang diajukan pada yang berwajib.

Kemeriahan Lebaran Kupatan ini telah membuat antrian panjang kendaraan di sepanjang jalan jurusan Trenggalek-Tulungagung, terutama di Kecamatan Durenan. Satllantas Polres Trenggalek memberlakukan buka tutup arah, dan mengalihkan jurusan kendaraan ke jalur alternatif.

Sebelum Kupatan, yakni pada Sabtu-Minggu (26-27/09) Pemkab juga menggelar pertunjukan wayang Kulit dengan lakon Rajasuya Indrappastha dimainkan oleh dalang Ki Purbo Asmoro dari Surakarta. Sebelum wayang kulit, ditampilkan tari-tarian yang disajikan oleh Murti Sari Dewi (Sang Dewi Manthili) dan tokoh cakil. Acara ini yang diselenggarakan sebagai puncak Hari Jadi Kota Trenggalek ke-815, dibuka dengan Pesta Kembang Api. Masyarakat datang berduyun-duyun, memadati jalan dan sekitar aloon-aloon kota. Mereka datang ingin melihat dari dekat pesta kembang api.(PB)
Read more..

GOA LOWO

Goa Lowo terletak di Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, sekitar 30 KM dari kota Trenggalek dan satu jalur menuju pantai Prigi. Goa yang indah dengan stalagtit dan stalagmit ini terdiri dari 9 ruang yang tinggi dan luas. Untuk menyaksikan keindahannya telah dibangun jembatan dan lampu penerangan di dalam goa. Sedangkan, sarana di luar goa berupa lapangan parkir, sarana bermain anak-anak, panggung hiburan, mushola dan MCK.
Menurut para ahli goa dari Perancis, Mr. GILBERT MANTHOVANI dan Mr. ROBERT KINGTONE KHO berdasarkan penelitiannya tahun 1985, Goa Lowo merupakan goa terluas, terpanjang dan terindah.
RUANG UTAMA, Ruang ini merupakan ruang utama Guo Lowo yang menyerupai hall. Pahatan alami pada langit-langit ruang ini sangat eksotik.
STALAGTIT & STALAGMIT GOA LOWO
PINTU MASUK, Ini merupakan ruangan pertama dan pintu masuk Guo Lowo. Keindahan ruangan ini menggugah rasa penasaran Anda untuk mengetahui Guo Lowo lebih jauh. BATU KEPALA ULAR, Batu kepala ular ini merupakan salah satu ornamen Guo Lowo yang mengisyaratkan betapa indahnya Goa ini.

Read more..

Minal Aidzin wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Read more..

Bu Guru Babak Belur Dihajar Anaknya


Trenggalek, PrigiBeach

Diduga karena masalah sepele, minta uang untuk beli bensin hanya diberi Rp. 5 ribu, seorang Ibu Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) telah dihajar oleh anak angkatnya hingga babak belur. Korban mengalami luka lebab dan hingga kini masih masih terbaring di RSUD Dr. Sudomo, Trenggalek.

Yuliana Sumarni (45), warga Kelurahan Sumbergedong RT 4 RW 2 KecamatanTrenggalek, guru SLB Bhayangkari Trenggalek yang kini terbaring lemas di ruang Melati 9 RSUD Dr. Sudomo Trenggalek, menuturkan bahwa dirinya telah dihajar oleh Fransiskus Xaverius (19) yang tak lain adalah anak angkatnya sendiri. Kejadian berawal ketika kemarin malam (Jum’at/25-09) korban meminta pelaku untuk mengantarnya ke apotik, namun Fransiskus menolak. Karena itu, korban lantas marah-marah, yang langsung ditanggapi oleh pelaku dengan balik membentak-bentak, bahkan dengan emosional pelaku telah memukuli dirinya dengan batangan rotan berdiameter sama dengan ibu jarinya. Tidak puas dengan rotan, pelaku juga menendang bagian perut dan dada korban sehingga korban terkapar di lantai dalam keadaan tak berdaya. Akibat tindakan pelaku, kini korban harus terbaring di rumah sakit dengan luka lebab dan memar di beberapa bagian tubuhnya. Bahkan menurut salah seorang perawat ada kemungkinan korban menderita luka dalam di bagian dadanya karena ditendang pelaku. Menurut korban, kemarahan anak angkatnya dipicu karena dirinya hanya memberi uang bensin Rp. 5 ribu, sementara pelaku menghendaki lebih.

Menyaksikan korban sudah terkapar tak berdaya, pelaku bukan berusaha menolong, malah sebaliknya ambil langkah seribu dan berusaha menghilangkan jejak. Beruntung ada tetangga yang mengetahui kejadian itu yang lalu melarikan korban ke RS, sementara keluarga korban melaporkan peristiwa KDRT itu ke Polres Trenggalek. Berkat kesigapan anggota Buser, pada menjelang tengah malam, pelaku berhasil dibekuk, langsung diglandang ke Mapolres Trenggalek.

“Kami telah berhasil menangkap dan menahan pelaku, kasus ini sudah ditangani oleh Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak). Jika terbukti, pelaku akan kami jerat dengan UU No.23/2004 tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) juncto pasal 351 tentang Penganiayaan dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara”, demikian Kanit PPA Aiptu Munif ketika dikonfirmasi.(Haz)

Read more..

Gebrakan Ponpes dan Pemuda Kelutan-Trenggalek




Foto : gus Baha' (Kaos Hitam) bersama Tim Komunitas SATU sesaat usai kegiatan (Dok. PrigiBeach.com)

 Rayakan “Kupatan” Dengan Kreativitas Entertain

Trenggalek, PrigiBeach

Baha’ul Mun’im (32) lebih dikenal dengan Gus Baha’ adalah putra dari Kiyai Dhanan pendiri Ponpes Kelutan “Kidul Kali”. Sejak remaja, pemuda atletis dan manis ini sangat akrab dengan komunitas generasi muda di Trenggalek tanpa melihat dari status maupun golongan. Hampir seluruh generasi tua dan muda di kawasan Kota Kripik Tempe mengenalnya sebagai figur religius yang merakyat dan dekat dengan kawula alit, kreatif dan berdedikasi tinggi. Setelah Abahnya wafat, maka dialah yang kini mempelopori Ponpes Kelutan “Kidul Kali”.

Dalam rangka merayakan Lebaran Kupatan 7 Syawal 1430 H (Minggu, 26/09) kali ini, Gus Baha’ membuat gebrakan yang kreatif, positif dan dinamis, bekerja sama dengan komunitas warga di Kelurahan Kelutan Kecamatan Trenggalek. “Bukan saya kreator dan penyelenggaranya, tapi ini adalah persembahan dari komunitas warga Kelutan”, kata Gus Baha’ dengan tawaddhu dan tegas. Warga sepakat menggelar kegiatan dibawah bendera “Komunitas SATU (S-portif, A-ktif, T-oleran dan Y-unnete)”. Anggota tetap komunitas SATU adalah warga Kelutan, namun tidak menutup kemungkinan akan kehadiran anggota tetap dari luar, kata Gus Baha’ menjelaskan.

“Pagelaran aneka kesenian seperti Band, Dandut, Hadrah, Elektone dan juga Reyog Ponorogo, pada acara menyambut Lebaran “Kupatan” kali ini, Insyaallah akan kami selenggarakan rutin setiap tahun”, ujarnya. Tujuannya, pertama untuk mengurangi kemacetan tatkala lebaran Kupatan, selama ini antusiasisme masyarakat terpusat ke Durenan. Kedua, mempersatukan komunitas yang beraneka, antara lain seni spiritual/religius, olahraga, dan kehidupan berkesenian yang lain. Ketiga, melestarikan kerukunan warga dalam kehidupan sosial dengan keberagaman visi dan religi, melebur dan menyatu di panggung entertain. Menciptakan kerukunan warga dari seluruh unsur dan elemen, mulai dari tingkat bawah hingga menengah ke atas. “Kami selenggarakan kegiatan ini bukan untuk mengalihkan “Durenan” ke Kelutan, tapi sebaliknya justru mendukung sepenuh tradisi Kupatan serta membantu mencegah terjadinya hal-hal yang tidak terduga, seperti kemacetan atau kecelakaan lalulintas yang disebabkan totalitas arus warga Trenggalek yang terpusat pada Durenan”, ujar Gus Baha’ menolak anggapan negatif atas kreativitas Komunitas SATU tersebut.

Dana kegiatan murni bersumber dari anggota, donatur lokal, dana kas masyarakat Kelutan dan Karang Taruna. Tidak sepeser pun dana yang berasal dari luar. Masyarakat Kelutan sangat bangga dengan kegiatan ini, sehingga mereka tidak segan-segan untuk berpartisipasi aktif demi mensukseskannya.

Sementara itu pengunjung sangat membludag, membanjiri setiap panggung yang ada, mereka datang dari jauh seperti dari Karangan, Tugu, Suruh, Bendungan, dan Pule “Kami sekeluarga datang jauh-jauh dari Desa Gamping, (Kecamatan Suruh/Red) untuk menyaksikan konser Hadrah dan lainnya,” kata Sakdiyah (33) salah seorang pengunjung yang datang dengan rombongannya, sambil menambahkan bila dirinya dan warga lain yang hadir merasa terhibur dan sangat berterima kasih pada Pondok “Kidul Kali” yang sudah menyediakan hiburan gratis dan bisa menikmati hidangan Ketupat Lebaran yang disediakan panitia tanpa harus jauh-jauh ke Durenan. Sementara Diah Reni (18) dari Pule. menyampaikan komentar senada, dan kebanyakan para pengunjung sangat berharap kegiatan tersebut bukan hanya sekali ini saja ada, namun bisa rutin setiap tahun pada lebaran Ketupat. Kegiatan ini dimulai sejak pukul 07.00 pagi dan berakhir tepat pukul 13.00 (WIB) sesuai dengan perizinan yang diajukan pada yang berwajib.(Haz)
Read more..

Kebakaran Hebat Musnahkan 5 Hektar Lahan Tebu

  • Kebakaran akibat “balon kupatan” yang jatuh di tengah perkebunan

Trenggalek, PrigiBeach

Kebakaran hebat melanda perkebunan tebu milik H. Karni, menyebabkan tanaman tebu siap panen seluas 5 hektar ludes tak bersisa sama sekali. Menurut saksi mata, kebakaran diketahui terjadi pada senja hari sekitar pukul 17.00 hari Jum’at (18/09), dan sampai pagi hari Sabtu (19/09) api baru bisa dipadamkan.

Lahan tanam tebu yang terbakar itu terletak di desa Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan, dengan kondisi tanaman tebu sudah siap panen, diperkirakan awal Oktober sudah akan ditebang. Menurut Miseni (47) warga RT 15 RW 04 Desa Ngulanwetan, Pogalan, yang menjadi saksi mata, dan yang pertama mengetahui kejadian tersebut, api berasal dari bagian tengah perkebunan. “Saya perkirakan kebakaran ini disebabkan oleh “balon Kupatan” yang jatuh di tengah lahan”, katanya. Selama ini tradisi masyarakat trenggalek, khususnya para remaja dan ABG memang melepaskan balon yang memakai tenaga api obor untuk menyambut hari besar Islam seperti hari Raya Idul Fitri dan lain-lain. Balon tersebut akan membumbung tinggi mengikuti arah tiupan angin. Walaupun pihak pemerintah desa dan aparat kepolisian sudah menghimbau untuk tidak melakukan “umbul balon”, ternyata sampai sekarang kebiasaan itu masih tetap dilakukan.

Sumadi ,42, dan Tukini ,50, semua nama samaran, warga RT 20 Ngulanwetan Pogalan yang rumahnya berdekatan dengan kebun tebu itu, menerangkan bahwa peristiwa kebakaran lahan tebu seperti kali ini seakan sudah menjadi langganan, yakni hampir setiap kali menjelang musim panen. Keduanya juga menambahkan, kalau api berasal dari “balon kupatan” rasanya janggal, sebab kebakaran terjadi pada pukul 17.00 berarti masih siang hari. “Balon biasanya diterbangkan pada saat usai shalat Maghrib, yakni di awal malam, tatkala kegelapan sudah menyelimuti bumi”, kata mereka memastikan.

Sementara H. Karni pemilik lahan yang terbakar, tidak bisa dihubungi. Salah seorang karyawannya mengatakan juragan tebu tersebut sedang ke luar rumah. “Namun, Pak Haji sudah memperkirakan bahwa kerugian akibat kebakaran ini mencapai ratusan juta rupiah”, kata karyawan itu sambil menambahkan bahwa Haji Karni belum melaporkan masalah ini pada Polisi, sebab masih sibuk mencari info dan data. Kapolres Trenggalek AKBP Desmawan Putra melalui Aiptu Khoiril Kaur Bin Ops Reskrim mengatakan pihaknya memang mengetahui adanya kejadian itu, “namun kami masih menyelidiki apakah ada unsur kriminal dibaliknya, jika indikasinya ke sana, tentu kami akan meresponnya” katanya saat dikonfirmasi.(Haz).

Read more..

Swalayan Diva Terbakar

Kediri, PrigiBeach

Swalayan Diva di Jl Raya 18-20 Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jumat (25/9/2009) siang terbakar. Kobaran api yang berasal dari gudang kardus itu membesar, dan sudah meluluh lantakkan bangunan di lantai II. Kanit Reskrim Polsek Ngadiluwih Aiptu Sarwo Edi di lokasi kejadian, beruntung Mobil Pemadam Kebakaran (PMK) berhasil menjinakkan api yang sudah membakar bangunan dua lokal dan berlantai dua milik Sigit, seorang Asosiasi Pengusaha Tebu Rakyat

"Untuk sementara api diketahui berasal dari tumpukan kardus yang ada di gudang. Diketahui oleh salah seorang saksi dan melapor ke polsek. Kami masih berusaha memadamkannya," ujar Sarwo Edi.

Lebih lanjut dikatakan oleh Sarwo Edi, tiupan angin dan terik matahari membuat kobaran api semakin besar, dan sulit untuk dijinakkan. Namun, petugas masih terus berusaha. Sementara itu, untuk barang-barang yang terbakar, belum bisa ditotal, termasuk kerugiannya. Warga setempat memadati lokasi, untuk mengetahui secara dekat, juga telah menghambat aktivitas pedtugas pemadam kebakaran.(nng/haz)
Read more..

Rombongan Pengantin Terperosok Ke Jurang Munjungan

Reporter : Nanang Masyhari

Trenggalek, PrigiBeach

Insiden nahas terjadi pada para rombongan penganten. Mobil Pick Up yang mereka tumpangi, Kamis (24/9/2009) terperosok ke sebuah jurang di Desa Bangun, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek.

Berdasar informasi yang diperoleh PrigiBeach, dalam mobil tersebut terdadapat 27 orang penumpang, termasuk sopir. Sebanyak 20 orang penumpang mengalami luka serius, hingga patah tulang. Namun, sampai saat ini belum diketahui secara pasti adanya korban jiwa.

Sebagian besar korban luka berat dilarikan ke RSUD dr Soedomo Kabupaten Trenggalek. Sedangkan, mereka yang menderita luka ringan dirawat di puskesmas terdekat. Para korban itu semua berasal dari Desa Masaran Kecamatan Munjungan.

Menurut keterangan dari Fatkul (38), warga Munjungan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.00 Wib. Awalnya, iring-iringan rombongan penganten dari Desa Masaran itu hendak menuju ke Desa Bangun. Akan tetapi, baru beberap meter dari rumah salah satu mempelai, mobil Pick Up itu tidak tidak dapat melalui jalanan yang sebagian besar berupa tanjakan dan berkelok-kelok.

Kendaraan yang membawa puluhan orang itu tiba-tiba mundur, dan terperosok ke jurang yang memiliki kedalaman kurang lebih 15 meter. "Kami belum tahu pasti jumlah korbannya. Menurut Informasinya ada sekitar 20an orang dengan sebagian besar patah tulang dibawa ke RSUD dr Soedomo Trenggalek, “ ujar Fatkul.

Kejadian itu dibenarkan oleh pihak Polsek Munjungan. Namun petugas menolak memberikan keterangan lebih jauh. “Memang benar ada kecelakaan. Namun silahkan menghubungi Polres saja, “ujarnya, salah satu petugas saat dikonfirmasi melalui telpon. Sementara itu Kasatlantas Polres Trenggalek AKP Sartono ketika dihubungi melalui ponselnya tidak diangkat. (nng/haz)
Read more..

Rombongan Pengantin Terperosok Ke Jurang

* Sopir Pick Up Tak Luput Dari Musibah

Reporter : Nanang Masyhari

Trenggalek, PrigiBeach

Sampai saat ini, petugas dari Satuan Lalu-lintas Polres dibantu Polsek Munjungan masih melakukan Olah Tempat Kejadian Pekara (TKP). Namun, polisi belum dapat memintai keterangan terhadap Suwito, pengemudi Pick Up Nopol AG 9628 Y yang memuat rombongan pengantin dan terperosok ke jurang, memingat kondisi sopir masih belum sadar.

Dikonfirmasi melalui ponselnya, Kapolsek Munjungan AKP Tri Basuki mengatakan, penumpang yang terluka akibat kejadian itu sebanyak 17 orang. Delapan orang mengalami luka bebrat, dan sembilan orang luka ringan. Sementara jumlah pasti dari rombongan sebanyak 25 orang berasal dari Desa Masaran menuju ke Desa Bangun, Kecamatan Munjungan.

"Kami sudah mengamankan mobil pick upnya dan kini berada di Mapolsek Munjungan, sebagai barang bukti. Akan tetapi, kami belum bisa memintai keterangan kepada sopir, karena mengalami luka berat dan kini tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Trenggalek," terang AKP Tri Basuki, Kamis (24/9/2009).

Tri membenarkan jika kondisi jalanan di daerah tersebut memang rawan terjadi kecelakaan. Mengingat, medannya yang menanjak dan berkelok-kelok, sehingga sangat berbahaya untuk dilewati, terlebih kendaraan yang melebihi muatan. Tri Basuki menilai, sopir pick up kurang hati-hati dan tidak mempedulikan keselamatan penumpangnya. (nng/haz)

Read more..

Brankas Jarahan Dari Malang Gegerkan Warga Tulungagung

Reporter : Nanang Masyhari

Trenggalek, PrigiBeach

Ketenangan warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung, Kamis (24/9/2009) digegerkan dengan penemuan sebuah kotak brankas penyimpan harta di sebuah Parit (sungai kecil dipinggir jalan). Kotak besi dengan berat hampir 1 Ton itu ditengarai kuat bekas hasil jarahan yang sengaja dibuang oleh pelaku perampokan untuk menghilangkan jejak kejahatan.

Menurut keterangan Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Slamet Riyadi SH Mhum saat dikonfirmasi PrigiBeach, kotak besi berukuran 1X1X1 meter berwarna merah itu pertama kali ditemukan warga setempat, kemudian dilaporkan ke perangkat desa, dan diteruskan ke Polsek Karangrejo.

"Saat kami tiba di lokasi, brankas sudah dalam keadan terbuka. Di dalamnya berisi tumpukan kertas berupa, dokumen perusahaan, akte jual-beli tanah, surat perizinan baik dari dinas, maupun departemen. Sebagian dokumen juga ditemukan tercecer di sekitar brankas, dan telah terendam oleh air bercampur dengan lumpur sungai," terang AKP Slamet Riyadi.

Selanjutnya, benda yang sudah membuat masyarakat terkejut itu, oleh petugas dibawa ke Polres Tulungagung untuk diselidiki lebih lanjut. "Dari hasil koordinasi kami sementara dengan Polres jajaran, bahwa brankas tersebut diduga kuat dari sebuah rumah di Jl Papandaian Kota Malang. Pada tanggal 21 September 2009 kemarin, terjadi curat di rumah itu," imbuh AKP Slamet Riyadi.

Sementara itu, berdasarkan hasil pantauan beritajatim..com, di dalam dokumen-dokumen yang ditemukan tersebut terdapat nama sebuah perusahaan yaitu Surya Bambu Timur. Sebuah perusahan industri yang bergerak pada pembuatan alat-alat dapur dari bambu. Juga terdapat struktur keorganisasiannya, dua komisaris yaitu Djuniwati Mljati dan Tonny Darsono, kemudian Timber Mujio dan Ivan Darsono, sebagai direktur. (nng/haz)
Read more..

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1430 H

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
1 SYAWAL 1430 H
TAQOBBALALLAHU MINKUM,
MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIIM





SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
1 SYAWAL 1430 H
TAQOBBALALLAHU MINKUM,
MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIIM

Read more..

nJambret , Kabur, Tewas Nabrak Pohon

  • Jambret HP, Hantam Tiang Telpon, Kepala Remuk, Tulang-belulang Patah,
Reporter : Nanang Masyhari


1 Tewas, 1 Kritis

Trenggalek, PrigiBeach

Tamat sudah petualangan Indra Mawan (20), pemuda asal Dusun Bandungan, Desa Kedung Rejo, Kecamatan Tanjung Anom, Kabupaten Nganjuk. Jambret kambuhan itu, Kamis (17/9/2009) tewas setelah sepeda motor Yamaha Vega R nopol AG 2421 VA yang dinaikinya menghantam tiang telepon pinggir jalan. Indra Mawan tewas seketika di tempat kejadian perkara yaitu, di Jl Raya Desa Warujayeng, Kecamatan Tanjung Anom dengan kondisi mengeaskan. Kepalanya remuk dan tulang-belulangnya patah. Sementara, Agus Budi Utomo, teman jambretnya terluka parah, dan kini tengah menjalani perawatan di ruang ICU RSUD Nganjuk.

Menurut keterangan Sasmianto (20), pacar dari Lia (16), korban penjambretan asal Dusun Sumber Agung, Desa Banjar Anyar, Tanjung Anom, ketika mereka melintas di jalan umum Dusun Jarakan, Desa Sidoharjo, Kecamatan Tanjung Anom tiba-tiba dihampiri dua pemuda tidak dikenal.

Sasmianto yang asli warga Dusun Jaruman, Desa Ngadirejo, Kecamatan Tanjung Anom mengaku terkejut. "Tiba-tiba, seorang merampas HP dari tangan Lia, lalu langsung kabur," terang Sasmianto, kepada sejumlah wartawan, di Mapolres Nganjuk.

Tidak ingin dipencundangi di depan sang pacar, Sasmianto pun nekat mengejar dua pelaku dengan Honda Supra miliknya. Sehingga, mereka terlibat aksi kejar-kejaran. Begitu juga dengan pelaku, mereka kian menambah laju kecepatan sepeda motornya.

Karena saking kencangnya, pelaku tidak dapat mengendalikan laju sepeda motornya. Sesampainya di jalanan agak menikung di Dusun Pengkol, Desa Warujayeng, Tanjung Anom, pelaku tidak berhasil membanting setirnya. Braaak....! Dua penjahat ingusan itu menghantam tiang telpon bersama sepeda motornya.

Indra Mawan membentur pohon Juwar di dekat tiang telpon, dan langsung tewas seketika. Sementara Agus Budi Santoso tersungkur di aspal, dan tertimpa sepeda motornya. Kejadian itu mengundang perhatian warga sekitar. Warga berlarian ke arah korban, dan mendapati Irwan sudah tidak bernyawa.

"Saya meminta warga melaporkan kejadian itu ke polisi. Dan tidak berselang lama petugas datang ke lokasi," kata Sasmianto, menceritakan kejadian yang baru saja menimpa ia dan pacarnya. Jenazah Indra dibawa ke kamar mayat, sedangkan Agus Budi dibawa ke ICU RSUD Nganjuk untuk menjalani perawatan intensif.

Kapolsek Tanjung Anom AKP Mas Herly mengaku dalam catatan kepolisian, kedua pelaku sebenarnya adalahTO (target operasi) petugas, dalam kasus pencurian, yang kini tengah diburu.(nng)

Read more..

Agenda Pemkab : Ramdhan Penuh Berkah



Mahsun Ismail, saat membuka Festival Bedug di Kampak. dan H. Soeharto, saat menyerahkan Dana Hibah untuk Karang Taruna.(Hamzah)


Trenggalek, PrigiBeach

Setiap tahun di bulan Suci Ramadhan sudah menjadi tradisi Pemkab Trenggalek untuk menggiatkan aktivitas keagamaan. Begitu pula tahun ini, Bupati Soeharto, Muspida dan seluruh jajaran SKPD memberikan nuansa religius dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kedinasan. Selain melakukan safari Ramadhan, Festival Tabuh Bedug, dan bazaar menjelang Lebaran, Pemkab juga giat memberikan bantuan kepada umat Islam dan para duafa, baik perorangan maupun kelompok, organisasi, terutama pondok pesantren dan takmir Masjid.

Senin (14/9) yang lalu ada seribuan tukang becak diberi bingkisan berupa sarung, gula, kecap, dll yang nilainya masing-masing setara Rp.50 ribu, tidak ketinggalan pula Pasukan Kuning dan Cleaning Service di lingkungan Pemkab, dan kaum duafa lainnya. Kupon jatah bingkisan lebaran dibagikan oleh Panitia melalui kelompok tukang becak di pelosok kota Trenggalek. Tiap kelompok terdiri dari 10 orang, dan tahun ini Panitia menyiapkan 1.000 kupon. “Tahun lalu kami membagikan 800 kupon, sekarang bertambah 200 menjadi 1.000 kupon. Setiap tahun jumlah tukang becak di kota ini bertambah, dan kami tidak bisa memastikan banyaknya. Oleh sebab itu, meskipun kupon yang kami berikan 1.000 lembar, bingkisan cadangan juga kami siapkan sebanyak 100 buah, ini untuk mereka yang belum terdaftar atau tidak kebagian kupon,” kata Drs. H. Muhti Ahmadi, Kabag Kesra Trenggalek.

Sambil menunggu saat berbuka puasa minggu lalu, bertempat di Pendopo Agung, diperingati Nuzulul Qur’an yang dihadiri seluruh jajaran pejabat dan kepala SKPD serta kalangan birokrat Kecamatan. Tidak lupa juga diundang pengurus Karang Taruna berprestasi, pengurus Ponpes dan tokoh masyarakat. Dalam kesempatan ini H. Soeharto secara simbolis memberikan bantuan dana pembinaan jutaan rupiah bagi Karang Taruna Berprestasi. Dengan insentif itu, Pemkab berharap generasi muda aktivis Karang Taruna, utamanya yang di pedesaan, bisa makin terpacu untuk mengukir prestasi.

Selanjutnya, sebelum buka bersama dimulai, hadirin terlebih dulu mendengarkan tausiyah KH Muhsin Ghozali dari Tulungagung. Dalam tausiyah tersebut, Muhzin Ghozali menyatakan, tujuan diadakan buka bersama ini selain mengajak saudara sesama muslim berbagi berkah, juga demi syiar Islam dan memperingati Nuzulul Qur’an.

Menurut Sugiyanto, Kasubag Sosbud dan Bintal Bagian Kesra Trenggalek, acara Nuzulul Qur’an ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika tahun lalu Nuzulul Qur’an dilaksanakan sampai pagi dengan menghadirkan qori dan qoriah terbaik. Untuk tahun ini dipisah, sehingga kepala SKPD bisa tetap melaksanakan aktivitas pada pagi harinya. Sugiyanto menambahkan, dengan peringatan Nuzulul Qur’an ini, diharapkan terjalin silaturahmi antara masyarakat dengan Bupati, pejabat teras Pemkab dan Kepala SKPD.

Sementara itu, dalam kesempatan lain, Mahsun Ismail. S.Ag.MM, telah membuka Festival tabuh Bedug Salallahu yang diselenggarakan oleh GP Ansor Trenggalek. di masjid besar Kampak. Bertindak selaku Wabup sekaligus ketua GP Ansor Trenggalek, Mahsun Ismail antara lain menegaskan perlunya kaum muslimin untuk mentradisikan agama, bukan mengagamakan tradisi. “Festival Tabuh Bedug Salallahu ini mengandung nilai-nilai agama yang positif, dan hendaknya kita sebagai kaum muslimin senantiasa mengingatkan diri kita untuk tetap teguh pada tradisi yang diajarkan oleh Islam dan menghindari segala perbuatan yang musyrik”, katanya.

Sekalipun kegiatan festival diselenggarakan oleh Pengurus Anak Cabang GP Ansor Kampak, namun levelnya setaraf dengan Kabupaten, dan pesertanya juga cukup banyak, ada 27 group yang datang dari Kecamatan Kampak, Pogalan, Durenan dan Gandusari. Menurut Drs. Joko Setyono, M.Si. Kabag Humas Trenggalek, Festival ini akan diselenggarakan setiap tahun dalam bulan Suci Ramadhan, yakni setiap selesai shalat Tarawih. “Kami berharap, agar kesenian bernuansa Islam ini kembali bergaung seperti di masa silam.” Katanya sambil menambahkan bahwa sekarang kebiasaan tabuh bedug usai shalat tarawih sudah jarang dilakukan oleh warga, padahal irama bedug yang beriringan dengan alunan shalawat Nabi banyak mengandung nilai-nilai religi yang bisa mensugestif jiwa kita untuk tawaddhu, kona’ah dan istiqomah.(Haz)

Read more..

Bingkisan Lebaran Untuk Abang Becak



Trenggalek, PrigiBeach

Kemarin pagi, ratusan tukang becak telah mengantri di halaman kantor PKK Kabupaten Trenggalek. Mereka membawa selembar kupon dari Panitia yang dibentuk Pemerintah Kabupaten awal Bulan Ramadhan. Dengan kupon itu, mereka berhak menerima bingkisan Lebaran dari Pemkab melalui PKK Trenggalek. Menurut, Drs. H. Muhti Ahmadi, Kabag Kesra Trenggalek, kegiatan ini sudah rutin diselenggarakan setiap tahun sejak 2001.

Para abang becak ini dengan wajah sumringah, sabar mengantri. Apalagi dengan penjagaan pihak Satpol PP dan Satuan Polres Trenggalek yang ketat, mereka harus menunggu giliran hingga kesempatannya tiba untuk dilayani oleh ibu-ibu cantik. Satuan keamanan disiapkan oleh Panitia untuk mengantisipasi kericuhan yang mungkin akan terjadi akibat berjubelnya abang becak, sekalipun Panitia sudah menetapkan jumlah penerima bingkisan dan siapa saja yang berhak sejak 7 hari sebelum hari pembagian.

Kupon jatah bingkisan lebaran dibagikan oleh Panitia melalui kelompok tukang becak di pelosok kota Trenggalek. Tiap kelompok terdiri dari 10 orang, dan tahun ini Panitia menyiapkan 1.000 kupon. “Tahun lalu kami membagikan 800 kupon, sekarang bertambah 200 menjadi 1.000 kupon. Setiap tahun jumlah tukang becak di kota ini bertambah, dan kami tidak bisa memastikan banyaknya. Oleh sebab itu, meskipun kupon yang kami berikan 1.000 lembar, bingkisan cadangan juga kami siapkan sebanyak 100 buah, ini untuk mereka yang belum terdaftar atau tidak kebagian kupon,” kata Drs. H. Muhti Ahmadi.

Menurut pengamatan PrigiBeach, mereka yang datang membawa kupon ada puluhan orang yang bukan tukang becak sungguhan, melainkan tukang becak “pacak-an” (menyamar/red). Mereka itu adalah kenalan dekat para ketua kelompok atau keluarga mereka sendiri. Ini dapat dilihat dari kedatangan mereka yang membawa becak sama dengan milik temannya yang sudah mendapatkan jatah, juga sesuai keterangan dari beberapa orang tukang becak lainnya. “Biasa, Mas, ketua kelompok kadang ada yang nakal. Sehingga tukang becak beneran seperti saya ini gak dapat jatah kupon dengan alasan sudah habis. Untungnya oleh ibu-ibu tadi saya bertiga masih tetap diberi,” kata Dipo, tukang becak asal Ndarang Tamanan tapi biasa mangkal di Terminal Bus. Dia tahu kalau ada “lebaran Bupati” dikabari temannya tadi pagi. Bingkisan lebaran yang diperlihatkan Dipo nilainya setara Rp.50 ribu dirupakan kain sarung, gula, teh dan kecap Sementara mereka yang tidak kebagian jatah karena sudah habis terpaksa pulang dengan nelangsa. Pukul 11.15 WIB kantor PKK ditutup dan ibu-ibu yang melayani sudah pulang.(Haz)

Read more..

Bulan Pertanda Kala, Bulan Penunjang Kehidupan


Rabu, 16 September 2009 | 07:12 WIB

Oleh NINOK LEKSONO

KOMPAS.com - Dari segi asal-usul kejadiannya, Bulan tidak dapat dipisahkan dari Bumi. Salah satu teori yang kini banyak dianut adalah bahwa Bulan terbentuk dari sempalan material Bumi akibat ditumbuk oleh benda angkasa ukuran besar, mungkin sebesar Mars. Karena model ini lebih mampu menjelaskan terbentuknya Bulan dibandingkan dengan teori-teori lain, skenario tumbukan planeter ini merupakan yang paling banyak diterima di kalangan ilmiah (Gabriel Gache, Science News Editor, 20 Desember 2007).

Tentu masih ada rincian penjelasan dari proses tersebut, yang menghasilkan satelit alam relatif amat besar terhadap ukuran planet induknya. Muncul pula dugaan, materi Bulan tersusun 80 persen dari benda penumbuk dan 20 persen dari Bumi. Namun, ada juga ilmuwan lain yang mengatakan sebaliknya.

Tentu masih banyak yang dapat dikisahkan dari riwayat lahirnya Bulan. Namun, semangat mempelajari riwayat dua benda langit yang ditakdirkan untuk menyusuri waktu bersama-sama ini bukan berlangsung satu arah saja. Misalnya studi hanya diarahkan untuk mempelajari Bulan. Dalam kenyataannya, dari studi tentang Bulan pula banyak dipelajari serba-serbi mengenai Bumi.

Bumi dari Bulan

Di Bulan, ternyata ada berton-ton batuan dan debu yang pada masa silam ditembakkan dari Bumi akibat tumbukan asteroid. Pada batuan dan debu tersebut ternyata juga terkandung rahasia mengenai planet Bumi pada keadaan awal dan juga asal-usul kehidupan (Science Tuesday, 23/7/2002).

John Armstrong dari Universitas Washington di Seattle, AS, menyebut bahwa Bulan merupakan loteng Bumi sehingga kita harus sering menengok untuk mendapatkan benda berharga yang tersimpan di sana. Informasi yang dikandung pada benda-benda itu tak dapat ditemukan di tempat lain.

Dari sampel materi yang ada di Bulan, menurut Armstrong, dapat diketahui apa yang ada di Bumi 3,9 miliar sampai 4,0 miliar tahun silam, bagaimana keadaan awal atmosfernya saat itu, juga kerak dan permukaan buminya. Bisa juga ditelusuri bagaimana kehidupan mulai berevolusi.

Misteri ukuran

Di luar ”riwayat bersama” Bumi-Bulan, ada satu hal lain yang dapat menggugah kita mengenai Bulan, yaitu seputar terjadinya Gerhana Matahari Total (GMT), yang merupakan salah satu fenomena alam yang paling indah.

Saat GMT terjadi, tampaklah bahwa ukuran piringan Matahari dan Bulan demikian pas berimpit. Kalau ada sepercik sinar matahari bisa menerobos, itu karena ia lolos melewati permukaan Bulan yang bergunung-lembah.

GMT bisa terjadi karena kebetulan yang luar biasa. Matahari kurang lebih 400 kali lebih lebar, tetapi jaraknya juga 400 kali lebih jauh. Oleh karena itu, keduanya juga tampak sama ukuran di langit. Ini situasi yang amat unik di Tata Surya yang terdiri dari 8 planet dan 166 bulan yang sejauh ini diketahui. Bumi juga satu-satunya planet yang bisa menopang kehidupan. Apakah semua itu kebetulan murni? (New Scientist, 31 Januari 2009).

Di luar dugaan itu, kebetulan atau bukan, Bulan merupakan obyek yang berbeda asal-usulnya dibandingkan dengan bulan-bulan planet lain, seperti Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Jika Bulan kita diyakini tercipta karena Bumi ditumbuk benda langit besar, bulan-bulan planet luar tercipta dengan cara lain, yaitu dari penggumpalan material di medan gravitasi planet induk atau penangkapan benda kecil yang lewat oleh gravitasi planet.

Berkah Bulan

Dengan ukuran yang relatif besar itu, Bulan juga berperan besar dalam mendukung eksistensi kehidupan di Bumi. Ketika Bumi berpusing memutari sumbunya, ia cenderung untuk bergoyang bebas, kadang terpengaruh oleh tarikan Matahari juga. Ternyata, tangan gravitasi Bulan yang tak terlihat dengan halus meredam goyangan pusingan Bumi tadi. Ini mencegah instabilitas rotasi, yang kalau tak diredam bisa menimbulkan perubahan dramatik iklim. Instabilitas bisa membuat kondisi kondusif yang diperlukan untuk munculnya kehidupan di planet kita terganggu.

Tentu dukungan lain bagi kehidupan juga berupa posisi Bumi yang ada di zona tertinggali (habitable zone) di mana ada cukup banyak air cair. Namun, peranan Bulan, sekali lagi, tidak bisa diremehkan.

Akan tetapi, sejak terjadi impak yang melahirkannya, Bulan terus menjauh dari Bumi dengan laju sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun. Dinosaurus tidak melihat gerhana seperti kita karena Bulan pada kurun 200 juta tahun silam terlalu dekat, hingga ukurannya cukup besar di langit untuk menghalangi keseluruhan Matahari.

Namun, penghuni Bumi dalam tempo beberapa ratus juta tahun dari sekarang juga tidak akan melihat GMT sama sekali karena Bulan akan tampak terlalu kecil di langit.

Di sini tampaknya ada dua keberuntungan yang dinikmati oleh manusia sekarang ini. Pertama karena ada Bulan yang menjauh dari sejak saat terciptanya. Yang kedua, karena terjadinya evolusi kecerdasan kehidupan.

Oleh karena itu, tulis Marcus Chown di New Scientist, kalau beruntung, Anda bisa menyaksikan GMT dalam hidup Anda, pikirkanlah hal ini: bahwa Bulan besar itu boleh jadi alasan mengapa Anda ada. Itulah falsafah yang sarat dengan paham antropik bahwa kita ada adalah untuk menyaksikan semua keajaiban alam di depan kita.

Pengujung Ramadhan

Kini, ketika Ramadhan 1430 Hijriah semakin tua, Bulan dalam siklus mengelilingi Bumi telah mendekati posisi Bulan Baru saat posisi Matahari-Bumi-Bulan segaris. Menurut perhitungan astronomi modern, Bulan Baru itu akan jatuh pada tanggal 18 September 2009 pukul 18.45 Greenwich Mean Time, atau pukul 01.45 WIB tanggal 19 September.

Kita pun berharap, pada petang hari, 19 September, Bulan telah meninggalkan momen konjungsi dan Matahari-Bumi-Bulan sudah tidak segaris lagi. Artinya, bulan baru telah lahir… sehingga tak keliru apabila 1 Syawal jatuh tanggal 20 September 2009.

Demikianlah manusia belajar banyak dari Bulan dari masa silam, dan dari Bulan yang dekat itu pula masih ada banyak hal yang dapat kita pelajari.

Sumber : Kompas Cetak

Read more..

Tanggal 17 September, GG Bagikan Zakat


Reporter : Nanang Masyhari

Trenggalek, PrigiBeach

Kabag Binamitra Polresta Kediri Kompol Abraham Gurgurem, Senin (14/9/2009) sore mengungkapkan, managemen Pabrik Rokok PT Gudang Garam Tbk Kediri tidak akan memberikan zakat dalam bentuk uang secara luas.

"Berdasarkan surat resmi yang baru saja kami terima, managemen PT Gudang garam Tbk akan mengubah mekanisme pemberian zakat," ujar Kompol Abraham Gurgurem, dikonfirmasi PrigiBeach. Yang dimaksud merubah mekanisme yaitu, semua warga darimanapun asalnya tahun-tahun sebelumnya dapat menerima zakat dari pabrik rokok terbesar di Jawa Timur itu. Namun, sekarang tidak demikian. Gudang garam hanya akan memberi masyarakat tidak mampu di sekitar pabrik secara langsung. Sedangkan, pelaksanaan pemberian zakat itu akan dilakukan pada tanggal 17 September nanti.

Sementara itu, saat ditanya alasan PT GG dalam surat resmi yang dikirim ke Polresta Kediri, Kompol Abraham menegaskan, karena ingin mengutamakan keselamatan warga. Manajemen GG tidak ingin tragedi pemberian zakat yang berakhir kematian seperti di yang terjadi Pasuruan.

"Meski demikian, kami tetap akan melakukan pengamanan. Baik dengan pemantauan, maupun penjagaan langsung di lokasi. Ini dilakukan ntuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan," beber Abraham Gurgurem.

Terpisah, Bagian Humas GG Vidya Budi Rahayu saat dikonfirmasi melalui ponselnya belum bersedia memberikan komentar terkait hal itu. Bahkan, bagian humas lainnya, yaitu Nina memilih untuk mengelak memberikan keterangan.

Sekedar diketahui, setiap tahun, khusunya mendekati lebaran, PT Gudang garam selalu memberikan zakat. Masyarakat dari berbagai daerah selalu datang mengantre pemberian zakat tersebut.(nng/hazs)

Read more..

Hilang Saat Mencari Udang Laut di Perairan Munjungan


Perairan Munjungan, di sinilah tempat Giman hilang (dok. PerigiBeach.com)

Trenggalek, PrigiBeach

Di duga karena tenggelam di laut Blok Laut Kerajaan Masuk Ngulungkulon Kecamatan Munjungan , tepatnya laut pantai selatan , pria yang kesehariannya menjadi Nelayan tradisional ini tewas tanpa di ketahui jejaknya ketika sedang mencari “ Udang Laut “ sebagai mata pencahariannya setiap hari .

Giman ( 70) warga RT 19/ RW 03 Dsn Ngadi Desa Ngulung Kulon Kecamatan Munjungan ini kesehariannya mencari udang di laut tersebut sebagai mata pencaharian untuk menghidupi keluarga besarnya termasuk anak dan istrinya . Tapi naas pria tua ini kemarin Sabtu (13/09) menjadi bahan pencarian keluarga karena dirinya yang sudah di tunggu hasil jerih payah nya untuk makan keseharian itu tidak muncul-muncul datang ke rumah . Tak ayal seluruh keluarga Giman mencari kesana-kemari sampai akhirnya hanya menemukan di TKP sebilah sabit, baju warna putih ,serta celana pendeknya yang berwarna coklat.

Menurut keterangan sumber di Mapolres Trenggalek , Pria nelayan tersebut pergi dari rumahnya sekitar pukul 05.00 Wib . Pergi dengan pamitan untuk mengambil udang laut yang memang sudah dipasangi “WUWU “ (jebakan/jaring untuk mencari udang laut – Red) yang berlokasi tidak seberapa jauh dari rumah tinggal korban. Persisnya di Blok Laut Kerajaan Masuk Ngulungkulon Munjungan. Biasanya korban sudah pulang lagi ke rumah sebelum Maghrib tiba. Tapi lepas Maghrib saat keluarga sudah berbuka puasa bersama, pria tua ini tidak juga datang, akhirnya dalam pencarian jejak itulah keluarga hanya bisa menemukan pakaian dan alat sabit saja yang tertinggal di pinggir laut. Keluarga kemudian melapor ke Mapolsek setempat yang kemudian di teruskan ke Polres Trenggalek.

Beberapa sumber di TKP kepada wartawan menduga korban tewas tenggelam karena memang lokasi jaring atau “WUWU” tempat korban biasa memasang sangat curam dan dalam . “Ya, karena usia mbah Giman sudah tua mas , mungkin hilang keseimbangan atau sakit mendadak , sehingga beliau jatuh ke laut “ Ujar pria tetangga korban .

Kapolres Trenggalek AKBP Drs. Desmawan Putra, SH,MHum melalui Kabag Bina Mitra Kompol Jumadi menjelaskan jajarannya masih melakukan lidik atas peristiwa memilukan tersebut. “Kebenaran apakah ini murni kecelakaan atau ada unsur lain kita masih menyelidiki termasuk mengumpulkan data-data di lapangan sekaligus mencari jasad korban“ tandas Jumadi.

“Apapun yang terjadi nanti dengan diketemukannya korban kita secepatnya akan bisa menguak misteri hilangnya korban, apakah sudah tewas ataukah ada hal lain“ imbuh Jumadi sambil mengakhiri konfirmasi dengan wartawan di ruang kerjanya.(Haz)
Read more..

Pansus Dewan Baru Terbentuk, Guswanto Sekretaris


Trenggalek, PrigiBeach

Wacana alotnya pembentukan alat kelengkapan Dewan di DPRD Trenggalek Periode 2009-2014 agaknya mulai terkuak. Alasan kurang capable (mampu-red) pimpinan dewan sementara dalam memanage organisasi wakil rakyat di Trenggalek itu lambat laun mulai di jawab Pimpinan sementara DPRD Trenggalek S Akbar Abbas,SE MM. Padahal muncul keraguan masyarakat terhadap kinerja Abbas ketika terjadi demo LSM saat pelantikan beberapa waktu yang lalu.

Guswanto Ketua Fraksi PDI Perjuangan yang terpilih secara voting dalam pembentukan Pansus mengatakan tidak ada yang terlambat dalam mekanisme yang di tempuh di dewan saat ini . Alasan yang utama karena agenda yang harus di lakukan banyak hal termasuk mengikuti Pelatihan anggota Legislatif baru di Joya karta kemarin dan berakhir kemarin Sabtu ( 12/09) . “Senin ini kita sudah mengahsilkan keputusan baru yang bisa menjadi langkah awal dari melengkapi kebutuhan perangkat yang ada di DPRD , jadi mestinya kita harus lebih bersabar“ Ujar Pria asli Gembleb Pogalan ini ketika di temui di ruang kerjanya.

Di jelaskan juga yang menjadi Pimpinan Pansus adalah Drs Sukono yang dari F Karya Nasional yaitu Fraksi Gabungan antara Partai Golakar dan Partai Kebangkitan Nahdhatul Ummat (PKNU). Sedangkan wakil ketua di jabat oleh Samsul Anam,SH dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Ir. Husni Taher ,SE dari Paratai Patriot pancasila .
“alhamduliilah, dari PDI Perjuangan masih mendapat amanah untuk menjalankan fungsi-fungsi wakil rakyat, harusnya ini kita jalankan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat.” Tegas Wantek panggilan akrabnya Guswanto.

Menurut Wantek apa yang telah di sepakati hari ini sudah sesuai dengan surat keputusan DPRD Trenggalek No 13 Tahun 2009 dalam rangka membahas rancangan peraturan DPRD tentang Tata Tertib. “Hal ini akan menuju pada keputusan pengangkatan secara resmi Ketua dan Wakil Ketua Definif DPRD Trenggalek Periode 2009-2014 “ tambahnya Wantek.

Target pansus menurut Pria yang juga menjabat Wakil Bid. Organisasi DPC PDIP Trenggalek ini sebelum Lebaran ini sudah menuntaskan seluruh alat-alt kelengkapan DPRD. “ Walaupun kita juga harus menunggu PP tentang Tata-Tertib No 27 /2009 yang masih menunggu Petunjuk Teknis mapun Petunjuk pelaksanaan nya , tapi insya Alloh 80% tidak ada yang menyimpang dari apa yang kita lakukan hari ini. “ Imbunya meyakinkan.

Perlu di ketahui dalam pembentukan Fraksi dan telah di tetapkan dalam keputusan , fraksi DPRD Trenggalek Periode 2009-2014 terbentuk 6 Fraksi antara lain Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi Partai Kebangkitan bangsa, fraksi APRI, Fraksi Karya nasional, Fraksi Demokrat, Fraksi PKS.( Haz)

Read more..

TKI Trenggalek Sumbang Devisa Rp. 7,8 M



Foto : H. Soeharto, Bupati Trenggalek dan Kepala BNP2TKI Moh. Jumhur Hidayat

Trenggalek, PrigiBeach

Sabtu, (12/9) Bupati H. Soeharto menerima kunjungan tim Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Moh Jumhur Hidayat, dalam rangka Safari Ramadhan Ke-2 . Kesempatan silaturrakhmi ini dimanfaatkan oleh Bupati untuk menyampaikan harapan dan program Pemkab terkait masalah TKI. Soeharto bertekad untuk meningkatkan skill dan ketrampilan Tenaga Kerja Indonesia asal Kabupaten Trenggalek sehingga daerah ini lebih banyak menempatkan TKI skill dan ketrampilan, bukan melulu TKI sektor Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT).

“Peningkatan penempatan TKI formal ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemasukan bagi pemeritah daerah tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat Trenggalek. Saya berharap lulusan Sekolah Perawat bisa bekerja ke luar negeri,” pinta Bupati Trenggalek H. Soeharto. Menurut Bupati, dari animo warga Trenggalek untuk bekerja ke luar negeri cukup tinggi sampai saat ini tercatat jumlah TKI Trenggalek mencapai 2.472 orang, yang tersebar di delapan negara. Sedang Calon TKI yang kini mendaftarkan keberangkatan sebanyak 3.114 orang.

“50 Persen TKI Trenggalek menjadi TKI Penata Laksana Rumat Tangga (PLRT), 20 persen operator pabrik, 20 persen tukang kebun dan 10 persen jasa toko dan restaurant,” papar Bupati. Dari 2.472 TKI Trenggalek, kata H. Soeharto, remitansi tahun 2008 yang masuk menurut laporan Bank Indonesia mencapai Rp7,5 miliar.

Kepada Kepala BNP2TKI, Bupati berharap ada peningkatan penempatan TKI formal di masa mendatang. Apalagi di daerahnya kini terdapat 34.958 usia kerja yang masih menganggur. “Kami juga berharap lulusan Akademi Perawat di Trenggalek bisa bekerja di luar negeri,” kata H. Soeharto.

Menanggapi harapan Bupati Trenggalek, Moh Jumhur Hidayat , Kepala BNP2TKI mengatakan bahwa penempatan TKI formal memang merupakan prioritas badan yang dipimpinnya selama ini. Bahkan komitmen itu telah dicanangkan tahun 2009 ini sebagai tahunnya penempatan TKI formal. BNP2TKI telah membuka pasar kerja di banyak negara, baik negara tradisional, yaitu Timur Tengah Saudi dan Malaysia, maupun negara-negara baru seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Kanada dan Eropa. Oleh sebab itu, Jumhur berharap calon TKI asal Trenggalek supaya membekali diri dengan Bahasa Inggris yang baik.

Menjawab pertanyaan Suhardi, Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) Trenggalek, Jumhur mengatakan bahwa soal maraknya pemalsuan dokumen TKI seperti Kartu Tanda Penduduk, dan Kop Surat Kecamatan sudah merupakan persoalan di banyak daerah embarkasi TKI. “Selama kita belum mempunyai Standar Nasional Identitas Kependudukan (SIAK), maka pemalsuan dokumen akan terus berlangsung,” paparnya. Jumhur berharap program SIAK ini bisa berhasil dilakukan di tahun 2011, sehingga bisa mengatasi pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh para calo atau sponsor TKI selama ini.(Haz)

Read more..

Minyak Tanah Makin Langka


Trenggalek, PrigiBeach

Minyak tanah (mitan) di Kabupaten Trenggalek sampai kemarin Minggu (13/9) sejak memasuki Bulan Ramadhan, semakin langka saja. Jika pun ada harganya mencapai Rp 10 ribu perliternya. Sulitnya mitan di daerah ini merata, hampir di semua kecamatan, tidak terkecuali kecamatan Kota. Masyarakat di pedesaan utamanya yang tinggal di lereng-lereng sangat resah, akibatnya mereka harus memakai kayu bakar. Bulan Juni lalu, dropping kompor gas LPG sudah disalurkan pada sebagian warga, namun akibat kurangnya sosialisasi banyak warga yang masih awam tidak berani mempergunakan piranti ini untuk urusan masak-memasak, di samping karena harga gas LPG per-tabung mereka anggap masih tinggi. Banyak sekali masyarakat di pedesaan yang masih awam dan grogi menggunakannya. Mereka khawatir terjadi kebakaran seperti banyak kasus yang diberitakan media elektronik akibat kompor gas yang meledak.

Pendistribusian kompor elpiji yang dilakukan oleh 3 rekanan Pertamina yakni PT Intermedia Grafika, PT Spectra dan PT Pos Indonesia sudah mencapai 70% dari cacah RT yang ada hingga jumlah keseluruhan yang memperoleh mencapai lebih dari 153 ribu RTS. Pendistribusian dilaksanakan dalam satu paket, terdiri dari kompor, tabung gas plus isi, regulator dan selang secara bersama-sama dan tidak bertahap. Namun, hasil telusur pada beberapa agen elpiji di Kecamatan Karangan, Dongko, Pule, Panggul, Kampak dan Watulimo, menunjukkan mereka rata-rata setiap hari hanya melayani 7 tabung, ini tidak sebanding dengan jumlah kompor gas yang telah dibagikan oleh pemerintah. Menurut Sumadi (35), agen Elpiji di Dongko, masyarakat nampaknya masih enggan memakai elpiji, karena khawatir dan waswas. “Mereka masih menggunakan mitan dan kayu bakar. Bila mitan sulit ditemukan seperti sekarang, maka mereka mencari kayu bakar di lereng-lereng bukit,” katanya.

Sementara itu, para Kepala Desa yang warganya telah menerima kompor gas, mengatakan bahwa sosialisasi penggunaan kompor sangat minim, dan kesadaran warga belum memadai. “Kami hanya diberi tempo 5 hari untuk mendata RTS, dan selanjutnya tanpa ada sosialisasi ke masyarakat, seminggu kemudian dropping kompor datang” kata Sururi (31), Kades Sukowetan, Kecamatan Karangan.

Dengan makin langkanya mitan, akan berdampak kembalinya mereka “menyerbu” hutan di lereng-lereng bukit untuk mencari kayu bakar. Karena hasil telusur menunjukkan bahwa banyak warga RTS enggan mempergunakan elpiji, bahkan ada yang telah menjual jatah elpijinya dengan harga Rp.100 ribu. “Lah wong saya gak bisa pakainya, Mas, jadi ya saya jual aja. Saya biasa pakai pawonan,” kata bu Sominah (41) dari Dongko. Ibu tiga anak ini mengaku, bahwa banyak tetangganya yang juga tetap pakai pawonan. Apalagi pada saat mitan melonjak dari Rp. 7 ribu menjadi Rp. 10 ribu per-liter, seperti sekarang ini.(Haz).

Read more..

Kalung Emas Saudara Kades Ngares Diembat Sales Magic Com


Fahmi, tersangka di tahanan Polres (dok. PrigiBeach.com)

Trenggalek, PrigiBeach

Perbuatan MF (24) yang kesehariannya bekerja sales magic com ini tidak patut di tiru. Pasalnya Kemarin kamis (3/09) pemuda ganteng yang ber-KTP Jalan Kali anyar RT 006/RW 008 Kel. Kali Anyar Kec. Tambora Jak-Bar tersebut "Nyales nyambi ngutil" kalung emas milik calon pembelinya.

Katini ( 60) warga RT 15/RW 04 Desa Ngares Kecamatan Trenggalek yang juga masih saudara Kades siang itu sekira pukul 12.00 Wib kedatangan tamu yang bernama MF dan menawarkan ke ibu rumah tangga tersebut sebuah magicom. Ramah tamah pun terjadi antara Katini dengan Fahmi yang memang kelihatan perlente dan professional . Tidak menyadari akan musibah terjadi katini sempat menawari minuman kopi dan sempat pula dibikinkan kue goring oleh sang korban.

Suami katini pun juga sempat mengajak ngobrol kesana kemari tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Katini akhirnya berterus terang kepada tersangka kalau dirinya tidak punya uang untuk membeli Magicom yang ditawarkan. MF pria tampan berkulit kuning bersih ini tak kehilangan akal untuk perdayai korban. “Saya bilang kalau gak punya uang, bu Katini bisa bayar pakai perhiasan” Ujar MF ketika ditemui wartawan di sel Mapolres Trenggalek.

Tanpa menyadari Katini langsung mengambil kalung emas seberat 13 gram yang ada pada dompet korban. dompet tersebut di letakkan di lemari rumah korban. Tersangka dengan lihai juga melihat-lihat kalung tersebut , tapi entah kejadiannya seperti apa transaksi batal. Tidak lama kalung emas tadi dikembalikan korban ke tempat semula. Dan entah gimana caranya, tentunya memanfaatkan kelengahan korban, kalung emas milik korban telah pindah tangan ke tersangka. “Saya ambil sewaktu bu Katini masak ke dapur dan saya masukkan ke saku” Ujar tersangka polos.

Pikul 14 .15 Wib tersangka pergi dari rumah Katini dengan alasan mau menawarkan ke tempat lain. Awalnya katini tidak curiga, tetapi ketika melihat pintu lemari tidak seperti semula sewaktu dia menaruh dompet, bergegaslah korban melihat dompet dan ternyata barang tersebut sudah tidak berada di tempat. Langsung saja Katini teriak ke rumah Kades Ngares Ahmad Tohar yang kebetulan masih saudara dan rumahnya berdampingan dengan rumah korban. Tanpa banyak alasan Tohar langsung memboncengkan Katini mencari MF dan dijumpai tidak jauh dari TKP MF langsung diamankan kades dan Mengakui segala perbuatannya.

Kapolres Trenggalek Drs. Desmawan Putra SH,M.Hum melalui Kabag Bina Mitra Kompol Djumadi membenarkan kejadian tersbut. Fahmi yang berijazah SMP itu terancam pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.(Haz)


Read more..

Barang Bukti Sepeda Motor Di Mapolres Menumpuk

Seorang anggota Polres Trenghgalek, menunjukkan tumpukan BB Sepeda Motor

Trenggalek, PrigiBeach

Spanduk pengumuman besar terpampang di halaman parkir timur Mapolres Trenggalek , seolah menjadi penjaga ratusan sepeda motor yang menjadi sitaan giat Polres Trenggalek dalam beberapa tahun ini. Police line warna khas kuning mencolok melingkar pada ratusan sepeda motor BB tersebut dengan kondisi yang sudah tidak terawat serta memprihatinkan.

Bintara Tahanan dan Barang Bukti ( Batahti ) Polres Trenggalek Briptu David HN ketika akan di konfirmasi wartawan mengenai status Barang Bukti ratusan sepeda motor itu tidak sedang di tempat ,bahkan wartawan mencoba menghubungi melalui ponselnya juga tidak bisa. "Ini penting untuk di sebarluaskan pada masyarakat, Mas “ Cletuk salah satu anggota Reskrim jaga siang itu Jum”at ( 11/ 09) .

Sepeda motor tak bertuan tersebut dari banyak jenis maupun merk . Bahkan terlihat ada merk Honda laki-laki keluaran terbaru juga bernasib sama dengan jenis dengan keluaran tahun yang lebih lama . rata-rata catnya sudah banyak yang mengelupas dan assesori kendaraan itupun banyak yang sudah tidak menempel.

Dalam papan banner pengumuman tersebut masyarakat di harapkan mengambil apabila merasa memiliki Barang bukti itu, tentunya dengan membawa kelengkapan yang bisa membuktikan kepemilikan dari barang-barang tersebut. “ Ya, Mas, eman-eman dari pada di sini kepanasan dan kehujanan “ Celetuk tukang parkir mapolres yang tempatnya berdekatan dengan halaman untuk tempat Barang-Bukti tersebut. ( Haz)

Read more..

Seorang Ibu Ajak Anak Minum Racun Tikus

  • Lebaran Serba Minim, Ibu di Blitar Ajak Anak Minum Racun Tikus
Reporter : Nanang Masyhari

Trenggalek, PB.Com

Ketenangan warga Dusun/Desa Minggirsari RT 1/RW 5, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar terusik. Setelah, terdengar kabar kematian Wiji Utami (27), warga setempat setelah meminum racun tikus merk timex. Yang sangat mengenaskan, aksi bunuh diri ibu rumah tangga (RT) itu dilakukan bersama Danang Wahyu, anak semata wayangnya yang masih berusia 8 tahun. Utami tidak mampu bertahan saat perjalanan ke RSUD Mardi Waluyo, Blitar. Sementara, Danang berhasil diselamatkan, meski kini masih tidak sadarkan diri, dengan mulut berbusa. Danang yang kini masih duduk di bangku kelas II sekolah dasar (SD) itu masih terkulai lemah, dan menjalani perawatan intensif di RSUD Mardi Waluyo Blitar.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi dari para tetangganya korban, perbuatan nekat Utami itu terjadi Kamis (10/9/2009) sore. Bermula, ketika warga yang sempat mencuriga rumahnya karena terus tertutup, menemukan istri dari Triman (27) alias Gendut dan anaknya dalam keadaan terkapar di kamarnya.

Saat kejadian berlangsung, suaminya pergi bekerja sebagai kuli bangunan di Srengat. Warga pun langsung menolong keduanya, lalu mebawanya ke rumah sakit. Sayang, Utami tidak mampu bertahan, sedangkan Danang masih dapat diselamatkan.

Menurut keterangan Sutinem (48), ibu dari Utami (korban, red) mengaku sempat dicurhati oleh anaknya mengenai kesusahan hidupnya. Keterbatasan ekonomi yang tengah dialami anaknya, imbuh Sutinem termasuk persiapan lebaran mendatang. Bahkan, korban kerap bertengkar dengan suaminya, ketika membahas masalah ekonomi.

“Omongan tidak enak sedikit membuat mereka mudah bertengkar dalam keadaan hidup berkekurangan. Apalagi sekarang hendak lebaran. Sudah seminggunan, mereka pisah ranjang. Utami sempat mengungsi ke rumah neneknya, Sementara suaminya hidup bersama Danang, “ ujar Sutinem Jumat (11/9/2009).

Lebih lanjut dikatakan Sutinem, selama pisah ranjang, anaknya mengaku selalu dilarang Triman untuk menemui anaknya (Danang). Yang sangat disesalkan lagi, Utami tidak diperbolehkan memberi sesuatu apapun kepada Danang.

Triman yang ditemui di RSUD Mardi Waluyo mengaku mengetahui secara persis kejadian tersebut. Triman hanya dihubungi oleh tetangganya untuk segera pulang. Tiba di rumah, Triman langsung terjatuh dan tak sadarkan diri, setelah melihat istrinya terbujur kaku tak bernyawa.

Triman membenarkan jika sebelum musibah itu terjadi ia dengan istrinya terlibat pertengkaran. Menurut Triman, cekcok itu dipicu niat korban hendak menjual instalasi listrik rumah mereka. "Saya larang saat Utami hendak menjual instalansi listrik 900 watt sebesar Rp 2 juta untuk menutup kebutuhan hidup, termasuk persiapan lebaran. Akhirnya, kita berdua bertengkar," ungkap Triman

Kapolsek Kanigoro AKP Rusmin mengatakan masih melakukan penyelidikan termasuk mengumpulkan keterangan saksi dan bukti. "Dugaan awal bunuh diri korban bermotif ekonomi. Namun kita masih terus melakukan pengembangan penyelidikan termasuk juga akan kita mintai keterangan suaminya, “ pungkas AKP Rusmin. (nng/Haz)
Read more..

Ibu RT Pinggirsari, Karangan Jual Miras, di Garuk Polisi


AKP Syaful Rokhman, SH. (Dok. PrigiBeach.Com)


Trenggalek, Memo

Operasi Pekat (Penyakit Masyarakat) yang digelar Polres Trenggalek di bulan Ramadhan ini berlangsung estafet dan berkesinambungan. Pada sepuluh hari kedua operasi dilaksanakan di daerah Kecamatan Karangan dan Suruh dengan personil lengkap. Polisi berhasil menggerebek pedagang miras yang ada di wilayah tersebut.

Sutini, 41, warga RT 16 RW 04 desa Pinggirsari Kecamatan Karangan, tidak berkutik ketika petugas Polres pimpinan Briptu Jainul menggeledah warung miliknya. Sebelas botol miras diangkut oleh polisi sebagai BB.

Kapolres Trenggalek AKBP Drs. Desmawan Putra, SH, M.Hum, melalui Kasat Reskrim Trenggalek AKP Syaiful Rokhman, SH, mengatakan bahwa operasi Pekat bulan Ramadhan ini sudah berhasil menyeret banyak tersangka dan ratusan barang bukti miras. “secepatnya nanti kalau operasi ini sudah selesai, kami akan berikan data kepada media untuk disebarluaskan kepada masyarakat” katanya.

Operasi kemarin Rabu (9/9) sekitar pukul 20.30 polisi berhasil menyita 9 botol anggur merahap Orang Tua 650 ml, 1 botol anggur putih Cap Orang Tua 620 ml serta 1 botol anggur ketan hitam cap Orang Tua 620 ml berada di dalam warung Sutini. Tersangka akan dijerat pasal 6 ayat 1, Perda No. 9 / 1988 jo. Pasal 1 Perda No. 1 / 1996 jo. Pasal 2 Permenkes No. 86/Menkes/1997 dikarenakan tersangka menjual tanpa ijin.(Haz)
Read more..

H. Soeharto Safari Ramadhan di Sukowetan



Foto: (1) Bupati Soeharto saat membuka Lomba Tabuh Bedug;


(2) Lurah Sukowetan dan Sekdesnya,

(3) Jalan Desa Akses ke SMPN 3 Karangan, lebar aspal tikungan ditambah
(dok.: PrigiBeach.com)

• Jalan Penghubung SKPD dan Ekonomi Adalah Prioritas Pembangunan Infrastruktur di Desa-Desa

Trenggalek, PB.com

Selama Bulan Suci Ramadhan tahun ini, Bupati H. Soeharto menetapkan 3 agenda “silaturrahmi-publik”, yang pertama adalah lomba Tabuh Bedug tanggal 22-30 Agustus, namun meski lomba sudah usai kegiatan tabuh bedug berlangsung terus hingga hari Lebaran, yang kedua adalah bazar –pasar murah- yang dibuka sampai menjelang lebaran tiba. Kedua agenda tersebut dilaksanakan di depan Pendopo Agung Trenggalek, di jalan Pemuda. Agenda ketiga ialah safari silaturrahmi ke 14 kecamatan. Safari Ramadan ini dimulai Selasa (25/8) dan akan berakhir Kamis (17/09) mendatang.

Rabu (9/9) kemarin giliran masyarakat Kecamatan Karangan menerima kunjungan Bupati Soeharto, di tempatkan di Masjid Al-Huda, dusun Suru, Desa Sukowetan. Kemarin, tepat pukul 16.00 kurang 9 menit, diiringi kepala SKPD, muspida dan para Camat se-Kabupaten Trenggalek – H. Soeharto tiba di lokasi. Selain rombongan dari Pemkab, hadir pula kepala UPT, Ulama dan Kades se-kecamatan itu, serta seluruh tokoh Desa Sukowetan. Panitia sedikit jengah karena undangan dari tuan rumah ternyata belum hadir sementara Bupati dan rombongan telah tiba sesuai jadwal pukul 16.00 (WIB).

Menurut Joko Setyono Kabag Humas Pemkab Trenggalek, biasanya usai ceramah dilakukan diskusi atau dialog dengan warga, itulah sebabnya pejabat Tehnis juga dihadirkan. Namun kali ini dialog ditiadakan, karena Bupati ingin menyampaikan rasa terima kasih pada masyarakat Kecamatan Karangan yang telah memberikan partisipasi aktif dan konsisten dalam mendukung program Pemkab sekaligus membeberkan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan Pemkab hingga tahun 2010 bagi masyarakat dan wilayah Karangan .

H. Soeharto juga menyinggung tentang keharusan warga untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan utamanya menyangkut kebiasaan untuk berpola hidup sehat. Selanjutnya dia bertekad untuk konsisten meneruskan pembangunan infrastruktur pertanian serta jalan penghubung SKPD dan jalan penunjang perekonomian di desa-desa khususnya yang ada di Kecamatan Karangan. “Pemkab menyadari akan pentingnya infrastruktur jalan bagi penunjang laju perekonomian masyarakat pedesaan dan roda pemerintahan. Oleh sebab itu jalan penghubung antar SKPD dan penunjang ekonomi menjadi prioritas pembangunan infrastruktur di desa-desa”, katanya. “Dalam hal itulah, antara lain saat ini di Desa Sukowetan sedang dilakukan pengaspalan jalan demi mempermudah akses masyarakat menuju ke SMP Negeri 3 Karangan”.

Jalan yang dimaksud H. Soeharto adalah jalan desa yang menjadi jalur utama penghubung antara desa Sukowetan-Jatiprahu-Sumberingin (ke Utara) dan desa Sukowetan-Mlinjon-Karangan (ke Selatan). Pengaspalan jalan dikerjakan oleh CV Kanjeng Jimat Trenggalek, dengan volume 2.500 meter kali 3 meter, alokasi dana senilai Rp. 489 juta. Menurut masyarakat Sukowetan, pengerjaan jalan oleh CV Kanjeng Jimat ini cukup baik dan nampaknya lebih berkualitas dibanding pengaspalan jalan sebelumnya. “Pak Sukadi (direktur CV Kanjeng Jimat/red) sangat komunikatif dan selalu merespons keinginan masyarakat sesuai dengan spesifikasi proyeknya”, kata Kidi Prawoto, Ketua LMDH Desa Sukowetan.

Seusai acara Buka bersama, rombongan Bupati meluncur pulang melalui jalan tersebut. Menurut Drs. Sunani LS - Camat Karangan, pemkab akan mengkaji aspirasi masyarakat untuk secepatnya melanjutkan pengaspalan jalan ini hingga menembus desa Mlinjon dan Karangan. “Itu bukan hanya keinginan masyarakat, namun juga kepentingan pemerintah. Insyaallah masalah ini akan kami ajukan dalam PAK tahun 2009”, katanya, sambil menambahkan bahwa peserta yang menghadiri safari Ramadhan di Desa Sukowetan, Kecamatan Karangan jauh lebih banyak dibanding dengan di kecamatan lain. Selain tuan rumah, diperkirakan yang hadir lebih dari 300 tamu dengan kendaraan roda empat yang dihitung oleh Panitia sebanyak 31 buah.(Haz)

Read more..

Robohkah Pengadilan Kami?



Rabu, 9 September 2009 | 05:24 WIB

Febri Diansyah

Rapat Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi justru dimulai dengan kontroversi (25-29/8).

Persidangan yang tertutup, pemilihan lokasi agar jauh dari mata publik, dan perdebatan ”tak perlu” kian menumbuhkan keraguan publik. Padahal, jika RUU ini tidak berhasil disetujui DPR, lengkaplah catatan kelam lembaga ini. Sementara, waktu amat sempit. Masa tugas DPR akan berakhir 30 September 2009.

Legislator ortodoks

Ulah DPR ini bukan kali pertama. Istilah yang tepat mengacu pembentukan produk hukum ortodoks, tepatnya saat suara masyarakat dianggap tidak ada atau dikesampingkan. Hal ini dapat dibaca dari rezim antitransparansi, ketertutupan dari akses publik, serta resistensi DPR terhadap kritik dan masukan.

Dalam terma lebih ekstrem, perilaku itu merupakan pengembangan l’etat c’est moi (negara adalah saya). Kekuasaan politik ortodoks di DPR dan pemerintah mendaku, kamilah pemilik negara, bukan Anda di jalanan.

Jika praktik ini dilakukan serampangan dan membentur putusan Mahkamah Konstitusi, level ortodoks mencapai kesempurnaannya. Fenomena ini terbaca saat sejumlah anggota DPR mengatakan hal yang bertentangan dengan perintah MK.

Dikatakan, pemeriksaan kasus korupsi dapat dilakukan di pengadilan umum. Jika DPR gagal menyelesaikan hingga akhir masa sidang, perppu penyelamatan pemberantasan korupsi tak perlu diterbitkan.

Pernyataan yang menyesatkan itu berlawanan dengan putusan MK No 012-016-019/PUU-IV/ 2006. MK justru menegaskan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) konstitusional. Argumentasinya berangkat dari dualisme pemeriksaan kasus korupsi di pengadilan umum dan Pengadilan Tipikor sebagai sesuatu yang bertentangan dengan UUD 1945. Dengan demikian, ke depan seharusnya hanya ada satu lembaga peradilan. MK menulis dengan bahasa amat jelas bahwa Pengadilan Tipikor merupakan satu-satunya lembaga yang boleh memproses kasus korupsi. Karena itu, MK lalu memerintahkan DPR dan presiden menyusun UU Pengadilan Tipikor secara terpisah dari UU KPK.

Dengan kata lain, putusan itu sebenarnya meneguhkan tafsir konstitusionalitas MK yang lebih memilih ”membuang” kewenangan pengadilan umum. Lantas, bagaimana mungkin DPR boleh melecehkan putusan MK?

Hakim ”ad hoc”

Selain pengadilan umum, salah satu titik krusial RUU yang ingin dirusak adalah hakim ad hoc. Padahal, komposisi hakim ad hoc yang lebih dominan merupakan upaya nyata menempatkan masyarakat nonyudisial dalam peradilan secara langsung.

Kehendak di balik internalisasi hakim ad hoc itu adalah penempatan nilai ”keadilan sosial” dalam institusi peradilan konvensional yang telah rapuh. Sebab, ketidakpercayaan publik terhadap kinerja hakim karier selama ini tentu tak bisa diperbaiki dalam waktu semalam.

MA boleh-boleh saja mengatakan telah menyelenggarakan pendidikan hakim karier khusus korupsi. Namun, fakta di sejumlah pengadilan tetap menunjukkan potret sebaliknya. Bagaimana MA bisa jelaskan ratusan terdakwa kasus korupsi yang divonis bebas/ lepas dari tahun ke tahun? Jika di satu sisi MA bicara komitmen pemberantasan korupsi, di sisi lain vonis bebas/lepas dijatuhkan untuk 812 dari 1.643 terdakwa korupsi dari tahun 2005-Juli 2009. Bahkan, terobosan hukum yang menyesatkan pun sering dilakukan. Vonis percobaan dan hukuman di bawah satu tahun merupakan contoh nyata.

Paradoks inilah yang tak mampu dijawab MA atau hakim mana pun. Karena itu, perang terhadap korupsi membutuhkan keluarbiasaan yang sistematis (systematic extraordinary). Solusi terhadap rendahnya kepercayaan publik adalah dengan melakukan penyegaran dan internalisasi nilai melalui perubahan aktor penentu keputusan. Hakim ad hoc yang dominan merupakan jawaban paling masuk akal. Untuk meminimalkan potensi hakim bermasalah, maka proses seleksi yang terbuka, tidak sepenuhnya ditentukan MA, melibatkan andil publik menjadi keniscayaan.

Persoalan hakim ad hoc ini pun bukan hal baru. Beberapa lembaga pengadilan khusus telah jauh- jauh hari menerapkannya. Misalnya, Pengadilan Anak, Niaga, HAM, Pajak dan Pengadilan Hubungan Industrial. Jika MA ingin melihat lebih positif dan tidak resisten dengan ”darah baru” di institusinya, sebenarnya keberadaan hakim ad hoc justru akan meringankan tugas penegakan hukum. Kecuali, para hakim menganggap proses pemeriksaan di persidangan, khususnya korupsi, merupakan lapak/jualan yang memberi keuntungan pribadi. Karena itu, jika ditangani ”orang luar”, status quo akan mengalami kerugian. Paradigma ini merupakan cacat mendasar kekuasaan yudisial.

Jika dicermati, keberadaan hakim ad hoc dalam Pengadilan Tipikor justru menepis banyak teori dan persepsi tentang mafia peradilan. ICW pernah melakukan riset sistematis tentang modus judicial corruption yang terjadi hingga tahun 2002. Ditemukan setidaknya enam karakter utama praktik korupsi di sektor yudisial ini. Mulai dari pemerasan oleh hakim, tawaran suap, majelis favorit, pengaburan administrasi perkara, surat sakti, hingga pemanfaatan advokat tertentu sebagai makelar. Potret hitam dunia peradilan inilah yang ternyata mampu dipatahkan Pengadilan Tipikor. Dari pertama kali terbentuk, belum sekalipun ada isu suap terhadap hakim. Dan, tak satu pun koruptor bisa meloloskan diri.

Fenomena tahun 2002 itu ternyata masih berlangsung hingga kini. Pusat Studi Anti (PuKAt) Korupsi FHUGM telah meluncurkan buku Robohnya Pengadilan Kami. Terbukti, modus judicial corruption bukan hanya masih eksis, tetapi berkembang dan terus tumbuh. Tesisnya, mafia peradilan masih tumbuh dan menjalar di pengadilan umum.

Sastrawan AA Navis pernah menulis Robohnya Surau Kami (November 1986). Seperti surau, Pengadilan Tipikor juga tak boleh roboh, baik dalam arti benar-benar dimatikan atau sekadar ada secara formal tetapi kehilangan substansi. Jangan coba-coba robohkan pengadilan kami, tuan koruptor.

Febri Diansyah Peneliti Hukum; Anggota Badan Pekerja ICW

Read more..

Check Out

Blog Sahabat Saya

Recent Posts