> Prigibeach Trenggalek
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan

Eksekutif Meminta Dewan Merespons Banjir Bandang

Trenggalek (prigibeach.com) - Bupati Trenggalek, Jawa Timur, H. Mulyadi WR, Ketua DPRD, S. Akbar Abas, dan Wakil Bupati Trenggalek, Kholiq, bersama sejumlah Kepala SKPD terkait mengadakan kunjungan ke lokasi bencana banjir, Sabtu,(21/5) disertai Ny. Peny Mulyadi. Bebarapa lokasi yang dikunjungi yaitu Desa Nglebo dan Desa Suruh Kecamatan Suruh, Desa Jati Kecamatan Karangan dan Desa Bendoagung Kecamatan Kampak.

Di Desa Nglebo, rombongan meninjau kondisi jembatan yang putus dan hanyut karena derasnya aliran sungai pada Juma’t dini hari tanggal 20 Mei 201   kemarin. Akibat putusnya jembatan sepanjang 25 meter tersebut, mobilitas  600 KK warga Dusun Salam dan Dusun Maja Desa Nglebo sangat terganggu, dan hampir terisolir dari tetangga dusun sekitarnya. Selain itu, akses dari Dusun tersebut menuju  Kecamatan  Pule juga terhambat, karena satu-satunya jalan yang ada tertimbun akibat tanah longsor.

H. Mulyadi bernjanji akan segera membangun kembali jembatan yang ada. "Namun saya mengharapkan pengertian masyarakat bahwa pembangunan tersebut perlu proses dan waktu. Sambil menunggu terwujudnya jembatan permanen, saya instruksikan agar Camat dan Kades untuk menggalang gotong royong membangun jembatan darurat yang bisa dilalui kendaraan roda dua, sehingga 2 dusun ini tidak terisolasi", demikian H. Mulyadi.

Setelah dari Desa Nglebo,  Bupati dan rombongan  meninjau Dam Suruh yang ambrol diterjang banjir.  Dari tempat tersebut dapat diketahui bahwa  kedalaman Sungai Suruh sangat dangkal dan alur sungai sudah jauh bergeser dari yang semula. Sehingga ketika dilewati air bah, sungai tersebut tidak mampu menampung debit air, akibatnya  air melimpah ke pekarangan dan rumah warga sekitarnya. H. Mulyadi menandaskan perlu segera dilaksanakan normalisasi sungai dan agar hasilnya maksimal. 

Bupati secara simbolis menyerahkan bantuan sembako kepada masyarakat Suruh bertempat di Mushola Al Jihad sebanyak 250 paket.

Bupati juga meninjau kondisi Desa Jati Kecamatan Karangan. Dalam banjir kali ini, kondisi Desa Jati cukup parah dan banyak rumah yang terendam air dengan ketinggian 0,5 – 1,5 meter. Di tempat ini, Bupati juga menyerahkan bantuan sembako secara simbolis sejumlah 250 paket.

Di Kecamatan Kampak, Bupati meninjau kondisi SMPN I Kampak. Saat banjir kemarin, air menggenang sekitar 1 meter, sehingga banyak buku yang terendam. Selain itu pagar tembok di belakang sekolah sepanjang kurang lebih 100 meter roboh. Ketika Bupati datang di lokasi, para guru dengan dikoordinir Kepala Sekolahnya sedang kerja bakti membersihkan endapan lumpur di ruang kelas dan halaman. Di tempat ini pula, Bupati secara simbolis menyerahkan bantuan kepada warga Desa Ngadimulyo yang rumahnya rusak terkena tanah longsor.

Masih di SMPN I Kampak, ketika diwawancarai sejumlah wartawan Bupati menyatakan bahwa kerugian akibat bencana banjir ini berdasarkan perhitungan sementara sekitar Rp. 15 milyard. Sedangkan dana APBD yang tersedia untuk penanganan hal-hal yang tidak terduga seperti bencana alam ini jumlahnya sangat terbatas.

"Oleh karena itu kami akan mengajukan permohonan bantuan ke Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur, mumpung saat ini Pemprov Jatim belum melakukan pembahasan perubahan APBD, khususnya untuk infrastruktur yang memerlukan dana besar”, ungkap Bupati.

Sedangkan langkah tanggap darurat yang telah dilaksanakan pada banjir bandang kali ini  adalah menyelamatkan warga terlebih dahulu, yaitu dengan penyediaan nasi bungkus maupun sembako. Selain itu juga pengiriman air bersih dari PDAM ke sejumlah desa yang memerlukan karena sumurnya masih tercemar, pembagian kaporit untuk penjernihan  sumur warga serta penyediaan sarana kesehatan (9 Puskesma).

Agar bencana serupa tidak terjadi secara terus-menerus, menurut Bupati ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Kegiatan reboisasi, terutama di wilayah pegunungan perlu ditingkatkan dengan melibatkan masyarakat. Pembangunan waduk kecil atau embung di sejumlah tempat, sehingga bisa menampung air hujan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pembangunan Bendungan Tugu. Kalau Bendungan Tugu bisa terwujud, maka banyak manfaat yang bisa dihasilkan, salah satunya pengendalian banjir. Oleh karena itu Bupati minta dukungan semua pihak agar bendungan tersebut bisa terwujud.

“Belum lama ini kami  berserta Pimpinan DPRD Kabupaten Trenggalek sudah menghadap  Menteri PU terkait Bendungan Tugu. Pada prinsipnya Menteri PU menyambut positif rencana tersebut, namun tentunya diperlukan proses” tegas Bupati.

Selanjutnya Bupati menjelaskan bahwa dalam peninjauan kelokasi bencana ini Ketua DPRD memang diminta ikut serta dengan harapan untuk mengetahui secara langsung kerusakan infrastruktur yang terjadi maupun untuk menyerap aspirasi masyarakat. Sehingga ketika eksekutif mengajukan anggaran terkait penanganan bencana ini, diharapkan legislatif sudah langsung tanggap, karena sudah mengetahui secara langsung. (humas/haz).
Read more..

Jalan Ambles, Warga Resah, Pemkab Hanya Melihat dan Diam


Foto: Jalan utama yang embles dan jalan alternatif yang dibangun masyarakat dengan dana swadaya.
Trenggalek (prigibeach.com)  - Disebabkan jalan yang  ambles sekitar dua bulan yang lalu, dengan tingkat kerusakan panjang kurang lebih 150 meter, memaksa warga dusun Temon Rt 21 Rw 06 Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur,  membangun  jalan pintas sementara sebagai  alternatif dengan cara swadaya, sambil menunggu kepedulian Pemkab. Jalan utama yang ambles tersebut posisinya tepat dibibir sungai. Mungkin karena terus menerus digerus oleh aliran sungai,  entah dalam hitungan bulan atau tahun, pastilah akan terjadi kegemburan pada tanah tersebut. Dan bila debit air sungai naik disertai arus gelombang yang deras, terlebih lagi bila banjir bandang tiba-tiba datang, bisa dipastikan plengsengan akan ambrol, sedangkan jalan menjadi ambles. Akibatnya masyrakatlah yang dirugikan.

“Waktu banjir bandang dua bulan yang lalu, jalan menuju jembatan ambles sekitar 200 meter. Esok harinya kami lakukan kerja bakti yang dibantu oleh warga Dusun sengon kec .Bendungan. Sebab mereka juga membutuhkan jalan ini. Jadi ke-ikut sertaan mereka didasari saling peduli dan saling membutuhkan,” ujar Kayan Ketua RT setempat.

Jalan alternatif yang dibangun oleh warga tanpa campur tangan anggaran dari Pemkab Trenggalek, kondisinya sangat mengkawatirkan bagi pengguna jalur  tersebut. Pasalnya batu-batu kali hanya ditanam ditanah dengan ukuran yang tak beraturan serta lebar jalan Cuma 1 meter dan panjang sekitar 200 meter. Terlebih lagi kondisi jalan agak sedikit menanjak, bila terjadi hujan masyrakat harus ekstra hati-hati melewati jalur transportasi  tersebut karena licin juga bergeronjalan.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Desa Ngares Ahmad Thohar menegaskan bila satu minggu setelah banjir bandang , pihaknya sudah mengajukan proposal ke Pemkab, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan.

“Saya sudah mengajukan proposal tentang rehab jalan yang ambles itu, dimana terdapat dua titik yakni di dusun Temon dan dusun Ngares yang lokasi keduanya tepat ditepi sungai.  Namun hingga kini proposal yang saya ajukan ke Dinas Bina Marga dan Pengairan belum ada jawaban sama sekali”, tegasnya menjelaskan.

Sampai saat ini belum ada konfirmasi dari Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan,  juga belum ada tanggapan dari pihak PemkabTrenggalek tentang peristiwa ini. (Her).
Read more..

Gelegar Dentuman Yang Menggetarkan Masyarakat Mulai Timbulkan Keretakan Tanah

Trenggalek (prigibeach.com) - Gelegar dentuman disertai getaran yang menggegerkan warga 4 kecamatan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, sejak 2 pekan lalu, kini semakin kerap frekuensinya. Dilaporkan sudah ada kerusakan sebagai akibat kejadian, ditandai dengan adanya tanah retak di sejumlah lokasi.

Bupati Trenggalek melalui Kepala Bagian Humas, Yoso Mihardi mengatakan, lokasi terbaru yang juga merasakan dentuman dan getaran adalah Kecamatan Gandusari, setelah sebelumnya hanya terjadi di Kecamatan Watulimo, Munjungan, Kampak, dan Panggul. Intensitas dentuman juga dilaporkan meningkat, yaitu lebih dari 25 kali dalam sehari.

"Padi tadi saja, setelah Subuh saya sudah mendengar lebih dari 10 kali. Padahal sebelumnya kan maksimal 25 kali dalam sehari," kata Yoso ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/2).

Tim BMKG yang langsung dipimpin oleh Kepala Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tretes, Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Petrus Demon Sili, usai pengecekan di lapangan  menyimpulkan bahwa getaran itu berada di arah dominan 220-260 derajat (Barat-Barat Daya) dengan sebaran di radius 4-40 Km dari Desa Timahan, Kecamatan Kampak, Trenggalek. Sementara analisa Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, peristiwa tersebut adalah pergerakan tanah lambat.

"Kalau istilah teknisnya, kami biasa menyebut kriting. Di Indonesia, khususnya yang memiliki kemiringan tanah sedang, itu biasa terjadi," kata Kepala PVMBG Surono  saat menggelar pertemuan dengan pihak pemkab Trenggalek, Sabtu (19/2). 

Saat ini juga dilaporkan sudah mengakibatkan kerusakan. Salah satunya yaitu tanah retak di sekitar rumah warga, tepatnya di Desa Timahan, Kecamatan Kampak.

"Untuk tanah retak di (Desa) Timahan, tadi pagi dilaporkan oleh Camat Kampak. Tapi seperti apa dan seberapa tingkat keparahannya masih dilakukan pengecekan lapangan," sambung Yoso.

Usai menggelar pertemuan dengan dua lembaga teknis vulkanologi dan geofisika (BMKG dan PVMBG) kemarin Sabtu, hingga sekarang, Pemkab Trenggalek gencar memberikan penerangan kepada masyarakat agar senantiasa waspada. Kendati demikian, Pemkab memberikan penjelasan bahwa peristiwa itu kemungkinannya hanya berlangsung beberapa pekan lagi dan tidak akan terjadi bencana gempa yang mengkhawatirkan. 

Selain itu Pemkab Trenggalek juga telah menghubungi PVMBG Bandung, untuk meminta melakukan penelitian lebih lanjut atas kejadian dentuman dan getaran tersebut. Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut atas masukan Balai Besar wilayah III Stasiun Geofisika Kelas II BMKG Tretes, agar dilakukan penelitian Geologi dan Mitigasi atas peristiwa tersebut.

"Surat ke PVMBG hari ini kami layangkan dan kami berharap bisa mendapatkan respon. Kami serius menghadapi peristiwa ini, dan semoga tidak semakin meresahkan masyarakat," ujar Kabag Humas memastikan..

Kejadian yang sama juga dilaporkan terjadi di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Berdasarkan penelitian oleh Balai Besar wilayah III Stasiun Geofisika Kelas II BMKG Tretes, Pasuruan, dianggap sebagai gempa tektonik di kedalaman kurang dari 33 Km.

Meski demikian hasil penelitian tersebut dimentahkan oleh PVMBG Bandung, dengan menyebut kejadian tersebut sebagai dampak pergerakan tanah lambat. Keterangan mana bertentangan dengan hasil pengecekan lapangan yang dilakukan oleh BMKG, yang menyimpulkan sebagai gempa tektonik.

Petrus Desmon Sili -Kepala BMKG, menjelaskan, bahwa secara topografis, Kabupaten Trenggalek berada di wilayah lempeng India-Australia. Keberadaan ini sama halnya dengan Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Pacitan, Malang hingga Banyuwangi. Resikonya, Trenggalek rawan diguncang gempa yang diakibatkan gesekan atau tumbukan dengan lempeng Eurasia atau lempeng Pasifik. "Tapi ini gempa darat yang tidak menimbulkan tsunami," ujarnya di hadapan Bupati dan unsur pejabat teras Pemkab Trenggalek, Jum'at (18/2).
(haz)
Related Posts with Thumbnails
Read more..

Lagi, Banjir Bandang Landa Tiga Kecamatan di Trenggalek


Trenggalek (prigibeach.com) - Hujan yang mengguyur  bumi Trenggalek,  Senin malam (3/1) telah menyebabkan sebagian wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, kembali dilanda bencana banjir, yaitu Kecamatan Kampak, Gandusari dan Kecamatan Panggul. Menurut Joko Rusianto, warga desa Bendoagung Kecamatan Kampak, air mulai masuk rumah sekitar pukul 21.00 WIB.

Bencana banjir bandang  tersebut memang tidak menimbulkan korban jiwa, namun beberapa infrastruktur rusak. Di Kecamatan Kampak, tepatnya di Desa Bendoagung 2 Jembatan putus, yaitu Jembatan Kedungdowo  dan Jembatan Kemiri. Selain itu, Dam Semarangan yang berada di Desa Bendoagung hancur. Sedangkan di Kecamatan Gandusari, Jembatan kabupaten  yang menghubungkan Desa Jajar dan Desa Wonorejo, bentangan ujung timur ambles, sehingga tidak bisa dilewati. Masyarakat setempat  dan Pemerintah desa Jajar, segera membuat jembatan darurat sehingga kendaraan roda 2 bisa melintas. Di Kecamatan Panggul, 2 jembatatan dilaporkan putus, yaitu jembatan di desa Barang dan Jembatan Madat di Desa Panggul dan sebuah talud  Jembatan Aren di Desa Panggul ambrol.

Menyikapi banjir tersebut, Selasa (4/1) pagi masyarakat yang terkena banjir, kerja bakti membersihkan lingkungan masing-masing. Bupati Trenggalek, H. Mulyadi WR, datang meninjau lokasi Banjir di Desa Bendoagung Kecamatan Kampak dan Desa Jajar Kecamatan Gandusari. Mulyadi memerintahkan Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Trenggalek, Moh. Sholeh untuk segera membantu masyarakat Desa  Jajar membuat jembatan darurat yang lebih kokoh dengan kerangka baja, sehingga lebih aman dilalui.(Roy)

Related Posts with Thumbnails
Read more..

Hujan Lebat, Akibatkan Banjir di Tiga Kecamatan - Trenggalek

Trenggalek (prigibeach.com) Hujan yang sejak Minggu sore, 2 Januari 2011, mengguyur wilayah Trenggalek, Jawa Timur,  mengakibatkan terjadinya bencana banjir bandang di 3 kecamatan yaitu Kec. Karangan, Kec. Suruh dan Kec. Tugu.

Menurut warga, di Desa Suruh dan Mlinjon Kecamatan Suruh, air mulai naik sekitar pukul 18.00 WIB, dan di Kec. Karangan, banjir menerjang desa Jati, Karangan, Kerjo, Salamrejo, Kedungsigit dan Sumberingin.
 
Bencana Banjir paling parah menerjang Desa Jati Kec. Karangan, dengan menelan satu korban jiwa a.n. Rudi Handoko, 35 tahun, dan merobohkan 2 rumah di RT. 03 dan 2 rumah di RT. 04 Desa Jati. Sedangkan di Desa Sumberingin, Jembatan yang menghubungkan Trenggalek dengan Kec. Karangan tiang penyangga tengahnya ambles sehingga membahayakan pengguna jalan.

Semalam, Ny. Penny H. Mulyadi WR, beserta Kepala Dinas Nakertransos dan Kepala Bakesbangpolinmas dan Asisten 2 Pemkab Trenggalek meninjau lokasi bencana di Kec. Suruh dan Karangan.

Menurut Camat Karangan,  Hasnawati, untuk Desa Kerjo, korban bencana banjir sejumlah 354 KK 1166 jiwa, di Desa jati 1500 jiwa  dan di desa Salamrejo 600 jiwa.
Di Kec. Tugu, banjir melanda 3 desa yaitu Desa Dermosari, Desa Duren dan Desa Nglinggis. Menurut data sementara, di Desa Nglinggis, banjir menyebabkan 1 jembatan rusak total dan 2 rumah roboh, dan 9 rumah roboh di Desa Duren. Selain bencana banjir, di daerah Tugu juga terjadi bencana tanah longsor yang memutuskan jalur Trenggalek-Ponorogo. Tetapi pagi ini longsoran tanah sudah dibersihkan sehingga telah dapat dilewati kembali.

Sebagai tanggap darurat bencana banjir, Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah melakukan langkah penyelamatan jiwa manusia melalui tagana, membuat dapur umum dan menyuplai air bersih sebanyak 5 tangki. Karena di lokasi bencana tidak dimungkinkan dididirikan dapur umum dan warga belum siap untuk memasak sendiri, maka Pemkab belum mengirimkan sembako ke lokasi bencana, sedangkan dapur umum didirikan di Trenggalek dan dikirim ke lokasi bencana dalam keadaan siap makan.

Pagi ini (3/1) Bupati Trenggalek beserta rombongan meninjau lokasi banjir di Kec. Karangan dan Kec. Tugu. Dalam kunjungannya tersebut Bupati menyerahkan bantuan spontan masing-masing sebesar 1 juta kepada keluarga korban yang meninggal dunia dan 1 keluarga yang rumahnya roboh oleh banjir di Desa Jati. Dan di Desa Nglinggis dan Desa Duren, Bupati juga menyerahkan bantuan spontan masing-masing 1 juta kepada 4 rumah yang roboh akibat banjir.(Haz)
Related Posts with Thumbnails
Read more..

Pemkab Trenggalek Berikan Bantuan Bagi Korban Tanah Longsor

H.Mulyadi WR, berdialoog dengan korban bencana
Trenggalek (prigibeach.com) - Tanah longsor yang dialami warga dusun Lumutan, desa Dawuhan, Kecamatan Trenggalek, Jawa Timur, pada 30 Oktober Terkait dengan bencana tanah longsor yang memutuskan jalan dan menghancurkan empat rumah di Dusun Lumutan Desa Dawuhan pada Sabtu (30/10) lalu, menjadi perhatian Pemkab Trenggalek. Senin, (8/11) Bupati Trenggalek kembali mengunjungi korban bencana tersebut. Ikut dalam kunjungan tersebut Kapolres Trenggalek, Ketua DPRD Kab. Trenggalek, dan Kepala SKPD terkait.

Satu minggu sebelumnya, Pemkab sudah tanggap darurat dengan mengedrop Sembako berupa beras, mie instan, minyak goreng, telur, sarden, selimut, jarit, sarung, tikar/matras dan peralatan dapur, yang diberikan kepada 16 KK 68 jiwa untuk kebutuhan hidup selama seminggu. Sedangkan untuk kebutuhan hidup seminggu ke depan, pada hari ini (8/11) Bupati Trenggalek membawa sembako berupa beras, minyak goreng, telur, dan roti.

Sebagian tanah yang longsor tepat di samping pemukiman
Didampingi Camat Trenggalek dan Kepala Desa Dawuhan, Bupati bersama rombongan meninjau lokasi bencana. Selain itu Bupati juga menemui warga korban bencana tanah longsor di depan Masjid milik KH. Imam Nawawi. Bupati meminta kepada warga agar meningkatkan ibadah serta selalu berdoa kepada Tuhan Yang Mahaesa agar selalu diberi kekuatan dan ketabahan atas bencana yang telah menimpa.

Bupati juga menyarankan agar warga yang rumahnya telah hancur akibat tanah longsor segera merelokasi rumah mereka. Ini dikarenakan mereka mempunyai tanah lain selain tanah yang tekena longsoran. Dalam hal ini, Pemkab Trenggalek juga akan berupaya untuk membantu warga sesuai dengan kemampuan yang ada.

Dan guna mencegah longsoran terjadi kembali, Bupati menyarankan kepada warga setempat, bila mengetahui ada tanah yang merekah atau patah untuk segera di tutup dengan tanah liat agar tidak dimasuki oleh air yang akan menyebabkan longsornya tanah. (haz)
Related Posts with Thumbnails
Read more..

Bupati Mulyadi WR Kunjungi Lokasi Bencana di Kecamatan Bendungan

Trenggalek (prigibeach.com) - Setelah Takziyah atas meninggalnya takmir masjid agung Baiturrahman, KH. Imam Tulus, yang juga anggota MUI Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur,  di Desa Surodakan Kec. Trenggalek, Bupati Trenggalek, H. Mulyadi WR, langsung mengadakan kunjungan kerja mendadak untuk meninjau lokasi bencana tanah longsor dan ambles di desa Sumurup dan desa Suren Lor kecamatan Bendungan pada hari Senin, 1 Nopember 2010. Ikut bersama rombongan Bupati Trenggalek, Kepala Bappeda, Dinas Binamarga dan Pengairan, Kepala Bakesbangpolinmas, Asisten Ekonomi Pembangunan, Kepala Bagian Kesra, dan Camat Bendungan yang baru dilantik pada Hari Jumat, 29 Oktober 2010.

Bencana Tanah longsor dan ambles di kedua desa tersebut terjadi pada Jumat malam, 29 Oktober 2010. Terhadap separow badan jalan yang ambrol di desa Suren Lor Bupati Trenggalek memerintahkan kepada Kepala Dinas Binamarga, Ir. Muhammad Sholeh, MM, untuk melaksanakan pembangbunan kembali menggunakan dana cadangan yang ada dengan sepengetahuan DPRD dan tidak perlu menunggu tahun 2011. Karena jalan yang ambrol tesebut meerupakan jalan protocol menuju Bendungam sehingga merupakan sarana yang sangat vital dan bila dibiarkan akan terus menerus ambrol dan membahayakan pipa saluran air.

Juga terhadap amblesnya badan jalan yang terjadi di sebelah barat Puskesmas Sumurup yang mengakibatkan terjadinya tanjakan yang tajam, Bupati Trenggalek memerintahkan untuk melakukan pengeprasan supaya sudut kemiringannya tidak terlalu tajam.

Selain itu, Bupati juga meninjau kondisi Balai desa Sumurup, dimana badan jalan serta tembok penahan bangunan yang berada didepannya juga ambrol. Dan terkait jalan yang retak,Bupati meminta kepada Asisten Ekonomi Pembangunan untuk memerintahkan kepala Dinas Koperindag Tamben untuk meneliti kondisi tanah di wilayah tersebut. Kepada SKPD terkait, Bupati berpesan untuk meningkatkan pengawasan pada saat pembangunan badan jalan maupun sarana yang lain sehingga kontruksinya benar.

Kepada Kepala Desa Sumurup, Bupati juga berpesan untuk meningkatkan kewaspadaan. Melihat kondisi tanah yang labil, bila hujan deras tiba diminta kepada warga masyarakat untuk meninggalkan rumah menuju tempat yang aman.(haz)
Read more..

Trenggalek : Lagi, Banjir Landa Empat Kecamatan


Trenggalek (prigibeach.com) - Hujan deras yang turun sejak sore hingga malam hari, Minggu (23/5), mengakibatkan banjir di empat kecamatan yang terdiri atas 19 desa. Keempat kecamatan tersebut adalah Kecamatan Kampak dengan 3 desa, 8 desa di Kecamatan Gandusari, Kecamatan Pogalan 4 desa, dan di Kecamatan Durenan banjir melanda 4 desa.

Menghadapi bencana tersebut, Pemerintah Kabupaten Trenggalek, melalui Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial segera bertindak cepat dengan mendirikan dapur umum di beberapa tempat, antara lain di Desa Wonocoyo, Kecamatan Pogalan, di desa Gandusari dan Karanganyar di Kecamatan Gandusari. Selain itu, Disnakertransos juga mendistribusikan nasi bungkus kepada para korban banjir di Desa Bogoran Kecamatan Kampak dan Desa Ngrayung Kecamatan Gandusari.

Untuk mengetahui secara langsung korban banjir dan kerusakan yang ditimbulkannya, Sekretaris Daerah Kabupaten Trenggalek, Ir. Cipto Wiyono, M.Si bersama dinas terkait meninjau keadaan di empat kecamatan tersebut, Senin 24 Mei 2010. Sekretaris Daerah sempat melihat beberapa titik longsor di jalan yang menghubungkan Kecamatan Kampak dengan Kecamatan Munjungan.(humas/Haz)
Read more..

Trenggalek : Pemkab Trengginas Tangani Korban Banjir


Trenggalek (prigibeach.com) - Pemerintah Kabupaten Trengalek bereaksi cepat dalam menangani bencana yang terjadi pada 5 - 6 Mei 2010 lalu. Hujan deras yang terjadi telah menyebabkan banjir bandang menerjang Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan, dengan meluluhlantakkan empat rumah warga, serta mengakibatkan empat orang meninggal dunia.







Banjir maupun tanah longsor terjadi di 38 Desa di sebelas wilayah kecamatan yang lain, yaitu: kecamatan Trenggalek, Pogalan, Gandusari, Durenan, Bendungan, Munjungan, Watulimo, Kampak, Panggul, Tugu, dan Dongko. Sedangkan tiga wilayah yang tidak terkena bencana meliputi Kecamatan Karangan, Kecamatan Suruh, dan Kecamatan Pule.

Rabu Malam, 5 Mei 2010, sesaat setelah terjadi bencana Bupati Trenggalek, didampingi oleh Sekretaris Daerah dan pejabat terkait langsung meninjau lokasi bencana di Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan, dan desa Karangrejo di Kecamatan Kampak.

Pada kesempatan itu, Bupati Trenggalek, H. Soeharto, menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk mendirikan Posko Kesehatan di Desa Gembleb. Posko kesehatan tersebut siaga selama 24 jam selama tiga hari, 5 - 7 Mei 2010, untuk pelayanan kesehatan bagi para pengungsi. Selain itu, Dinas Nakertransos juga langsung mendirikan dapur umum. Selain itu, selama dua hari 6 - 7 Mei 2010, PNS lingkup pemerintah Kabupaten Trenggalek ikut serta kerja bakti membersihkan puing-puing akibat banjir bandang di Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan.

Keesokan harinya, pada Kamis 6 Mei 2010, Wakil Gubernur, Saifullah Yusuf, juga meninjau langsung korban bencana banjir bandang di Desa Gembleb. Dalam peninjauan tersebut, Wakil Gubernur Jatim meminta laporan dari Bupati Trenggalek terkait daerah mana saja yang terkena bencana, dan berapa taksiran kerugian yang ditimbulkannya. Pada saat yang sama, Wakil Gubernur Syaifullah Yusuf, memberikan santunan kepada korban meninggal dunia, masing-masing Rp 5 juta.

Berdasarkan data Posko Bencana Alam Kabupaten Trenggalek per 10 Mei 2010 pukul 10.00 WIB, kerugian akibat bencana tersebut mencapai sekitar Rp 14,5 M, rumah rusak berat 24 buah, rusak ringan 31 buah, jembatan rusak 60 buah, jalan rusak berat 101 m, dan rusak ringan 6.483 m dan sawah yang terendam sekitar 360 Ha.

Jumlah bantuan yang telah disalurkan Pemerintah Kabupaten Trenggalek hingga 10 Mei 2010 pukul 08.00 WIB berupa beras 9.489 kg, mie instant 7.520 bungkus, sarden 558 kaleng, kecap 628 botol, selimut 81 buah, sarung 106 buah, paket 324 bungkus, nasi 1.175 bungkus serta pakaian maupun peralatan masak lainnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas PU Pengairan telah memberikan bantuan berupa 100 bronjong dan 1000 karung untuk mengatasi putusnya tanggul anak sungai Klitik di Desa Gembleb Kecamatan Pogalan. Sedangkan untuk mengatasi putusnya jembatan Bungur di Desa Karangturi Kecamatan Munjungan, Pemerintah Propinsi Jawa Timur melalui Dinas PU Bina Marga telah mengirimkan jembatan "bailey" dan mulai 8 Mei kemarin material konstruksi jembatan sudah tiba.

Bantuan lain yang diterima Posko Bencana Alam Kabupaten Trenggalek antara lain dari: BRI Trenggalek berupa 150 paket sembako, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi Jawa Timur berupa 189 paket sembako, BNPB Jakarta berupa cek giro senilai Rp 100 juta, Peserta Diklat Pim IV Kabupaten trenggalek berupa uang sebesar Rp 825.000,- dan dari SDN 3 Ngantru berupa uang sebesar Rp 506.500,-.

Read more..

Trenggalek : Diknas Distribusikan Bantuan Untuk Korban Banjir








Trenggalek (prigibeach.com) - Senin (10/05), sebuah truck masuk ke halaman parkir Kantor Dinas Pendidikan Trenggalek. Ternyata truck itu bermuatan peralatan sekolah yang dikirim oleh Kementerian Pendidikan Nasional, Dirjen Manajemen Dikdasmen, Jakarta.

Menurut Sutadi, staf yang mengurusi barang inventaris dan distribusi Dinas Pendidikan Trenggalek, barang-barang yang dikirim langsung dari Jakarta tersebut adalah hibah yang akan didistribusikan pada siswa di sekolah-sekolah korban bencana alam dan kerusuhan.

Rincian sumbangan bencana banjir untuk siswa SD dan SMP adalah sebagai berikut :

  1. Peralatan Siswa, perpaket terdiri dari satu stel seragam, 1 buah tas, 10 eksemplar buku tulis (isi 38), pensil 3 buah, rautan 1 buah, penghapus 1 buah, penggaris 1 set, pulpen (khusus SMP) 3 buah dan tempat pensil 1 buah. Dengan total : Tas untuk SD 2.750, Tas untuk SMP 1.250, buku tulis 40.000 ribu eksemplar, pensil 12.000 buah, penghapus, penggaris, tempat pensil, dan rautan masing-masing 4.000 buah/set, sedangkan pulpen untuk siswa SMP sebanyak 3.750 buah.
  2. Seragam SD pria sebanyak 1.100 stel;
  3. Seragam SD wanita sebanyak 1.650 stel;
  4. Seragam SMP pria sebanyak 550 stel;
  5. Seragam SMP wanita sebanyak 749 stel;
Masing-masing seragam terbagi dalam berbagai ukuran mulai dari S (kecil), M (menengah), L (besar) dan XL (lebih besar).
Read more..

Trenggalek : Empat Desa di Trenggalek Terisolasi



Trenggalek (prigibeach,.com)
- Ribuan warga Trenggalek, Jawa Timur, Sabtu (8/5) pagi, membersihkan sisa-sisa material yang hanyut terbawa banjir bandang. Lambannya penangan pemerintah setempat mengakibatkan empat desa di Kecamatan Munjungan, terisolasi. Sementara kerugian material akibat banjir bandang mencapai miliaran rupiah.

Banjir bandang yang disertai meterial kayu yang terjadi pada Rabu (5/5) malam mengakibatkan puluhan rumah di Trenggalek hancur dan rusak. Kini hanya ada puing-puing bangunan dan sampah material kayu yang tersisa.

Warga korban banjir di Kecamatan Pogalan dan Munjungan, Trenggalek, membersihkan puing-puing material kayu. Desa-desa yang terisolasi di antaranya Desa Craken, Ngulung Kulon, Ngulung Wetan, dan Sobo. Kini aktivitas perekonomian di Kecamatan Munjungan lumpuh total.

Saat ini banjir menggenangi 19 desa, sebanyak 385 rumah kepala keluarga atau sebanyak 3013 jiwa terendam. Selain merusak rumah, banjir juga merusak sembilan jembatan hingga terputus. Sejumlah ruas jalan tidak dapat dilalui. Kerusakan beberapa infrastruktur bangunan diperkirakan mencapai Rp15 miliar.

Saat ini warga trauma dan mengungsi ke rumah tetangga dan keluarga. Sementara warga korban banjir masih berharap bantuan makanan.(metroTV)

Read more..

Trenggalek : Banjir, 4 Tewas, Belasan Luka-luka


Trenggalek (prigibeach.com) - Hujan yang mengguyurKota Kripik Tempe (Trenggalek, Jawa Timur), sejak Rabu (5/5), telah mengakibatkan ribuan (bukan hanya ratusan!) rumah di Trenggalek terendam air. Bahkan 4 warga ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan, sementara belasan lainnya menderita luka ringan.

Empat korban tewas masing-masing bernama Yatemi, 70; Ropingah, 35; Muji, 85; dan Tambir, 85. Sementara, sedang korban luka-luka dua di antaranya bernama Poniran dan Yadi. Empat korban tewas merupakan warga dusun KayuJaran, Desa Gembleb,Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Mereka diduga tewas setelah terseret banjir setinggi dua meter yang datang dari arah lereng Gunung Rajeg Wesi.

Sejauh ini, Tim Search and Rescue (SAR) Kabupaten Trenggalek baru berhasil menemukan dua jasad korban tewas Yatemi dan Ropingah, sementara dua lainnya masih dalam pencarian."Sebagian warga tidak sempat menyelamatkan diri saat air bah melanda," papar Kepala Seksi Penanggulangan Bencana Kantor Kesbangpol Linmas Kabupaten Trenggalek, Maryono, kemarin.

Banjir di Kabupaten Trenggalek melanda ribuan rumah warga yang berada di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Trenggalek, Munjungan, Pogalan, Gandusari, Durenan, Kampak, dan Kecamatan Bendungan. Paling parah terjadi di Kecamatan Munjungan, karena ribuan rumah warga di enam desa terendam dengan ketinggian dua meter, bahkan mencapai atap rumah.

"Ketinggian banjir enam desa di Kecamatan Munjungan mencapai dua meter, masing-masing Desa Karangturi,Munjungan, Tawing,Masaran,Craken,dan Desa Bendoroto," tandasnya. Banjir yang terjadi sekitar pukul 15.00 WIB itu juga menyebabkan sejumlah tebing longsor hingga menutup ruas jalan yang menghubungkan antardaerah di kabupaten tersebut.

"Curah hujan yang turun di Kecamatan Munjungan memang sangat tinggi,"ungkapnya. Selain hujan deras, kata Maryono, luapan sungai yang berada di Kabupaten Trenggalek juga memperparah musibah tersebut."Hujan deras yang terjadi sejak Rabu (5/5) siang hingga malam hari menyebabkan Sungai Ngasinan dan sungai-sungai lainnya yang berada di tujuh kecamatan meluap," ujar Maryono.

Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana Kabupaten Trenggalek telah melakukan sejumlah tindakan tanggap darurat terhadap korban banjir. Bahkan Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah menetapkan status Siaga I dalam penanganan musibah banjir.

"Sejumlah petugas dari Tim SAR telah melakukan evakuasi terhadap para korban banjir.Sekarang kami masih melakukan pemantauan di lokasi bencana," papar Maryono.

Maryono mengaku, pada tahun 2006 lalu musibah serupa pernah melanda Kabupaten Trenggalek hingga menewaskan 27 orang, serta ratusan hewan ternak hilang terseret banjir. Bupati Trenggalek Soeharto ketika dihubungi melalui selulernya mengatakan terus memantau proses penangguklangan dan melakukan pendataan terhadap warga yang menjadi korban banjir.

"Kerugian yang disebabkan banjir belum diketahui. Yang terpenting,semua warga bisa diselamatkan terlebih dahulu, saya sudah memerintahkan pada Tim Basarnas untuk mengerahkan semua kemampuannya," tandas Soeharto.

Proses penemuan jasad korban tidak sekaligus. Pertama kali ditemukan adalah mayat Yatemi dan Ropingah, dua korban terakhir yang sempat dinyatakan hilang, yakni Muji (85) dan Tambir (70), jenazahnya dievakuasi, Kamis (6/5/2010) pagi, kondisi korban tersangkut tumpukan material bangunan serta kayu yang hanyut terbawa arus air.

"Seluruh korban tewas berjumlah empat orang. Dua korban terakhir ditemukan sekitar pukul 07.00 WIB dengan sebagian tubuh tertimbun lumpur dan material kayu," kata salah seorang tokoh warga Desa Gembleb, Guswanto aktivis PDI-P.

Dia menuturkan, proses pencarian korban sempat menemui kesulitan. Hal itu disebabkan kondisi di sekitar lokasi bencana yang rusak parah, sehabis diterjang air bah dari lereng Gunung Rajekan Wesi yang berada persis di sisi timur pemukiman penduduk di Dukuh Kayu Jaran, Desa Gembleb. Sedikitnya tujuh rumah hancur, rata dengan tanah, sementara tiga rumah lain rusak parah.

Ketinggian air saat bencana terjadi dilaporkan mencapai dua meter lebih. Hujan yang mengguyur kawasan perbukitan ini sejak Rabu (5/5/2010) mulai pukul 17.00 WIB, turun begitu deras, sehingga menyebabkan Sungai Sabuk yang melingkari Gunung Rajeg Wesi meluap. Pohon-pohon besar di lereng gunung tumbang dan terbawa arus banjir hingga ke pemukiman penduduk.

Banjir yang datang tiba-tiba ini membuat warga panik. Beberapa warga mengaku sempat terpana saat menyaksikan air Sungai Sabuk mulai meluap.

"Sebagian mencoba kabur, tapi terlambat," kata Saridi, salah satu korban yang rumahnya mengalami rusak ringan.

Kerugian Miliaran rupiah

Kerugian akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Trenggalek tersebut ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Kabag Humas Pemkab Trenggalek, Yoso Miarso belum mengkonfirmasi berapa kerugian materiil akibat bencana tersebut.

Namun, Bupati Trenggalek, Soeharto memperkirakan, jika melihat banyaknya rumah dan infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak parah akibat terjangan banjir bandang Rabu sore (5/5), besar kemungkinan kerugiannya mencapai miliaran rupiah.

Apalagi, kerusakan tidak hanya terjadi pada pemukiman penduduk, banjir akibat luapan air beberapa sungai utama di Trenggalek itu juga menyebabkan ribuan hektare lahan pertanian dan perkebunan warga tergenang air, dan dipastikan gagal panen.

Data terbaru versi satuan pelaksana penanggulangan bencana (Satlak PB) Kabupaten Trenggalek, banjir bandang yang dilaporkan mulai terjadi antara pukul 16.00 hingga 18.30 WIB tersebut telah merendam sedikitnya 885 rumah warga.

Bencana tidak hanya terjadi di Kecamatan Pogalan dan Munjungan, tetapi juga melanda beberapa kecamatan lain seperti Kecamatan Durenan, Gandusari, Kampak, Bendungan serta Trenggalek (kota).

Total desa terendam banjir sebanyak 22 desa. Kerusakan paling parah terutama terjadi di Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan, serta delapan desa di Kecamatan Munjungan.

"Di Munjungan beberapa jembatan dilaporkan roboh, sehingga menyebabkan jalur Munjungan-Trenggalek serta Munjungan-Panggul putus total," papar Yoso mengungkapkan.

Pihak pemerintah daerah saat ini masih terus berupaya melakukan evakuasi. Sejumlah peralatan berat dikerahkan untuk menyingkirkan material longsoran tanah yang menutup ruas-ruas jalan di Munjungan maupun Bendungan.

Bantuan pangan berupa sembako dan obat-obatan juga telah dikirim. "Warga saat ini masih terus bahu-membahu menyingkirkan material longsoran serta membersihkan rumah warga yang roboh ataupun rusak akibat banjir sore kemarin," kata Guswanto, tokoh warga Desa Gembleb yang siang tadi terlihat ikut membantu kerja bakti di lokasi bencana. (hab)
Read more..

Trenggalek : Bukit Longsor, Jalur Trenggalek - Pacitan Terputus



Trenggalek (prigibeach.com) - Jalur utama Trenggalek-Pacitan terputus karena tertutup material tanah dan batu sepanjang 30 meter, Senin (11/4). Material tanah serta batu merupakan longsoran tebing jalan akibat hujan yang terus turun dalam sepekan terakhir ini. Kendaraan besar seperti bus dan truk tertahan sementara kendaraan kecil dialihkan melewati jalan perkampungan.

Menurut warga, longsor awalnya terjadi di sekitar tebing cukup kecil. Setelah petugas Dinas Pekerjaan Umum setempat melakukan pembersihan justru tebing setinggi 70 meter di atasnya longsor hingga menutup akses jalan. Sejumlah kendaraan besar terjebak dan harus menunggu hingga jalan bisa dilalui.

"Sudah dua jam antre menunggu pembersihan longsoran," kata seorang sopir.

Menghindari kemacetan panjang, sejumlah warga berinisiatif memberikan jalur alternatif melalui perkampungan untuk kendaraan kecil baik motor maupun mobil angkutan pedesaan. Sementara sejumlah tangki pengangkut bahan bakar minyak untuk Panggul dan Pacitan juga tertahan. Petugas masih melakukan pembersihan material longsoran menggunakan alat berat.

Keadaan tak jauh berbeda juga terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Akibat hujan deras yang terus mengguyur sejak Ahad dini hari tadi, memicu terjadinya tanah longsor. Peristiwa tersebut membuat satu rumah warga rusak, dan jaringan listrik putus akibat tersambar petir.

(Sumber : Liputan6.com/sctv)


Read more..

Blitar : Pondasi SMPN 2 Setojayan Hanyut Ditabrak Banjir


Blitar (prigibeach.com)
- Hujan yang mengguyur Setojayan Jum'at (20/11) menyebabkan air sungai meluap dan meruntuhkan pondasi bangunan sekolah SMPN 2 Sutojayan. Akibatnya bangunan 4 ruang kelas di sekolah itu menggantung di atas sungai yang mengalir di belakang sekolah.

Bangunan SMPN 2 Sutojayan sendiri memang berada di daerah aliran sungai (DAS). Sekolah ini bersinggungan langsung dengan dua aliran sungai yang deras. Yakni, sungai Bogel dan anak sungai Bogel dari Kebonduren yang bertemu membentuk satu pusaran air tepat di pojok belakang sekolah. "La iya, musim hujan baru datang saja (pondasi) sudah ambrol lagi," kata Imam Sopingi, kepala SMPN 2 Sutojayan, kemarin.

Untuk menghindari ambruknya gedung, pihak sekolah bersama dengan Komite harus bertindak segera. Kemarin, pihak sekolah telah melakukan pengukuran bangunan yang hilang karena banjir. Antara lain, lahan dengan diameter 10 M2, pondasi dan pagar sepanjang 18 meter dengan kedalaman 3,5 meter amblas. "Untuk kerugian material kami prediksikan mencapai Rp 50 juta," kata Imam.

Peristiwa hilangnya pagar dan pondasi sekolah terseret banjir ini sudah dua kali terjadi. Sebelumnya pernah pada bulan April lalu tapi tidak sebesar sekarang. Walaupun demikian, amburknya pagar sekolah yang dulu sempat membuat salah satu siswa terjatuh. Keterangan dari salah seorang staf guru Sutikno, salah satu siswa yang nyemplung sungai karena terpeleset. "Alhamdulillah ndak sampai luka. Tapi jadinya ya basah dan kotor," kata Sutikno.

Sementara itu, Imam Sopingi mengaku, April lalu telah melaporkan adanya tanah longsor akibat arus sungai Bogel yang deras dari pembukaan parit bendungan Lodoyo di Serut. Surat laporan beserta tembusan disampaikan ke Dinas Pendidikan (Dikda) Kabupaten Blitar, Kecamatan Sutojayan, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Blitar, Pemkab Blitar, DPRD Kabupaten Blitar serta kepolisian. Laporan itu rupanya langsung ditanggapi oleh dinas terkait.

Laporannya tidak mendapat tanggapan yang serius. Hanya mengukur kerusakan tapi tidak ditindaklanjuti dengan perbaikan. Akhirnya, pihak sekolah sendiri yang mengambil tindakan memperbaiki pondasi bangunan untuk menahan laju arus sungai. "Swadaya dengan komite menguruk longsoran tersebut. Termasuk membangun pagar yang sekarang telah ambles lagi," tambah Imam.

Kejadian yang berlangsung Jum,at malam kemarin telah dilaporkan pihak sekolah pada kepolisian. "Saya ndak mau akhirnya disalahkan lagi karena dituduh tidak buat laporan," jelas Imam. Selain itu, juga kepada pihak Dikda dan instansi terkait.

Dinas Pendidikan Bantah Adanya Laporan

Kepala Dinas Pendidikan Daerah (Dikda) Kabupaten Blitar Rijanto mengaku belum menerima laporan peristiwa longsornya pondasi bangunan SMPN 2 Sutojayan. "Saya tahunya malah dari anda. Belum ada laporan masuk," kata Rijanto saat dikofirmasi wartawan, Sabtu(21/11).

Rijanto menjelaskan, longsornya tanah bangunan termasuk dalam kondisi darurat. Untuk itu, dia menyarankan pihak sekolah segera berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Sutojayan. Yakni, untuk mengadakan musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) mengenai pembangunan di DAS tanggul untuk menahan laju arus Sungai Bogel tersebut. "Itu (pembangunan DAS) merupakan proyek besar. Dikda tak punya kewenangan untuk bertindak lebih jauh," ujar Rijanto kemarin.

Sejauh ini, kata Rijanto, sebagai atasan yang mengayomi seluruh instansi pendidikan Kabupaten Blitar telah berusaha berkoordinasi. Termasuk langkah konfirmasi yang dilakukan tentang kejadian pada April lalu. "Sekali lagi itu proyek besar. Karena keadaan telah darurat seharusnya segera dilaporkan pada instansi terkait,yakni Dinas PU dan Dinas Bina Marga (Pengairan)," kata Rijanto.(ary)

Read more..

Cornelia Agatha Baca Puisi di Atap Hotel Heroik Kemerdekaan Berdirikan Bulu Kuduk




Surabaya, PrigiBeach.com

"Jangan anggap mereka kalap jika mereka terjang senjata sekutu lengkap… Jangan remehkan sesobek kain di kepala tengoklah merah putih yang berkibar di hati mereka dan dengar pekik mereka Allahu Akbar.”

Terik matahari yang menyengat Kota Surabaya, Minggu (1/11), seolah tak menjadi masalah warga Surabaya untuk menyaksikan gebyar Surabaja Juang yang diawali dengan karnaval yang berdandan perjuangan dari Tugu Pahlawan menuju Taman Surya.

Peristiwa perobekan warna biru dari bendera Belanda di Hotel Yamato, 64 tahun lalu, memuncaki pembukaan Surabaya Juang, Minggu (1/11). Di Hotel yang kini dikenal dengan nama Hotel Majapahit itu, rombongan karnaval berhenti untuk mengibarkan bendera merah putih.

Tidak ada lagi peristiwa perobekan bendera, namun acara istimewa yang digelar di atap hotel bintang lima itu adalah pembacaan puisi berjudul Surabaya karya KH Mustofa Bisri oleh artis cantik Cornelia Agatha.

Dengan suara bergetar Cornelia menatap dan meneriakkan bait demi baik puisi yang juga membuat bulu kuduk penonton berdiri, seakan peristiwa perjuangan pada massa itu menggelora kembali. Meski persiapan sound system nampak kurang siap, namun masyarakat cukup khidmad mendengar puisi Cornelia.

“Jangan anggap mereka kalap jika mereka terjang senjata sekutu lengkap… Jangan remehkan sesobek kain di kepala tengoklah merah putih yang berkibar di hati mereka dan dengar pekik mereka Allahu Akbar,” bait awal yang dibaca Cornelia.

Pembacaan puisi berlangsung sekitar 10 menit diiringi permainan biola yang mengalunkan tembang Indonesia Pusaka. Beberapa kali suara Cornelia sempat tidak terdengar dari pengeras suara. Namun secara keseluruhan acara berlangsung lancar. Usai membaca puisi Cornelia memberikan hormat kepada Bendera Merah Putih lalu ikut bergabung dalam pawai.

“Agenda hari pertama memang mengambil tempat Tugu Pahlawan, Hotel Majapahit dan Taman Surya. Pada malam hari kami gelar pentas musik dan ludruk di Taman Surya,” ujar Bambang Soetejo, Ketua Panitia, ditemui di sela acara, Minggu (1/11).

Turut meramaikan pawai antara lain pejuang veteran Surabaya, TNI AL, Polri dan sejumlah sekolah di Surabaya. Walikota Bambang DH tampak hadir di depan Jalan Tunjungan dengan menumpang panser kemudian berhenti di depan Hotel Majapahit mengikuti upacara pengibaran bendera.

Kegiatan pawai Surabaya Juang yang dimulai di Tugu Pahlwan pukul 14.00 itu disaksikan oleh ribuan warga Surabaya yang tumpah ke jalan-jalan mulai Jalan Pahlawan, Bubutan, Jalan Tunjungan, Jalan Gubernur Suryo, hingga di Taman Surya atau halaman Balai Kota Surabaya. Sepanjang kegiatan pawai yang berakhir sekitar pukul 16.00 di Taman Surya, polisi menutup akses jalan-jalan yang dilalui rombongan pawai.

Akibatnya kemacetan sempat terjadi di pusat kota Surabaya. Selain karena penutupan jalan, kemacetan juga disebabkan pengendara yang memperlambat laju kendaraan demi menyaksikan pawai. Hingga pukul 16.30 wib, kepadatan jalan masih tampak di Jalan Gubernur Suryo hingga Jalan Yos Sudarso. Kondisi lalu lintas mulai lancar pada pukul 17.00 wib. ytz

Read more..

DGTKI Nurul Falah: Lepas Guru TK Berkualitas


Suurabaya, PrigiBeach.com

Diklat Guru Taman Kanak-kanak Islam (DGTKI) yang memiliki dua tempat perkuliahan, di Ketintang VB dan di Aula TK Al Hikmah Gayungsari IV Surabaya, pada Sabtu (24/10), menyelenggarakan syukuran dalam rangka wisuda mahasiswa angkatan 2008-2009. Kegiatan dilaksanakan di Aula gedung Graha Makarti Jalan Bendul Merisi melepaskan 34 mahasiswa yang dinyatakan berhasil menyelesaikan pendidikan.

Selain dihadiri para mahasiswa yang telah lulus, acara ini sekaligus menjadi penutupan masa orientasi mahasiswa baru. Ada 40 mahasiswa baru angkatan 2009-2010 yang siap menempuh pendidikan di sekolah guru program D1 ini.

Wisuda ini adalah yang ketujuh sejak awal didirikannya DGTKI Nurul Falah. Sudah lebih dari dua ratus guru TK berbobot yang menjadi alumnusnya. “Setidaknya kami sudah melepas 260 tenaga pengajar” ucap Drs Subiyanto, Kepala DGTKI Nurul Falah.

Subiyanto berharap, para alumnus nantinya bisa menjadi teladan yang baik untuk murid-murid. Meski disebut sebagai lembaga pendidikan islam, dia tetap yakin, alumnus bisa mengajar di TK-TK nasional yang tidak berbasis islam. Kurikulum yang telah diajarkan di sana dinilai memenuhi kualifikasi untuk menjadi guru TK di mana pun.

“Semoga para lulusan menjadi guru yang berkompeten dan baik secara moral. Sebab mereka akan dicontoh para generasi penerus negeri ini.” imbuhnya. Diantara wisudawan sekitar sepuluh persennya adalah guru yang ditugaskan oleh institusi Taman Kanak-kanak tertentu. Sedang yang 90 persen lulusan diketahui masih belum pernah mengajar.

Lulusan DGTKI Nurul Falah tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Ambon dan Aceh. DGTKI Nurul Falah juga berposisi sebagai lembaga penyalur guru TK. Banyak lembaga yang sudah memesan tenaga pengajar yang masih muda dari lembaga ini.

Banyaknya permintaan guru, membuat DGTKI Nurul Falah kewalahan dan tidak semua permintaan bisa dipenuhi, atau calon guru juga memiliki wewenang untuk menolak. Beberapa waktu lalu, sebuah sekolah di Kalimantan ingin merekrut salah satu lulusan. Namun tidak ada satu lulusan pun yang bersedia.

“Sekarang ada alumnus kami yang mengajar di TK Al Falah Surabaya, Al Fajar Medokan Surabaya, Bina Anak Sholeh Tuban, juga di berbagai daerah lain” kata Iswandi, Panitia pelaksana acara sekaligus staf sekretariat DGTKI Nurul Falah.

DGTKI Nurul Falah selektif dalam menerima mahasiswa baru. Untuk tahun ini, terdapat 70 pendaftar. Pendaftar yang diterima hanya 40. Seleksi penerimaan mahasiswa baru terdiri dari serangkaian tes, yaitu mengaji, tes tulis, wawancara, dan psikotes. “Jadi, kami tidak hanya berpikir tentang kuantitas, namun lebih pada kualitas. Kalau memenuhi syarat, kami terima” ujar Subiyanto.

Lembaga pendidikan ini bekerjasama dengan Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF). YDSF tercatat sebagai salah satu donatur tetap. DGTKI Nurul Falah tidak hanya menerima mahasiswa lulusan SMA. Menurut data, tak sedikit mahasiswa yang merupakan alumnus perguruan tinggi bergengsi di Surabaya semisal, Unair, Ubaya, ITS, dan IAIN.

Para alumnus berharap, selepas kelulusan mereka, mereka bisa menggapai cita-cita yang lebih tinggi. Tidak sekadar menjadi guru. namun juga sebagai pemilik sekolah atau kepala sekolah.

“Saya ingin punya TK sendiri di Gresik” ujar Nur Lu’luah, alumnus yang sekarang sudah mengajar di TK Syech Abu Bakar Kedurus Surabaya.

“Saya pengen jadi Kepala Sekolah” ucap Qurrota A’yun, lulusan yang tengah mengajar di TK Bina Anak Sholeh Tuban.(ded)

Read more..

Susiyati Lindungi Anak dari Reruntuhan Rumah


  • Puting Beliung Hajar Sejumlah Wilayah Jatim

Laporan:Nuraini Faiq | Nganjuk

Ny Susiyati, 39, menjadi korban saat rumahnya –bersama lima rumah warga yang lain– rata tanah dihantam angin puting beliung. Tulang punggungnya patah, dan harus dioperasi di RSUD Nganjuk, Sabtu (24/10).

Bencana angin puting beliung tersebut muncul di dusun Susiyati, Dusun Kandeg, Waung, Baron, Nganjuk, Jumat (23/10) petang. Istri Heri Budi Santoso, 40, itu luka berat pada bagian punggung dan kepala karena melindungi salah satu anaknya, Indra, dari reruntuhan rumah.

Selain merusakkan enam rumah warga termasuk rumah keluarga Heri Budi Santoso yang berukuran sekitar 10 kali enam meter angin puting beliung yang dibarengi hujan deras tersebut juga menyapu atap pabrik pupuk organik di Baron. Atap seng bersama cornya pun lepas dari bangunan pabrik.

Konstruksi atap berkerangka cor inilah yang menimpa dan membuat rusak enam rumah yang berada persis di sisi selatan pabrik. Enam rumah tersebut adalah milik Heri Budi Santoso, Tumiran, Kaseni, Sukamto, Samidi, dan Darsono.

“Kasihan Bu Susiyati, punggungnya patah kambrukan rumah,” kata Wati, tetangga korban.
Selain mematahkan punggung ibu dua anak tersebut, akibat angin puting beliung juga mematahkan kaki suaminya, Heri Budi Santoso, yang akrab disapa Budi. Hanya, luka Budi tak separah sang istri.

Saat ditemui Surya, Sabtu (24/10), Budi menuturkan bencana itu hanya muncul sesaat tidak sampai satu menit. Setelah terdengar suara gemuruh, langsung diikuti enam rumah ambruk.

“Kami bersama anak sedang nonton televisi. Istri saya merunduk mendekap Indra (anak, Red), saya menggendong ibu saya (Ny Suyuti, Red) yang sudah sepuh,” kenang Budi, yang mendampingi Susiyati di RSUD Nganjuk.

Sabtu (24/10) siang Susiyati dirujuk ke RSUD Nganjuk. Sebelumnya, Jumat (23/10) malam hingga Sabtu pagi, Susiyati dan Budi dirawat di RSUD Kertosono. “Kalau tidak ada istri saya, saya tidak tahu nasib Indra,” tambah Budi.

Saat itu, menjelang magrib, keluarga Budi berada di ruang tengah melihat acara televisi. Indra minta dibuatkan teh. Ketika hujan semakin deras dan diikuti angin ribut keluarga Budi semburat dari ruang tengah.

Budi menggendong ibunya sewaktu rumah ambruk, sedangkan Susiyati mendekap anaknya seraya berjalan minta tolong dengan kondisi darah mengucur deras dari kepala dan punggung. “Saya tidak tahu apa yang terjadi kemarin. Spontan, saya melindungi anak saya,” kata Susiyati, lirih.

***

TIDAK hanya di Nganjuk, puting beliung juga melanda sebagian wilayah Kabupaten Sampang, Madura, yaitu di tiga desa di Kecamatan Karang Penang (Karang Penang Oloh, Poreh, dan Bulmateh). Sedikitnya 80 rumah warga rusak berat dan ringan, serta tiga orang terluka setelah dihajar puting beliung, Sabtu (24/10) dini hari.

Kondisi tiga desa itu memprihatinkan. Di Desa Karang Penang Oloh, misalnya, tampak 15 rumah warga mengalami rusak berat dan 15 rusak ringan; sedangkan di Desa Poreh 10 rumah rusak berat, 27 rumah rusak ringan; dan di Bulmateh 10 rumah rusak parah, dan 13 rusak ringan.

“Rumah-rumah yang rusak berat kebanyakan terbuat dari kayu dan gedhek. Saat dilanda putting beliung rumah-rumah tersebut rata dengan tanah karena tidak punya kekuatan,” kata Maksoem, camat Karang Penang.

Pascabencana banyak warga mengalami trauma dan tidak berani masuk ke rumah masing-masing karena takut akan ada angin puting beliung susulan. Maksoem menambahkan, pihaknya sudah menerima bantian dari Pemkab Sampang untuk diteruskan kepada para korban bencana angin puting beliung tersebut.

Salah satu korban sekaligus saksi mata, Fauzan, 33, warga Dusun Becarbeh, Desa Karang Penang Oloh, mengungkapkan, saat kejadian dirinya melihat angin berputar kencang dari arah timur laut. Fauzan pun panik dan berusaha melarikan diri menjauhi rumah bersama keluarganya.

Setelah menyelamatkan diri, dia melihat dari kejauhan, gudang di belakang rumah tempat dirinya berjualan material bangunan disapu puting beliung. Akibatnya, bagian atas gudang, seperti genteng, plafon, dan seng, terlempar ke atas; sedangkan gudang Fauzan rata dengan tanah.

“Runtuhnya gudang memakan korban satu orang pekerja saya luka, yaitu Sumar. Dia luka di kepala, dan harus dirawat di puskesmas,” kata Fauzan.

Di Kabupaten Jember, hujan deras yang diikuti dengan angin puting beliung, Sabtu (24/10) siang, membuat puluhan bangunan rusak, pohon tumbang, gudang tembakau roboh dan tiang listrik serta telepon rusak. Bencana itu terjadi sekitar 13.00 WIB.

Beberapa pohon tumbang di Jalan Gajah Mada, Kecamatan Kaliwates; dan Jalan Subandi, Kecamatan Patrang. Pohon-pohon tumbang melintang di jalan sehingga membuat arus lalu lintas terhambat.

Sedikitnya enam rumah dan tiga warung rusak di Lingkungan Kreyongan Atas, Kelurahan Kreyongan, Patrang rusak. Kerusakan terjadi di bagian genteng.

“Ada yang gentengnya jatuh, ada yang juga beterbangan hingga habis. Warung saya juga roboh,” keluh Aris, pemilik warung di Jalan Subandi, Patrang.

Di Kecamatan Mumbulsari beberapa gudang tembakau roboh karena disapu angin puting beliung. Sedangkan atap sebuah pusat pertokoan di kawasan Mandiri Land, Kaliwates, juga terbang terbawa angin. (st33/st9/pbc)

Read more..

ANSOR Trenggalek Dibubarkan Gus Ipul


Trenggalek, PrigiBeach.com

Kedatangan Gus Ipul ke Trenggalek ternyata membawa bencana bagi Pengurus Ansor Trenggalek, karena kemarin Selasa (6/10) dia membawa SK pembekuan PC GP Anshor Trenggalek.

Sk bernomor 079/ PP/SK 01X/ 2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Pembekuan Pimpinan cabang Gerakan Pemuda Anshor Trenggalek yang langsung ditandangani serta diserahkan oleh Gus Ipul kepada carteker H. Rahmad Mustaqim dan wakilnya Fatukulloh di ruangan aula pendopo Trenggalek. Secara tertutup dari Media acara ini disaksikan sebagian fungsionaris Partai Kebagkitan bangsa Trenggalek .

Terpisah baik Gus Ipul maupun fungsionaris yang lain puasa bicara dengan wartawan yang sudah sejak pagi menunggu acara penting itu. “saya no comment, tanya ke mas Kholik saja “ Elak Gus ipul. Sedangkan Kholik, SH yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPC PKB Trenggalek buru-buru menaiki mobil sedannya. Ketika wartawan mencoba menghubungi lewat Hp-nya ternyata juga mati.

Dalam kesempatan itu Amin Tohari sekretaris hasil penunjukan menegaskan kalau itu harus dilaksanakan oleh fungsionaris. “Baik keputusan maupun kebijakan Ketua Umum harus kita laksanakan mapun kita dukung : ”Tegas mantan anggota dewan periode kemarin itu. “ kalu ada yang masih mengaku atau mengatasnamakan anggota maupun pengurus selain dari SK ini berarti mereka itu illegal" imbuhnya.(pbc)

Read more..

Blog Sahabat Saya

Recent Posts