> Prigibeach Trenggalek

Trenggalek : Soeharto Angkat Pacul, Awali Pembangunan Jalan Karanggandu-Sawahan



Trenggalek (prigibeach.com) - Setelah melakukan peninjauan lokasi bencana banjir di Kecamatan Munjungan, Bupati Trenggalek, H. Soeharto, beserta rombongan langsung menuju Dusun Karangsono, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Jumat 7 Mei 2010. Kedatangan Bupati di Desa Karanggandu ini adalah untuk memulai pembukaan jalan tembus yang menghubungkan Dusun Karangsono, Desa Karanggandu dengan Dusun Tenggong, Desa Sawahan, Kecamatan Watulimo.

Kepala Desa Karanggandu, Siswoyo, S.Pd, melaporkan bahwa jalan tembus yang menghubungkan dua desa ini memiliki panjang 1.300 meter, dan rencananya akan dibuat dengan lebar empat meter. Dengan adanya jalan tembus warga Karanggandu yang terkenal sebagai petani durian dapat dengan mudah memasarkan hasil-hasil pertaniannya, khususnya buah durian. Dengan kemudahan akses jalan tersebut, maka secara langsung akan meningkatkan perekonomian masyarakat. Saat ini warga Karanggandu jika bepergian harus menempuh jalan yang jauh dan melingkar dengan kondisi yang cukup sulit.

Selanjutnya, Siswoyo, S.Pd mewakili warga Desa Karanggandu, berharap nantinya jalan tembus tersebut mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten sehingga, tidak hanya makadam namun juga diaspal.

Menanggapi permintaan warga tersebut, Bupati Trenggalek, H. Soeharto, berjanji berusaha mewujudkan keinginan warga Karanggandu tersebut. Bupati berpesan agar masyarakat menggunakan dan memelihara jalan tersebut dengan baik, demi kepentingan dan kesejahteraan bersama.

Belajar dari pengalaman berbagai bencana yang baru saja terjadi di berbagai wilayah Trenggalek, Bupati mengajak kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya. "Jangan hanya mau menebang, tapi juga harus mau menanam," kata Bupati mengakhiri sambutannya.
humas/hab

Read more..

Trenggalek : Empat Desa di Trenggalek Terisolasi



Trenggalek (prigibeach,.com)
- Ribuan warga Trenggalek, Jawa Timur, Sabtu (8/5) pagi, membersihkan sisa-sisa material yang hanyut terbawa banjir bandang. Lambannya penangan pemerintah setempat mengakibatkan empat desa di Kecamatan Munjungan, terisolasi. Sementara kerugian material akibat banjir bandang mencapai miliaran rupiah.

Banjir bandang yang disertai meterial kayu yang terjadi pada Rabu (5/5) malam mengakibatkan puluhan rumah di Trenggalek hancur dan rusak. Kini hanya ada puing-puing bangunan dan sampah material kayu yang tersisa.

Warga korban banjir di Kecamatan Pogalan dan Munjungan, Trenggalek, membersihkan puing-puing material kayu. Desa-desa yang terisolasi di antaranya Desa Craken, Ngulung Kulon, Ngulung Wetan, dan Sobo. Kini aktivitas perekonomian di Kecamatan Munjungan lumpuh total.

Saat ini banjir menggenangi 19 desa, sebanyak 385 rumah kepala keluarga atau sebanyak 3013 jiwa terendam. Selain merusak rumah, banjir juga merusak sembilan jembatan hingga terputus. Sejumlah ruas jalan tidak dapat dilalui. Kerusakan beberapa infrastruktur bangunan diperkirakan mencapai Rp15 miliar.

Saat ini warga trauma dan mengungsi ke rumah tetangga dan keluarga. Sementara warga korban banjir masih berharap bantuan makanan.(metroTV)

Read more..

Trenggalek : Banjir, 4 Tewas, Belasan Luka-luka


Trenggalek (prigibeach.com) - Hujan yang mengguyurKota Kripik Tempe (Trenggalek, Jawa Timur), sejak Rabu (5/5), telah mengakibatkan ribuan (bukan hanya ratusan!) rumah di Trenggalek terendam air. Bahkan 4 warga ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan, sementara belasan lainnya menderita luka ringan.

Empat korban tewas masing-masing bernama Yatemi, 70; Ropingah, 35; Muji, 85; dan Tambir, 85. Sementara, sedang korban luka-luka dua di antaranya bernama Poniran dan Yadi. Empat korban tewas merupakan warga dusun KayuJaran, Desa Gembleb,Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Mereka diduga tewas setelah terseret banjir setinggi dua meter yang datang dari arah lereng Gunung Rajeg Wesi.

Sejauh ini, Tim Search and Rescue (SAR) Kabupaten Trenggalek baru berhasil menemukan dua jasad korban tewas Yatemi dan Ropingah, sementara dua lainnya masih dalam pencarian."Sebagian warga tidak sempat menyelamatkan diri saat air bah melanda," papar Kepala Seksi Penanggulangan Bencana Kantor Kesbangpol Linmas Kabupaten Trenggalek, Maryono, kemarin.

Banjir di Kabupaten Trenggalek melanda ribuan rumah warga yang berada di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Trenggalek, Munjungan, Pogalan, Gandusari, Durenan, Kampak, dan Kecamatan Bendungan. Paling parah terjadi di Kecamatan Munjungan, karena ribuan rumah warga di enam desa terendam dengan ketinggian dua meter, bahkan mencapai atap rumah.

"Ketinggian banjir enam desa di Kecamatan Munjungan mencapai dua meter, masing-masing Desa Karangturi,Munjungan, Tawing,Masaran,Craken,dan Desa Bendoroto," tandasnya. Banjir yang terjadi sekitar pukul 15.00 WIB itu juga menyebabkan sejumlah tebing longsor hingga menutup ruas jalan yang menghubungkan antardaerah di kabupaten tersebut.

"Curah hujan yang turun di Kecamatan Munjungan memang sangat tinggi,"ungkapnya. Selain hujan deras, kata Maryono, luapan sungai yang berada di Kabupaten Trenggalek juga memperparah musibah tersebut."Hujan deras yang terjadi sejak Rabu (5/5) siang hingga malam hari menyebabkan Sungai Ngasinan dan sungai-sungai lainnya yang berada di tujuh kecamatan meluap," ujar Maryono.

Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana Kabupaten Trenggalek telah melakukan sejumlah tindakan tanggap darurat terhadap korban banjir. Bahkan Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah menetapkan status Siaga I dalam penanganan musibah banjir.

"Sejumlah petugas dari Tim SAR telah melakukan evakuasi terhadap para korban banjir.Sekarang kami masih melakukan pemantauan di lokasi bencana," papar Maryono.

Maryono mengaku, pada tahun 2006 lalu musibah serupa pernah melanda Kabupaten Trenggalek hingga menewaskan 27 orang, serta ratusan hewan ternak hilang terseret banjir. Bupati Trenggalek Soeharto ketika dihubungi melalui selulernya mengatakan terus memantau proses penangguklangan dan melakukan pendataan terhadap warga yang menjadi korban banjir.

"Kerugian yang disebabkan banjir belum diketahui. Yang terpenting,semua warga bisa diselamatkan terlebih dahulu, saya sudah memerintahkan pada Tim Basarnas untuk mengerahkan semua kemampuannya," tandas Soeharto.

Proses penemuan jasad korban tidak sekaligus. Pertama kali ditemukan adalah mayat Yatemi dan Ropingah, dua korban terakhir yang sempat dinyatakan hilang, yakni Muji (85) dan Tambir (70), jenazahnya dievakuasi, Kamis (6/5/2010) pagi, kondisi korban tersangkut tumpukan material bangunan serta kayu yang hanyut terbawa arus air.

"Seluruh korban tewas berjumlah empat orang. Dua korban terakhir ditemukan sekitar pukul 07.00 WIB dengan sebagian tubuh tertimbun lumpur dan material kayu," kata salah seorang tokoh warga Desa Gembleb, Guswanto aktivis PDI-P.

Dia menuturkan, proses pencarian korban sempat menemui kesulitan. Hal itu disebabkan kondisi di sekitar lokasi bencana yang rusak parah, sehabis diterjang air bah dari lereng Gunung Rajekan Wesi yang berada persis di sisi timur pemukiman penduduk di Dukuh Kayu Jaran, Desa Gembleb. Sedikitnya tujuh rumah hancur, rata dengan tanah, sementara tiga rumah lain rusak parah.

Ketinggian air saat bencana terjadi dilaporkan mencapai dua meter lebih. Hujan yang mengguyur kawasan perbukitan ini sejak Rabu (5/5/2010) mulai pukul 17.00 WIB, turun begitu deras, sehingga menyebabkan Sungai Sabuk yang melingkari Gunung Rajeg Wesi meluap. Pohon-pohon besar di lereng gunung tumbang dan terbawa arus banjir hingga ke pemukiman penduduk.

Banjir yang datang tiba-tiba ini membuat warga panik. Beberapa warga mengaku sempat terpana saat menyaksikan air Sungai Sabuk mulai meluap.

"Sebagian mencoba kabur, tapi terlambat," kata Saridi, salah satu korban yang rumahnya mengalami rusak ringan.

Kerugian Miliaran rupiah

Kerugian akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Trenggalek tersebut ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Kabag Humas Pemkab Trenggalek, Yoso Miarso belum mengkonfirmasi berapa kerugian materiil akibat bencana tersebut.

Namun, Bupati Trenggalek, Soeharto memperkirakan, jika melihat banyaknya rumah dan infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak parah akibat terjangan banjir bandang Rabu sore (5/5), besar kemungkinan kerugiannya mencapai miliaran rupiah.

Apalagi, kerusakan tidak hanya terjadi pada pemukiman penduduk, banjir akibat luapan air beberapa sungai utama di Trenggalek itu juga menyebabkan ribuan hektare lahan pertanian dan perkebunan warga tergenang air, dan dipastikan gagal panen.

Data terbaru versi satuan pelaksana penanggulangan bencana (Satlak PB) Kabupaten Trenggalek, banjir bandang yang dilaporkan mulai terjadi antara pukul 16.00 hingga 18.30 WIB tersebut telah merendam sedikitnya 885 rumah warga.

Bencana tidak hanya terjadi di Kecamatan Pogalan dan Munjungan, tetapi juga melanda beberapa kecamatan lain seperti Kecamatan Durenan, Gandusari, Kampak, Bendungan serta Trenggalek (kota).

Total desa terendam banjir sebanyak 22 desa. Kerusakan paling parah terutama terjadi di Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan, serta delapan desa di Kecamatan Munjungan.

"Di Munjungan beberapa jembatan dilaporkan roboh, sehingga menyebabkan jalur Munjungan-Trenggalek serta Munjungan-Panggul putus total," papar Yoso mengungkapkan.

Pihak pemerintah daerah saat ini masih terus berupaya melakukan evakuasi. Sejumlah peralatan berat dikerahkan untuk menyingkirkan material longsoran tanah yang menutup ruas-ruas jalan di Munjungan maupun Bendungan.

Bantuan pangan berupa sembako dan obat-obatan juga telah dikirim. "Warga saat ini masih terus bahu-membahu menyingkirkan material longsoran serta membersihkan rumah warga yang roboh ataupun rusak akibat banjir sore kemarin," kata Guswanto, tokoh warga Desa Gembleb yang siang tadi terlihat ikut membantu kerja bakti di lokasi bencana. (hab)
Read more..

Trenggalek : Gelar Upacara Hardiknas dan Hari Otda


Trenggalek (prigibeach.com) - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh tiap tanggal 2 Mei dan Hari Otonomi Daerah (Otoda) yang diperingati tiap tanggal 25 April ditandai dengan Upacara Bendera yang diselenggarakan pada Senin, (3/5), di Halaman Pendopo Kabupaten Trenggalek. Bertindak selaku Inspektur Upacara, Bupati Trenggalek H. Soeharto.

Dalam sambutannya Bupati Soeharto menjelaskan bahwa dalam konteks otonomi daerah, pelimpahan wewenang pengelolaan pendidikan dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah digagas dan diawali dengan diberlakukannya UU Nomor 22 Tahun 1999 dan disempurnakan dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, yang berisi tentang penyerahan sejumlah wewenang yang semula menjadi urusan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah, termasuk di dalamnya pengelolaan bidang pendidikan. Pelimpahan wewenang ini diteruskan dengan dikeluarkan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang bertujuan memberdayakan dan meningkatkan kemampuan perekonomian daerah, menciptakan sistem pembiayaan yang adil, transparan dan bertanggung jawab.

Adanya UU Otonomi Daerah dan UU Perimbangan Keuangan Pusat Daerah ini semakin membantu dan memberi kesempatan kepada Pemerintah Daerah untuk seluas - luasnya mengelola pendidikan sebaik mungkin. Realisasi dari UU ini tentunya mengarah pada tanggung jawab Pemerintah Daerah yang semakin meningkat dan semakin luas, termasuk dalam manajemen pendidikan. Pemerintah Daerah dengan legitimasi UU ini diharapkan senantiasa meningkatkan kemampuannya dalam berbagai tahap pembangunan pendidikan, sejak mulai tahap perumusan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan sampai pada tingkat pengawasan di daerah masing - masing sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional.

Dan terkait dengan dunia pendidikan, lanjut Bupati Soeharto, Hardiknas merupakan hari yang mempunyai makna bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, utamanya para pendidik dan tenaga kependidikan serta peserta didik, baik jalus pendidikan formal, non formal maupun informal. Demikian pula dengan Hari Otoda yang telah ditetapkan dengan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1996 juga patut kita kenang dan kita hargai.

Oleh karena itu, ada tiga makna penting yang perlu kita pahami dalam peringatan Hardiknas dan Hari Otoda kali ini yakni, pertama, berkaitan dengan momentum untuk merenungkan dan merefleksikan diri terhadap perjalanan dan langkah panjang yang telah dilalui. Ini merupakan cita - cita awal yang dicirikan dengan semangat kepahlawanan, semangat kesediaan diri untuk memberikan lebih dari kewajbannya dan untuk menerima kurang dari hak - haknya. Semangat itu kiranya masih relevan untuk selalu dikumandangkan.

Kedua, sebagai upaya intropeksi diri dari apa yang sedang kita jalankan dalam berbagai program pendidikan saat ini untuk menatap masa depan yang lebih baik dalam menjamin pelayanan pendidikan secara nondiskriminatif kepada semua anak usia sekolah di Indonesia. Dan ketiga, bagaimana kita memprespektifkan apa yang telah dan sedang dilakukan untuk masa depan yang lebih baik, sebagaimana dicantumkan dalam konstitusi dan diamanatkan pula dalam system perundangan dalam upaya mencerdaskan bangsa secara utuh.

Pada titik ini, Hardiknas bukan hanya diperingati untuk kegiatan seremonial semata tapi justru untuk lebih memompa semangat, oleh karena itu peringatan Hardiknas harus terus menerus dikumandangkan dan dilakukan rekontekstualisasikan sesuai dengan masanya tidak hanya sebatas pada peringatan secara seremonial, demikian pungkas Bupati Soeharto. humas/hab

Read more..

Trenggalek : PIKR Masuk Nominasi 5 Terbaik Nasional


Trenggalek (prigibeach.com) - Setelah berhasil meraih juara satu lomba Pusat Informasi dan Konsultasi Remaja [PIKR] tingkat Provinsi Jawa Timur, PIKR Kabupaten Trenggalek, yang biasa disebut Tikar [Tongkrongan Informasi dan Konsultasi Remaja] selanjutnya mewakili Provinsi Jawa Timur untuk mengikuti lomba tingkat nasional. Penilaian lomba tingkat nasional telah dilaksanakan hari Sabtu, 1 Mei 2010 yang lalu.

Secara resmi Tim Penilai dari BKKBN dan KNPI Pusat yang dipimpin oleh Drs. Syaifudin, MBA diterima oleh Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan & Keluarga Berencana [BKKB], Drs. Ali Mustofa, M.Si. atas nama Bupati Trenggalek bertempat di Graha Bhawarasa. Bupati Trenggalek dalam sambutan yang dibacakan Drs. Ali Mustofa menyatakan bahwa potensi remaja berusia 15 - 21 tahun yang menjadi sasaran PIKR mencapai 93.090 orang. Melalui PIKR ini diharapkan kualitas dan kesehatan remaja dapat ditingkatkan, terbebas dari NAPZA, penyakit seksual menular [PSM] maupun HIV/AIDS. Yang tidak kalah pentingnya, dengan PIKR remaja dapat menunda usia perkawinan hingga usia ideal untuk menikah.

Ketua Tim Penilai, Drs. Syaifudin, MBA dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa kedatangan timnya ke Kabupaten Trenggalek adalah untuk melihat sejauh mana keberhasilan PIKR di Kabupaten Trenggalek. Selain itu untuk membandingkan profil tentang PIKR Kabupaten Trenggalek yang telah diterima, yaitu dalam bentuk dokumen, foto dan CD dengan kenyataan sebenarnya di lapangan. Ditambahkan Drs. Syaifudin, PIKR Kabupaten Trenggalek merupakan nominasi 5 terbaik nasional. Diakhir sambutannya Ketua Tim Penilai berharap agar PIKR Kabupaten Trenggalek akan semakin berkembang sehingga menjadi rujukan atau tempat study banding kabupaten lainnya.

Setelah mendapatkan paparan tentang PIKR Kabupaten Trenggalek dari Ketua Tikar Trenggalek, Istingadah, Tim Penilai selanjutnya mengadakan penilaian di lapangan, yaitu di markas Tikar Trenggalek, Jl. Dr. Sutomo 29 Trenggalek.
humas/hab


Read more..

Blog Sahabat Saya

Recent Posts