> Prigibeach Trenggalek
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Memulai Bisnis di Facebook

Memulai Bisnis di Facebook
 

Bisnis Online. Tulangpunggung Perekonimian Masa Depan
By : Hamzah Abdillah
Facebook memiliki fasilitas profile, itu yang kita semua ketahui dan gunakan pada saat ini. Memanfaatkan profile sebagai sarana berbisnis di internet memang tidak salah, tetapi facebook tidak mendukungnya. Facebook membuat profile sebagai tempat kita memperkenalkan profile pribadi kita. Dan banyak keterbatasan profile apabila hendak digunakan sebagai tempat melakukan bisnis. 

Dua di antaranya yang paling penting adalah, profile hanya mampu menampung 5000 orang teman saja. Lebih dari 5000 maka kita tidak bisa menambah teman lagi. Bayangkan kalau ini digunakan sebagai bisnis kita. Apakah kita hanya mau customer kita sejumlah 5000 orang saja? Dan yang kedua adalah, dengan profile, kita tidak mampu memberikan info update atau message langsung ke seluruh customer kita. Kedua batasan tersebut sangat menghambat proses bisnis kita. Bayangkan kita tidak bisa memiliki lebih dari 5,000 customer, dan kita tidak mampu memberi tahu mereka semua tentang produk terbaru yang kita miliki. Percuma saja memiliki banyak customer kan. 

Tetapi facebook memberikan solusi yang masih sangat jarang diketahui banyak orang. Facebook memiliki Public Profile atau Pages yang memang bisa ditujukan untuk bisnis. Untuk Anda yang ingin berbisnis, saran saya adalah, segera buat Pages. Anda bisa mengclick link bertuliskan ‘Advertising' di bagian bawah halaman Facebook. Anda cukup memiliki satu profile saja dan Anda bisa membuat banyak Pages untuk bisnis Anda.
Membuat Pages sama persis dengan membuat Profile, perbedaannya hanyalah Pages bisa memiliki fans yang tidak terbatas, sehingga Anda bisa mempunyai customer yang banyak. 

Pages bisa mengirimkan message ke seluruh fans dalam sekali waktu. Pages juga diindex oleh Google yang artinya halaman Pages Anda bisa muncul di pencarian oleh Google. Dan halaman Pages juga lebih bisa diatur sesuai kebutuhan, sebagai contoh, ketika ada fans berkunjung, apakah dia langsung membuka wall Anda atau info atau photo. Semuanya bisa Anda atur sesuai kebutuhan. Perbedaan Pages dengan Profile yang jelas adalah, di Pages, Anda tidak bisa add friend seperti di Profile. Teman Anda harus menambahkan Pages Anda secara sukarela. 

Setelah membaca artikel singkat ini, segera buat Pages Anda dan promosikan bisnis Anda, ada 10juta pengguna facebook di Indonesia pada saat artikel ini saya tulis. Tidak mungkin 10jt orang tidak ada 1 orang pun yang tidak membutuhkan produk yang Anda jual. Jika Anda melakukannya dengan benar, tidak mungkin Anda tidak mendapatkan income dari facebook.
Read more..

Pria Berjenggot di Bilik Sembilan

SEPASANG suami istri datang ke warung Internet di lantai dua rumah toko Multiplus di Pamulang, Banten, menjelang tengah hari, Selasa pekan lalu. Sang suami yang menyewa komputer. Istrinya keluar lagi, menuju Salon Rinova di kompleks ruko yang sama.

Seorang berperawakan tinggi besar dan berjenggot datang beberapa menit kemudian. Ia segera ke lantai dua toko itu, mengambil tempat bilik komputer nomor sembilan. Sidik, -petugas Multiplus yang berjaga di lantai satu, mengenalinya. "Dia sudah tiga kali ke sini," kata pemuda 20 tahun ini.

Tak berapa lama, datang lagi seorang pria. Ia pun menuju warnet, tapi segera turun dan keluar. Tak lama ia datang lagi bersama tujuh orang bersenjata lengkap. Mereka menyerbu. Sidik mendengar suara tembakan beberapa kali. Ia diam ketakutan. Belakangan ia mengetahui, pria berjenggot itu tewas ditembak anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian.

Dialah pria yang tinggal di Jalan Asem, sekitar 300 meter dari Multiplus. Kepada para tetangga, ia mengaku bernama Yahya Ibrahim, bekerja di ruang pamer mobil dan sepeda motor. Tapi sehari kemudian, Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengumumkan Yahya adalah Dulmatin, tersangka teroris yang diburu sejak 2002. "Tingkat kesalahannya 1 dibanding 100 ribu triliun," katanya.

l l l

DUA pemuda duduk di halte bus Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Yang pertama Fathurrahman al Ghozi, veteran Afganistan asal Madiun, Jawa Timur. Yang lain Abdul Jabar, pemuda 33 tahun. Suatu siang pada Juli 2000, mereka mengamati target serangan: rumah Duta Besar Filipina. Jabar bertanya tentang alasan pemilihan sasaran. Yang ditanya balik bertanya, "Kau tahu kamp Abubakar?"

Jabar mengaku pernah melihat berita televisi tentang serangan tentara Filipina ke kamp pelatihan militer kelompok Jamaah Islamiyah di Mindanao, wilayah selatan negara itu. Ghozi menetap di kamp Abubakar sejak 1996, dan baru tiba di Jakarta beberapa hari sebelum pengamatan. "Kamp itu sudah lenyap," Ghozi menjelaskan. "Kita akan membalas dendam untuk itu." Mereka mengamati sasaran hingga sore, dan menemukan fakta penting: setiap tengah hari Duta Besar pulang untuk makan siang.

Pada saat yang sama, Amrozi, 37 tahun, yang tinggal di Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur, sibuk mencari mobil pembawa bom. Dalam waktu singkat, ia mendapat Suzuki van -merah. Ia mengikis nomor kerangka mobil itu. Di tengah kesibukan, ia menerima telepon dari Dulmatin, yang menyuruhnya membeli bahan kimia untuk membuat bom: 200 kilogram potasium klorat, 25 kilo sulfur, dan 25 kilo bubuk aluminium.

Mobil dan bahan pesanan itu segera dibawa ke rumah Dulmatin di Pekalongan, Jawa Tengah. Bom segera dirakit. Tuan rumah mencampur bahan kimia dengan tangan: sembilan kilo potasium klorat untuk setiap tiga kilo sulfur dan tiga kilo bubuk aluminium. Tiap porsi dimasukkan ke wadah plastik, dilubangi atasnya buat memasukkan detonator. Dulmatin lalu memasukkan tas ke mobil, berisi detonator jarak jauh yang dimodifikasi. Walkie talkie bekas dipakai untuk memicu ledakan dari jarak maksimal 500 meter.

Dulmatin, Amrozi, dan enam orang lainnya bergegas menuju Jakarta. Di Ibu Kota mereka bertemu dengan Abdul Jabar dan Usman, anggota komplotan lainnya. Waktu serangan telah diputuskan, 1 Agustus 2000. Sisa hari sebelum tanggal itu mereka manfaatkan buat memasang sumbat dan kawat peledak.

Pada hari serangan, Usman memarkir mobil bom di dekat gerbang rumah Duta Besar Filipina. Pada pukul 12.30, Mercedes Duta Besar Leonides Caday tiba. Ghozi berjalan di trotoar mendekati sasaran agar mencapai jarak 500 meter. Klik, ia menekan handy talkie. Dalam sedetik, bunyi gelegar membahana. Caday yang duduk di kursi kiri belakang terluka: empat tulangnya patah, darah mengucur dari tubuhnya yang dihantam pecahan kaca. Tapi ia selamat. Bom membunuh seorang petugas satpam dan seorang perempuan pejalan kaki. Belasan orang lainnya luka luka.

Inilah "karya" pertama Dulmatin dalam curriculum vitae terorismenya. Tetap menjadi perakit bom, ia bergabung kembali dengan Usman dan Abdul Jabar pada akhir tahun yang sama. Dalam proyek pengeboman malam Natal, mereka memilih tiga gereja Katolik dan tiga gereja Protestan di seluruh penjuru Jakarta. Serangan kali ini gagal karena Abdullah, si pembawa bom, ketakutan sehingga bom-bom ia letakkan dan meledak di luar kompleks gereja sasaran. Setelah serangan, mereka lari ke Jawa Tengah. Esok paginya, mereka menonton televisi di rumah Dulmatin di Pekalongan yang mengabarkan peledakan.

l l l

PUNCAK kejahatan Dulmatin dilakukan di Bali. Ia tiba di Denpasar pada 6 Oktober 2002. Kali ini ia bergabung dalam komplotan bersama dua warga negara Malaysia, Doktor Azahari dan Noor Din M. Top, serta Imam Samudra, Umar Patek, dan Abdul Ghoni. Amrozi kembali bergabung bersama kakaknya, Ali Ghufron, dan adiknya, Ali Imron. Mereka menjadikan sebuah rumah di Jalan Pulau Menjangan sebagai markas.

Dulmatin merakit tiga bom. Untuk ledakan pengalihan, bom dipasang dalam enam kantong dijahit dalam rompi, masing masing berisi enam pipa PVC dengan sebatang dinamit. Bom kedua untuk Konsulat Amerika Serikat, hanya terdiri atas bungkusan lima kilogram dinamit terhubung dengan detonator jarak jauh, memakai telepon seluler Nokia. Dua bom ini dipakai hanya untuk simbol serangan, bukan untuk membuat kerusakan.

Bom utama ditaruh dalam mobil L300, yang dibeli Amrozi atas perintah Imam Samudra. Total ada satu ton lebih campuran potasium klorat, sulfur, dan bubuk aluminium sesuai dengan resep 3:1:1. Campuran dimasukkan ke empat laci beberapa lemari plastik, disambungkan dengan kawat dan detonator buatan India.

Dengan seluruh kemampuan elektroniknya, Dulmatin membuat papan sirkuit yang terhubung ke baterai 9 volt. Diletakkan dalam wadah tertutup, sirkuit menghantarkan listrik ke detonator dengan empat metode: dengan sinyal telepon seluler, pengatur waktu, pemicu manual, atau pemicu otomatis. Bom raksasa ini mendapat sentuhan terakhir dari Azahari, ahli bom komplotan itu.

Pada 12 Oktober 2002, bom pengalihan diledakkan di Sari Club, Legian. Bom utama meledak beberapa menit setelahnya, meluluh lantakkan Paddy's Club. Malam Minggu di Pulau Dewata menjadi petaka, 202 orang tewas. Sebagian besar warga negara Australia, termasuk rombongan pemain rugbi yang sedang berlibur.

Tatkala berita pengeboman disiarkan langsung di televisi, Dulmatin dan Azahari telah berada di Jawa. Ketika polisi menggelar operasi pengejaran dan menangkap sebagian besar penjahat, Dul menyeberang ke Filipina Selatan. Ia bergabung dengan kolega lamanya, Al Ghozi.

Dianggap terlibat kasus terorisme di negara itu, mereka diburu tentara setempat. Pemerintah Amerika Serikat menjanjikan hadiah US$ 10 juta bagi siapa pun yang bisa menangkap atau membunuh Dulmatin. Tak mengherankan, setidaknya tiga kali tentara Filipina mengklaim berhasil membunuh pria bernama asli Joko Pitono itu.

l l l

JEJAK Dulmatin tercium pada awal 2008. Dari wilayah Filipina Selatan, ia berkomunikasi dengan beberapa aktivis di Tanah Air. Setahun kemudian, menurut keterangan sejumlah sumber, ia benar benar tiba di Jakarta. Ia memutar masuk melalui Batam menggunakan paspor atas nama Yahya Ibrahim yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Jakarta Timur.

Menurut Mawi Hartono, ketua RT yang membawahkan Jalan Asem, Pamulang, Yahya Ibrahim menetap di wilayahnya sejak 13 April 2009. Di KTP yang dibawanya, Yahya ditulis lahir di Jakarta, 2 Januari 1973. Alamatnya Jalan Masjid Fathul Ghofur RT 1/RW 4, Kelurahan Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur.

Yahya tinggal di rumah kontrakan milik Fauzi Syarief, mantri kesehatan. Ia mengaku kerja di ruang pamer motor di Ciputat. Tak lama, Yahya menampung dua pria lainnya, mengaku sebagai Umar dan Muhammad Subqha. Kepada tetangga, Umar menyebut dirinya mahasiwa Universitas Islam Negeri Sya-rif Hidayatullah. Subqha menyatakan kerja bersama Yahya menjual motor.

Yahya sering berkunjung ke rumah kontrakan pasangan Marko dan Tari, 300 an meter dari tempat tinggalnya. Kontrakan di Jalan Madrasah ini juga dihuni Nurhasan dan Ridwan, belakangan disebut sebagai pengawal Dulmatin. "Yahya berkunjungnya malam hari," kata Imas, yang tinggal di rumah kontrakan sebelah Marko. Ketika datang, biasanya mereka, "Bolak balik dulu, baru masuk rumah. Seperti melihat situasi."

Empat bulan setelah kedatangan -Yahya alias Dulmatin di Pamulang, bom bunuh diri meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton, Jakarta Selatan. Aksi teror ini membuat polisi mengerahkan segala kekuatan buat mengejar kom-plotan pelaku teror. Puncaknya tercapai pada 17 September 2009, ketika Detasemen Khusus 88 menembak mati Noor Din M. Top di Solo, Jawa Tengah.

Setelah kematian Noor Din, menurut keterangan sejumlah polisi, kelompok Jamaah Islamiyah menunjuk Dulmatin menjadi pemimpin militer. Ia melakukan koordinasi dan mulai merekrut pasukan. Ia bergabung kembali dengan kolega lamanya: Abdullah Sunata dan Pura Sudarma alias Jaja. Sunata pernah dipenjara karena dituduh me-nyembunyikan Noor Din. Adapun Jaja buron lama, memimpin sejumlah pelatihan dan merekrut para pelaku peledakan bom bunuh diri, termasuk Ikhwan Maulana yang meledakkan Ritz Carlton, tahun lalu.

Awal Januari, mereka mulai menggelar tadrib alias pelatihan militer, yang diwajibkan dalam jihad, di wilayah -Jantho, Aceh Besar. Pesertanya datang dari sejumlah daerah, termasuk Jawa Tengah dan Jakarta. Salah satunya -Sapta Adi alias Ismet Hakiki alias Syailendra, pria asal Banten yang tinggal di Petamburan, Jakarta Pusat. Pada 2004, jejaknya terlihat dalam bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Ia meminjamkan sepeda motornya buat Azahari dan Muhammad Rois, buat mengawasi aksi proyek itu.

Malik, tetangganya, mengatakan Syailendra pernah bekerja menjadi petugas satpam di Plaza Senayan. Ia bertemu dengan Syailendra, akhir tahun lalu. "Waktu itu dia bilang mau ke Aceh," katanya kepada Tempo.

Menurut Malik, Syailendra acap kali hilang dan muncul. Kalau pulang, kata dia, Syailendra ditemani orang orang berbeda. Ia pernah melihat tetangganya itu datang bersama lima orang, rata-rata 20 tahun. "Waktu itu dia juga pernah ngajak orang Petamburan, tapi enggak berhasil," tuturnya.

Polisi tak ketinggalan langkah. Mereka mengendus kegiatan ilegal di Aceh. Pada 22 Februari, Detasemen Khusus menyerbu tempat latihan. Belasan orang ditangkap, termasuk Syailendra dan rekannya dari Banten, Zaky Rahmatullah, serta Yudi Zulfahri dari Aceh. Yudi, lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, paling banyak buka suara.

Menurut sumber di detasemen, ketiga tersangka menyebutkan satu nama: Mansur. Dalam pertemuan-pertemuan di Jakarta, Mansur mengaku tinggal di Pamulang. Dialah yang mengkoordinasi pengiriman peserta dari luar Aceh, memasok senjata, serta membiayai pelatihan. Karena menganggap sebagai tokoh penting, detasemen menyelidiki- laki laki itu. Data hasil pemeriksaan Syailendra, Zaky, dan Yudi segera dikirim ke Jakarta.

Bersamaan dengan operasi di Aceh, detasemen ternyata juga menggelar aksi rahasia. Mereka membuntuti anggota anggota jaringan Jamaah Islamiyah di Jakarta. Salah satunya seseorang bernama Yahya di Pamulang. Ia menarik perhatian karena aktif sekali menjalin kontak dengan kelompok Jamaah Islamiyah di Filipina, baik melalui e-mail maupun telepon. Anggota detasemen memotretnya dari kejauhan. "Tapi kami belum tahu, siapa pria yang kami buntuti ini," kata sumber Tempo.

Data dari Aceh merangkai informasi penting. Detasemen menyimpulkan, Mansur sama dengan Yahya yang mereka buntuti di Pamulang. Mereka lalu menunjukkan foto Yahya kepada Yudi, yang langsung berseru: "Dialah Mansur."

Hasil analisis dan cek silang ke bank data yang mereka miliki, detasemen juga menyimpulkan, Mansur alias Yahya ternyata adalah Dulmatin. Tim antiteror kepolisian segera dikerahkan buat memburunya. Satu tim diterjunkan ke Cipayung buat memburu Abdullah Sunata. Rumahnya kosong. Satu tim ke Depok buat mengejar Sofyan dan berhasil menangkap desersi polisi itu. Satu tim lainnya dikirim ke Pamulang, menyerbu Yahya alias Mansur alias Dulmatin.

Tim di Pamulang menyamar dengan berbagai rupa. Sebagian mondar mandir di sekitar rumah Yahya. Sebagian menyewa komputer di lantai dua Multiplus. Senin pagi pekan lalu, mobil minibus Elf warna perak parkir tak jauh dari Multiplus. Sukirman, sopir taksi Koperasi, menduga itu mobil polisi yang sedang mengintai. "Soalnya mobil itu datang lagi esok harinya," ujarnya.

Kali ini mobil Elf beriringan dengan empat Avanza. Mereka parkir di luar Multiplus. Terlihat juga satu mobil boks. Beberapa menit setelah pria berjenggot masuk toko multiguna itu, orang orang bersenjata laras panjang keluar dari mobil dan menyerbu lantai dua. Tembakan terdengar dalam sekejap.

Sejam kemudian, anggota -detasemen menyerbu rumah Yahya alias Dulmatin. Tiba tiba dua orang melesat mengendarai sepeda motor Suzuki Thunder. Tiga puluh meter dari jalan besar, polisi menembak mereka. Keduanya Ridwan dan Hasan Nur, pengawal Dulmatin. Di rumah itu, polisi juga menangkap dua orang bernama Bakti Rahma alias Abu Haikal dan Syaiful Siregar alias Imam.

Kurang dari setahun setelah kepulangannya dari Filipina Selatan, Dulmatin tewas. Curriculum vitae-nya berakhir di tempat persewaan komputer.

Sumber : Tempo - Budi Setyarso, Chetta Nilawati (Jakarta), Joniansyah (Banten), Jalil Hakim (Bali)


Read more..

Trenggalek : Demokrasi Adalah Suara Hati Nurani Rakyat


Demokrasi Adalah Suara Hati Nurani Rakyat

Oleh : Hamzah Abdillah


Ada pola dalam ragam peristiwa sepanjang ingatan manusia yang tampaknya acak itu. Pola itulah yang kemudian membentuk hukum-hukum sejarah. Sejarah digali agar bisa berulang, atau sebaliknya agar tidak lagi pernah terjadi. Dalam kehidupan politik bangsa kita, segalanya jadi berbeda sejak Reformasi Mei 1998. Terutama setelah rakyat Indonesia bisa relatif lebih bebas untuk mengaktualisasikan dirinya, dalam korridor politik dan sosial budaya.

Rabu, 2 Juni 2010, kita akan menyelenggarakan pesta demokrasi, berupa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk menentukan sang Pemimpin, yakni Pasangan Bupati dan wakilnya. Lantas, apa sajakah pola-pola yang akan diterapkan Tim Sukses atau Parpol pengusung kandidat calon Bupati?

Suara Partai Bukan Jaminan Mutlak

Memori pemilih di daerah ini cenderung pendek, sehingga masa kurang dari 125 hari menjelang Pilkada bagi pemerintah dan partai politik merupakan fase paling krusial. Aktivitas lawan politik/pemerintah (oposisi) akan meningkat dan menjadi tren karena dipandang strategis untuk mengumpulkan modal politik bagi pilkada tersebut. Politisi akan kembali memperkuat partainya, sehingga partai menjadi faktor terpenting dalam pengambilan kebijakan publik.

Berdasarkan fakta, Partai Politik sebagai Organisasi Politik yang sudah memiliki jaringan sampai ke level akar rumput (grass root), sangat dibutuhkan oleh para kandidat. Pertama sebagai persyaratan administratif dalam UU Politik Indonesia bahwa salah satu yang berhak -disamping calon independen- mencalonkan Kepala Daerah adalah Partai Politik atau Gabungan Partai Politik yang memiliki 15% perolehan suara atau perolehan kursi DPRD pada Pemilu legislatif.

Kedua, sebagai aset strategis dan mesin politik untuk menggerakkan dan menjalankan strategi dan program pemenangan dengan sumberdaya yang dimiliki oleh Partai seperti jaringan, SDM, citra maupun strukturnya sampai tingkat yang terbawah.

Akan tetapi mengandalkan kekuatan Partai saja belumlah cukup. Apalagi kalau menggunakan logika matematika hasil suara Partai pada Pemilu Legislatif yang lalu, untuk mengukur kemenangan pada Pilkada. Sekalipun PDI-P Trenggalek sudah berkoalisisi dengan PKB, dengan akumulasi kursi di DPRD Trenggalek sebanyak 15 berbanding 30 anggota dari partai lain, bisa saja terjadi justru Mulyadi menjadi pemenangnya. Atau mungkin akan merupakan kejutan bila tiba-tiba calon independent seperti Mahsun Ismail yang akan duduk sebagai Bupati Trenggalek periode 2010-2015!

Posisi Motivasi Partai dan Figur Sang Kandidat

Banyak faktor yang menentukan kemenangan kandidat Kepala Daerah, disamping hasil perolehan suara Partai pada Pileg/Pilpres yang lalu, efektifitas dan daya gerak sumber daya manusia Partai yang diistilahkan dengan mesin politik partai dengan Tim Suksesnya lebih menentukan. Kemudian dari itu yang sangat penting berikutnya adalah citra dan popularitas kandidat di mata pemilih, strategi marketing, strategi public relation, lama waktu kandidat memperkenalkan dirinya ketengah masyarakat, kinerja dan track recordnya selama ini, frekuensi dan kualitas penampilan kandidat di media massa, performance, kompetensi, pesona fisik maupun "aura" yang dipancarkan oleh kandidat yang mempengaruhi pasar politik yang terdiri atas tiga bagian yaitu : pemilih, kelompok berpengaruh (influencer groups) dan media massa.

Satu hal yang menjadi modal utama dari para kandidat yang sekarang ramai di bursa calon. Mulyadi WR yang diprediksi akan berpasangan dengan Samudi(saudagar sukses) adalah sosok yang pernah menjabat Bupati Trenggalek Periode 2000-2005. Mulyadi lengser dari posisinya sebagai Bupati terbukti tanpa cela/aib baik di mata hukum maupun politik dan birokrasi. Selanjutnya, kekalahan Pasangan Mulyadi dari pasangan Soeharto pada Pilbup 2005, hanya selisih beberapa digit. Itu artinya, Mulyadi sudah tenar di masyarakat, serta menjadi tokoh yang layak diusung, sebagai figur yang pantas kembali menduduki kursi kekuasaan di daerah ini.

Soeharto yang besar kemungkinan akan berpasangan dengan Cipto Wiyono (Sekkab Trenggalek), adalah Bupati Trenggalek Periode 2005-2010 alias incumbent. Masyarakat sudah mahfum siapa figur yang satu ini. Kiprahnya di blantika birokrasi dan kekuasaan memang baru menonjol tatkala dia terpilih sebagai Bupati pada Pilbup 2005 lalu. Sebelumnya, dia banyak menghabiskan masa produktifnya di luar kota sebagai seorang staf teknis di Telkom. Namun, penampilannya selama menjabat Bupati cukup "mempesona" bagi rakyat kecil utamanya di pedesaan. Tokoh kelahiran Trenggalek, 09 Desember 1949, ini disebut-sebut cukup bijaksana dan merakyat.

Mahsun Ismail yang sudah memastikan berpasangan dengan Joko Irianto (Camat Pule), adalah sosok yang humanis, seorang muslim yang sanggup bersikap netral terhadap berbagai issu-issu agamis, politik maupun organisasi. Sejak muda sudah tenar oleh kepiawaiannya dalam berorasi, berolah vokal serta berani mengambil sikap yang saat itu terbilang kontroversial dalam pandangan kiyai sepuh. Tokoh GP Anshor, berangkat dari bawah sebagai anggota Banser.

Jangan anggap enteng kandidat yang satu ini, sebab kendati PKB berkoalisasi dengan PDI-P mendukung Mulyadi WR, ada kemungkinan massa Anshor (NU dan PKB) pada akar rumput di pelosok justru tidak mematuhi keputusan elite politik/organisasinya. Terlebih lagi, selama menjabat sebagai Wakil Bupati Trenggalek pada masa berduet dengan Mulyadi WR hingga sekarang bersama dengan incumbent H. Soeharto, terpeta jelas di mata masyarakat bahwa Mahsun Ismail sangat humanis. sosial, jujur dan transparan. Juga aktivis gerakan Pramuka, PMI dan berbagai organisasi sosial masyarakat. Bahkan semasa mudanya dulu pernah menjadi TKW di Malaysia, sehingga merupakan modal baginya untuk selalu mawas diri dan peduli pada rakyat jelata.

Selanjutnya, Sutarman -mantan Dandim Trenggalek- juga akan tampil sebagai Cabup/Cawabup. Tentang figur yang satu ini, belum banyak tahu. Saat ini para pendukung dan tim suksesnya sedang sibuk menggalang dukungan dari calon pemilih. Dia akan berangkat dengan tiket independent. Warga Trenggalek belum banyak yang mengenal, barangkali hanya di kalangan TNI/Kodim dan anggota kepolisian angkatan tua saja yang masih mengingatnya. Walapun demikian, bagi para kandidat yang disebutkan terdahulu, sebaiknya nama Sutarman juga diperhitungkan sebagai saingan yang cukup "ulet" dan bisa meraup suara pemilih cukup besar.

Strategi Kampanye dan Penjaringan Simpatisan

Pilkada kali ni, perlu diterapkan beberapa pola yang pada intinya melakukan tiga hal utama:
Pertama, menentukan isu-isu yang dinilai penting oleh segmen calon pemilih (biasanya berdasar jajak pendapat). Kedua, membuat analisis penentuan isu yang paling menguntungkan individu kontestan dan mengabaikan isu-isu persoalan lain (meski itu dalam platform partai merupakan isu sentral sekalipun). Ketiga, merekayasa citra kontestan sesuai isu persoalan yang dipilih, merancang pesan dan simbol yang diperlukan, serta merencanakan pemanfaatan media, semuanya untuk mengusahakan agar calon pemilih terfokus pada isu yang telah dilekatkan pada kontestan.

Strategi kampanye dari Tim Sukses yang diterapkan bisa beragam, namun umumnya diawali dengan analisis positioning, atau analisis "posisi pasar" partai atau kontestan, yang hasilnya kemudian dipergunakan untuk menentukan langkah strategis selanjutnya. Kontestan yang menempati posisi pasar sebagai nicher (unggul di segmen pemilih tertentu), contohnya, akan menerapkan langkah-langkah strategis hingga taktik serta teknik kampanye yang berbeda dengan kontestan yang menempati posisi sebagai market leader, challenger, dan sebagainya.

Kampanye juga bisa mengarah pada kondisi di mana rekayasa citra individu Mulyadi yang dihasilkan para champaign manager, atau pesona kandidat menjadi lebih penting daripada platform dan isu yang diperjuangkan partai.

Tim Sukses dan Pola Kampanye

Bagi para kandidat yang ada, bisa difigurkan dalam kemasan seorang pahlawan dari masa lalunya. Semuanya dimungkinkan oleh penerapan strategi, taktik, dan teknik komunikasi pemasaran yang sistematis dan rasional. Kreativitas, ide dan karya-karyanya maupun kearifan serta kebijaksanaan masing-masing tatkala menjabat pimpinan Trenggalek hingga menjadi tokoh birokrasi di tingkat propinsi atau sewaktu menjabat sebagai motor dalam berbagai organisasi, adalah umpan paling efektif untuk menjaring simpatisan pemilih.

Salah satu bahan utama untuk pemenangan lainnya adalah Riset Politik. Menurut Johnson (2001), dalam sistem Pemilu yang demokratis, riset politik merupakan alat yang vital. Kandidat akan sulit memenangkan persaingan jika tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan pesaing, perilaku pemilu pemilih, segmentasi pemilih, peta wilayah dan faktor lainnya. Kampanye dan propaganda menurut kandidat semata, akan menyebabkan berpalingnya pemilih ke kontestan lain karena, apa yang disampaikan tidak sesuai dengan aspirasi pemilih. Atau kalaupun kandidat mengetahui apa aspirasi pemilih, namun jika tidak mengetahui cara-cara yang tepat untuk penempatan substansi yang diinginkan, sangat mungkin akan menimbulkan mispersepsi atau pengaburan makna dari pesan yang disampaikan. Atau boleh jadi juga pesaing melakukan pendekatan dengan cara yang berbeda namun lebih efektif, bisa juga dengan cara yang sama pesaing dapat menggagalkan kemenangan kita karena mereka melakukannya dengan lebih baik.

Oleh karenanya, untuk mengantisipasi kemungkinan itu Tim Sukses sang kandidat perlu melakukan riset untuk mengetahui kekuatan dan strategi pesaing. Beberapa kegunaan utama dari riset politik antara lain: pertama, untuk menyusun strategi dan taktik.

Adman Nursal (2004) mengatakan Strategi kampanye politik tanpa riset bagaikan orang buta yang berjalan tanpa tongkat. Sebaliknya riset tanpa sumber daya strategis seperti desain strategi, orang, dana dan sumber daya lainnya ibarat orang lumpuh yang memahami jalan dan peta akan tetapi tidak memiliki kendaraan untuk menuju tempat yang diinginkannya. Kedua, riset untuk memonitor hasil penerapan strategi. Implementasi sebuah strategi, akan menimbulkan respon dari pesaing. Reaksi para pemilih perlu diketahui untuk menerapkan strategi berikutnya. Riset monitor politik berorientasi pada tindakan dan reaksi terhadap kondisi saat ini. Jika hasil riset adalah begini, maka apa tindakan yang akan dilakukan.

Salah satu metode riset yang paling populer adalah dengan poling atau survei. Menurut Kavanagh bahwa penyelenggaraan polling memberi input informasi yang relevan untuk membuat strategi marketing politik, diantaranya adalah : membangun citra, menyusun kebijakan, tracking atau memantau kelemahan dan kekuatannya dari waktu ke waktu dan menetapkan pemilih sasaran yang berdasarkan karakter tertentu yang menjadi targetnya. Menurut Shea dan Burton (2001), kita perlu melakukan riset terhadap profil data pesaing. Riset mengenai data pesaing sangat bermanfaat dalam menyusun strategi marketing politik. Riset yang dilakukan adalah untuk memperkirakan apa yang ditawarkan pesaing untuk masa depan (evaluasi prospektif) dan bagaimana reputasinya dimasa silam (evaluasi introspektif).

Pemanfaatan Jaringan Pertemanan dan Media Informasi

Dewasa ini jaringan facebook, twitter, media massa cetak maupun elektronik juga menjadi senjata yang sangat produktif untuk menangguk suara pemilih. Oleh sebab itu, kandidat dan pasangannya (cawabup) sebaiknya senantiasa aktif berkecumpung di dunia ini. Suatu keuntungan besar bila ternyata Mulyadi dan Mahsun Ismail bersama istri masing-masing ternyata sudah memiliki account facebook atau acount twitter, bahkan mungkin juga YM (yahoo massenger) dan lainnya.

Akan lebih mudah lagi bila pasangan ini memiliki web blog/situs pribadi untuk mensosialisasikan aktulitasnya di mata para netter. Serta secara berkala senantiasa mengekspos figur kandidat kita di media cetak maupun elektronik hingga menjelang hari "H".

Politik Uang dan Pembunuhan Karakter

Kesiapan dan kemauan kandidat kita untuk menerapkan hasil riset yang dilakukan Tim Sukses hendaknya bersinergi. Kandidat dan Tim Sukses sangatlah arif dan bijaksana apabila melakukan cara-cara kampanye dan pemenangan dengan langkah-langkah yang cerdas, dan bukan dengan membodohi pemilih melalui cara-cara yang tidak mendidik seperti menyogok pemilih dengan uang (money politics).

Atau dengan politik yang kotor seperti melakukan fitnah terlebih yang menjurus pada pembunuhnan karakter terhadap pesaingnya. Sebaliknya mengungkapkan track record negatif/jelek pesaing dalam artian sebenarnya supaya menjadi bahan pertimbangan publik boleh saja sebagai alat kontrol sosial.

Politik uang bukan cara yang halal, bahkan sangat menjijikkan dalam sebuah pertarungan demi meraih tampuk kekuasaan. Pembunuhan karakter adalah fitnah yang akan berujung pada kasus hukum bila kemudian diangkat oleh lawan politik yang dihujat. Passtinya, kedua cara tersebut, sangat tidak mendidik bahkan mengancam dinamika politik dan eksistensi demokrasi di daerah Trenggalek.

Inti dari obrolan Cah Nggalek ini, adalah menghimbau agar semua kandidat yang akan maju dalam pemilihan bupati tanggal 2 Juni 2010 nanti, agar bersikap arif, bertindak bijaksana dengan mengedepankan nasib masyarakat Trenggalek untuk jangka panjang. Marilah kita junjung tinggi hukum, peraturan dan perundang-undangan. Demokrasi bukan alat untuk merebut kekuasaan semata, namun di dalam demokrasi ada suara hati nurani rakyat yang bercita-cita untuk menyongsong hari depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Demokrasi untuk mencerdaskan rakyat demi mencapai kehidupan yang sejahtera lahir dan bathin.



Read more..

Melihat Aura, Warna dan Numerologi



Disadur dari buku Energi Aura, Joe H. Slate, Ph.D. Penerbit Gramedia 2003.



Buku manfaat dibaca.
(Kalau anda ingin mencoba warna apa aura anda, bisa mendatangi ke ahli foto aura di Mangga Dua)




Ada warna-warna aura yang akan memengaruhi orang pada karirnya. Coba simak deh ulasan di bawah ini :


PELANGI


Warna aura pelangi adalah warna lengkap dan terbaik di seluruh dunia. Contoh orang-orang terkenal yang memiliki warna pelangi adalah William Shakepeare dan George Washington.
Aura pelangi memiliki ribuan karakter, namun juga sangat peka terhadap ketidakseimbangan dan kekusaman. Karakter pelangi : kecerdasan, keprihatinan pada soal kemanusiaan, pengetahuan berdasarkan intuisi, kejujuran, kemurahan hati, optimisme, dan aktualisasi diri. Aura ini banyak dimiliki oleh seniman.


KUNING


Warna kuning ada pada aura orang-orang yang sangat cerdas, mudah bergaul, dan dapat diandalkan. Warna aura ini bisa dilihat pada pemimpin dan aktivis sosial yang hebat.


BIRU


Gradasi warna ini menunjukkan keluwesan,keseimbangan, ketenangan, dan optimisme. Orang-orang yang sangat murung dan memiliki kecenderungan bunuh diri mempunyai aura berwarna biru gelap (feeling blue).


HIJAU


Para profesional kesehatan; dokter, perawat, psikolog klinis & konseling, psikiater, penyembuh cenayang, dan pekerja sosial umumnya aura yang dimiliki berwarna hijau cerah.


MERAH MUDA


Warna merah muda sering ditemukan pada aura orang-orang berusia lanjut (di atas 100 tahun). Warna ini mencerminkan kemudaan, peremajaan kembali (rejuvenation). Juga warna aura ini ditemukan pada orang yang murah hati, yang telah mencapai puncak sukses. Pandangan politik mereka moderat, dn cenderung minat pada pelestarian sejarah dan kesenian.


COKELAT


Warna aura cokelat pada orang yang memiliki minat yang kuat, pribadi yang praktis, mantap, dan mandiri. Ahli geologi, ekologi, arkeologi, pertamanan, dan pekerja konstruksi hampir selalu mempunyai aura warna coklat. Orang yang memiliki cukup warna cokelat pada auranya biasanya berminat pada kegiatan “outbound”, “hiking”, ski, berburu, mendaki gunung.


Generasi X yang sukses cenderung aura cokelat dan mereka cenderung mengungkapkan ketidapuasan dengan hal-hal rutin karier dan kehidupan di pinggiran kota. Mereka sangat sadar pada kesehatan, artinya mereka akan menyempatkan diri untuk olahraga. Kaum ini pandai bergaul dan ramah, tetapi menghargai privasi dan menjaga jarak… (”jaim”)..


Pengusaha yang sukses dan jutawan hasil keringat sendiri pasti wilayah aura cokelatnya luas.
Pimpinan perusahaan dengan aura cokelat : tegas, praktis dan mandiri, meski pun punya anak buah yang handal dan penasihat ulung, si “cokelat” ini merupakan pembuat keputusan yang yakin akan diri sendiri, tegas, dan mahir, dan terampil. Mereka cepat bertindak selagi situasinya bagus.


TAPI INGAT ; COKELAT AKAN KUSAM AURANYA KALAU MEROKOK.


UNGU


Warna ini masuk dalam aura abstrak, jarang ditemukan. Biasanya ada pada orang-orang dengan minat falsafah dan abstrak, mereka memiliki kreatifitas dan artistik, tapi mementingkan intuisi dibanding pendapat para pakar. Mereka mudah kaya materi, kecerdasannya rata-rata, dan memiliki keterampilan verbal yang unggul. Warna ungu didominasi oleh para pendeta, filsuf, dan teoritikus.


ORANYE


Warna ini biasanya ditemukan pada peraih sukses yang sejati. Mereka mandiri dan menyukai persaingan, tapi memilki keterampilan yang menakjubkan dalam politik dan penjualan.
Suka menutupi kelemahannya, kendati suka menghargai hubungan interaksi sosial yang positif, mereka cenderung extrovert, dan sulit membina hubungan untuk waktu jangka panjang. Warna oranye hilang dalam auranya, ini dikaitkan dengan ketidaksabaran, egois, rendahnya teoleransi terhadap kekecewaan, dan emosional.


ABU-ABU


Disebut warna pemberi isyarat. Abu-abu dikaitkan dengan isyarat akan datangnya penyakit, permusuhan, dan maut apabila warna itu muncul di sepanjang aura. Orang dengan organ yang tidak berfungsi, muncul warna abu-abu di wilayah itu.


MERAH


Merah seringkali dikaitkan dengan perilaku yang menuruti emosi yang kuat, termasuk amarah yang meledak-ledak. Misalnya perasaan sedih dan perasaan cemburu. Ungkapan “seeing red” secara harfiah bisa diartikan isyarat kemarahan. Penjahat kambuhan, terpidana karena kejahatan kekerasan akan tampak benang aura merah.. Anak-anak yang agresif, mahasiswa laki-laki yang aktif dalam kegiatan olahraga keras ditemukan hubungan yang jelas antara wilayah merah aura dengan kebutuhan petualangan.


HUBUNGAN WARNA DENGAN NUMEROLOGI


Kata Pythagoras (550 SM); Jika tiap angka memiliki makna selain untuk mengungkapkan jumlah, seperti yang diungkapkan Agrippa pada 2000 tahun kemudian, maka seharusnya kita tidak heran jika kita menemukan bahwa frekuensi energi berkaitan dengan frekuensi energi aura.


Berikut adalah ringkasan hubungan angka lahir dengan warna dalam aura :


Angka lahir 1. Warna aura oranye, menandakan mandiri, dan mempunyai tekad yang kuat untuk meraih prestasi.


Angka lahir 2. Warna aura biru muda. Menandakan keseimbangan dan ketenangan.


Angka lahir 3. Warna aura merah muda. Menandakan bakat dan kecerdasan di banyak bidang.


Angka lahir 4. Warna aura cokelat. Menandakan keteguhan hati dan sikap praktis.


Angka lahir 5. Warna aura merah, ditemukan juga yang warna aura pelangi. Dikaitkan dengan keragaman, intensitas, dan kegairahan.


Angka lahir 6. Didominasi warna aura kuning. Menandakan dapat diandalkan, cerdas, dan mampu bergaul.


Angka lahir 7. Ada pada aura warna ungu. Minatnya pada hal yang abstrak.


Angka lahir 8. Ditemukan pada prang-orang dengan aura gabungan warna hijau dan kuning. Menandakan sukses, dan memiliki potensi yang kuat untuk meraih sukses.


Angka lahir 9. Warna aura hijau. Menggambarkan usaha aktualisasi diri serta memiliki kepedudlian pada segala hal.


BAGAIMANA MENCARI ANGKA LAHIR?


Untuk menentukan angka lahir, kita harus menggunakan kunci angka/alfabet berikut :


A B C D E F G H I
J K L M N O P Q R
S T U V W X Y Z -
1 2 3 4 5 6 7 8 9


Contoh : Untuk tanggal lahir 16 September 1975, digit tunggal angka hari lahirnya dihitung sbb :


S E P T E M B E R 1 6 1 9 7 5 =
1+5+7+2+5+4+2+5+9+1+6+1+9+7+5 =69=6+9=15=1+5=6


Tabel tokoh-tokoh yang memiliki aura yang dominan dan tokoh terpilih :


1. George Washington, 22 Februari 1732, angka lahir 5, warna aura pelangi.
2. Abraham Lincoln, 12 Februari 1809, angka lahir 9, warna aura hijau.
3. Alexander G. Bell, 3 Maret 1847, angka lahir 3, warna aura merah muda.
4. Albert Einstein, 14 Maret 1879, angka lahir 9, warna aura hijau.
5. John F. Kennedy, 9 Mei 1917, angka lahir 3, warna aura merah muda.
6. Sigmun Freud,6 Mei 1856, angka lahir 2, warna aura biru.
7. Benjamin Franklin, 17 Januari 1706, angka lahir 4, warna aura cokelat.
8. Ernest Hemingway, 21 Juli 1899, angka lahir 9, warna aura hijau.
9. William Shakespeare, 23 April 1564, angka lahir 5, warna aura pelangi.
10.Charles Dickens, 7 Februari 1812, angka lahir 7, warna aura ungu.


Silakan otak atik tanggal kelahiran anda, dan temukan warna auranya. Siapa tahu ini akan membantu anda untuk bisa menghindar salah melangkah dalam mengambil keputusan…. Sukses selalu!

Read more..

Anekdot : Polisi yang Tulus


Citra polisi (Kepolisian Negara Republik Indonesia) kini sedang menukik hingga ke titik nadir. Lembaga pelayanan keamanan dan ketertiban masyarakat ini sedang menghadapi berbagai cercaan akibat diduga merekayasa kasus perencanaan pembunuhan, pemerasan dan penyalahgunaan wewenang yang melibatkan tiga pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebagai upaya untuk mengkriminalisasi KPK.


Kendati Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri sudah berulangkali menegaskan bahwa tidak ada rekayasa untuk mengkriminalisasi KPK, namun kepercayaan kepada Polri tidak kunjung pulih. Seolah-olah polisi selalu salah dan KPK selalu benar.


Ada sebuah anekdot tentang kepercayaan kepada polisi, yang menggambarkan berbuat baik dengan tulus pun, polisi selalu dicurigai, tidak dipercaya.


Alkisah, di sebuah kota hidup seorang janda beranak satu. Suaminya telah meninggal semasih Si Anak berusia dua tahun. Namun Si Anak belum memahami betul tentang kematian ayahnya. Sehingga seringkali Si Anak bertanya kepada ibunya: “Di mana ayah, koq lama banget tak pernah kembali?”


Ibunya selalu menjawab bahwa ayahnya sudah pergi ke sorga, dipanggil oleh Tuhan. “Jadi ayah tidak mengingat kita lagi dan tak mau kembali lagi?” tanya Si Anak.


“Bukan! Ayah sangat sayang sama kita dan selalu ingat sama kita. Di sana ayah sedang membangun rumah untuk kita. Nanti kita akan dipanggil ke sorga, bertemu lagi dengan ayah,” jelas ibunya.


Suatu ketika, saat Si Anak duduk di kelas satu SD, beberapa orang teman sepermainannya memiliki sepeda. Si Anak yang sangat sedih karena belum punya sepeda, meminta kepada ibunya supaya dibelikan sepeda. Tetapi ibunya tidak segera memenuhi permintaan Si Anak.


Sehingga Si Anak teringat kepada ayahnya. Karena, kata teman-temannya, sepeda itu dibeli oleh ayah mereka dengan harga satu juta rupiah. Lalu, Si Anak menulis surat kepada ayahnya, berbunyi:


Ayah di Sorga.
Teman-temanku sudah punya sepeda, dibeli oleh ayah mereka. Tinggal aku yang belum. Kalau ayah tidak sempat pulang, tolonglah kirimkan uang satu juta rupiah untuk membeli sepeda.

Si Anak pun memasukkan surat itu ke dalam amplop dan mengirimkannya ke kotak pos di Kantor Pos dekat kelurahan. Di sampul amplop dia tulis: Kepada Ayah di Sorga. Di kolom pengirim, Si Anak pun menulis nama dan alamat rumahnya dengan lengkap, meniru alamat yang selalu dibuat ibunya setiap kali mengirim surat kepada kerabat.


Kemudian esok harinya, Pak Pos menyortir dan mengantar surat itu. Membaca tujuan surat tersebut, Pak Pos merasa iba sehingga tidak tega mengembalikan suratnya. Mau dikemanakan surat itu? Akhirnya Pak Pos menyerahkannya ke kantor polisi terdekat. Siapa tahu surat itu berisi sesuatu hal.


Ketika polisi menerima surat itu, si petugas juga berpikiran demikian. Lalu polisi itu membuka surat dan membacanya. Si Polisi sangat terenyuh membaca surat itu. Dia langsung menangkap bahwa Si Anak ini mungkin sudah tidak punya ayah.
Lalu petugas polisi melaporkan surat itu kepada komandannya. Si Komandan juga terenyuh. Spontan, komandan meminta semua anak buahnya berkumpul di ruang rapat. Kepada anak buahnya, komandan menjelaskan isi surat Si Anak itu. Komandan pun mengajak semua anak buahnya dengan sukarela, tulus, urunan memenuhi permintaan Si Anak.


Untuk memotivasi, komandan langsung merogoh koceknya. “Ini dari saya dua ratus lima puluh ribu,” katanya. Lalu, semua anak buahnya pun membuka dompet, hingga terkumpullah uang sebanyak Rp 900.000.


“Iya, sudah, segitu juga sudah cukup. Kan, ada juga sepeda seharga Rp 900.000,” kata komandan. Komandan pun segera menugaskan dua orang anak buahnya mengantarkan uang itu ke alamat Si Anak.


Kebetulan, Si Anak ada di rumah sendirian. Dengan sedikit kaget, Si Anak membukakan pintu. “Kamu yang bernama Si Anu dan mengirim surat kepada ayahmu di sorga?” tanya polisi, yang diiyakan Si Anak. “Oh, ini uang yang kamu minta,” kata polisi seraya menyerahkan uang itu dan mengelus-elus kepala Si Anak. Setelah berbasa-basi menanyakan keadaan Si Anak dan ibunya, kedua polisi itu pun pergi.


Setelah polisi itu pergi, dengan sangat gembira, Si Anak membuka amplop berisi uang itu. Setelah dia hitung jumlahnya Rp900.000. Dia tercenung beberapa saat. Lalu, Si Anak segera menulis surat lagi kepada ayahnya di sorga dan mengirimkannya lewat kantor pos.


Oleh Pak Pos, surat itu diantar lagi ke kantor polisi. Petugas piket di kantor polisi, langsung menyerahkan surat itu ke komandan, karena dia yakin surat itu berisi ucapan terimakasih dari Si Anak. Komandan pun membuka dan membaca surat itu.


Ayah di Sorga!
Terima kasih telah mengirimkan uang untuk membeli sepeda. Tapi, ayah, lain kali kalau mau kirim uang jangan lewat polisi. Karena kalau lewat polisi langsung dipotong sepuluh persen, yang mereka serahkan hanya Rp 900.000.


Membaca surat itu, komandan polisi geleng-geleng kepala. “Kita menolong dengan tulus pun, tidak dipercaya,” desahnya.

crs (berita indonesia 72)

Read more..

Makna Pahlawan Di Tengah Perseteruan Para Penegak Hukum

Besok kita memperingati Hari Pahlawan yang ke-64, 10 November 1945 - 10 November 2009. Enam puluh empat tahun lalu para pahlawan telah mengorbankan harta dan nyawanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Kita memilih 10 November sebagai Hari Pahlawan karena pada tanggal tersebut 64 tahun silam para pejuang kita yang diwakili oleh arek-arek Soerobojo bertempur mati-matian melawan tentara Inggris di Surabaya.

Saat itu kita hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya para pejuang menggunakan bambu runcing. Namun para pejuang kita tak pernah gentar untuk melawan penjajah. Kita masih ingat salah satu tokoh yang terkenal pada saat perjuangan itu yakni Bung Tomo yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya.

Setiap tahun kita mengenang jasa para pahlawan. Namun terasa, mutu peringatan itu menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung bersifat seremonial. Memang kita tidak ikut mengorbankan nyawa seperti para pejuang di Surabaya pada waktu itu.

Momentum hari Pahlawan 2009 terasa akan lebih bermakna, andai kita semua mau membenahi diri baik sebagai individu maupun kelompok dan institusi. Ingatlah, betapa tetesan darah para pahlawan kita untuk menegakkan Merah Putih di Bumi Pertiwi masa itu tanpa ada pamrih sama sekali. Kecuali niat yang tulus ikhlas : mewariskan sebuah negeri yang merdeka kepada generasi bangsa ini!

Tugas kita sekarang adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah kita merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November.

Kita semua harus mampu mereduksi dan mengimplementasikan makna kepahlawanan yang mereka contohkan. Bukan sebaliknya mengkhianati cita-cita mereka dengan membuka peluang-peluang baru bagi masuknya penjajah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Para koruptor dan para pejabat yang bermental biadab, adalah contoh konkrit dari para pengkhianat bangsa. Perseteruan antara para penegak hukum yang saat ini melanda institusi hukum, merupakan fakta yang tak terbantahkan, gambaran sebuah drama politik dan kriminal yang tragis dan menyedihkan. Merupakan fenomena yang merambah bukan saja di pusat pemerintahan bahkan sampai ke pelosok-pelosok daerah kabupaten/kotamadya.

Rakyat sudah mahfum itu, sudah mengetahui semuanya semenjak lebih dari 30 tahun ini. Namun ketidak-berdayaan memaksa rakyat harus merunduk-runduk, dan bersimpuh dengan kedua belah tangan terserimpung intimidasi dan kebohongan hukum. Selain terpaksa membiarkan hak-hak kesejahteraan mereka dirampas oleh para koruptor, rasa keadilan rakyat pun dijajah oleh keperkasaan mafia peradilan!

Sesunggunhya, kepahlawanan tidak hanya berhenti saat kita sudah merdeka. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Bukankah arti pahlawan itu adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah berani? Bukankah makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat pahlawan seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan?

Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan. Dalam konteks ini kita dapat mengisi makna Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tahun pada 10 November, termasuk pada hari ini. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Indonesia yang bebas dari teroris biadab berwajah koruptor. Ibu Peritiwi yang merdeka dari mafiyoso peradilan!

Bila para penegak hukum sudah tidak lagi mengemban amanah, kemana lagi rakyat ini harus mengadu? Barangkali, hanya dengan ziarah ke makam para Pahlawan rasa bathin yang teraniaya ini bisa terobati. Sebab, mengadu pada institusi penegak hukum bagi mereka justru membuat kemiskinannya bertambah.(Redaksi)

Read more..

Rakyat Tidak Rela Ibu Pertiwi Disiksa Para Koruptor dan Oknum Pejabat Bermental Biadab

Ketika mendengar keterangan pers SBY tentang penangkapan Bibit dan Chandra, ada sebuah pertanyaan di benak rakyat kecil, Kenapa harus presiden sendiri yang memberikan keterangan pers? Kenapa bukan Menteri Hukum dan HAM, atau maksimal bisa Menko Polhukam?

Namun setelah rakyat membaca berita-berita di internet dan media massa tentang ini, akhirnya rakyat menemukan sebuah informasi yang mungkin membuat Djoko Suyanto (Menko Polhukam baru), sulit melakukan konferensi pers tentang kasus ini.

Pada tanggal 1 Oktober 2009, kantor Berita Antara (yang notabene adalah kantor Berita Pemerintah), menuliskan berita yang mungkin membuat sebagian besar pembaca semakin bertanya-tanya tentang kasus Bibit dan Chandra.

Dalam liputan 1 Oktober 2009, Kantor Berita Antara menuliskan bahwa Bibit Samad dijadikan tersangka oleh Polisi, karena dianggap menyalahi wewenang melakukan pencekalan terhadap Djoko Tjandra (lihat foto). Pencekalan itu, menurut pengacara Bibit, diperlukan untuk menyelidiki tentang adanya aliran dana dari Perusahaan yang dikelola Djoko Tjandra (PT Era Giat Prima) ke Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian (YKDK).

Djoko Tjandra sendiri saat ini sudah kabur dan tidak pernah sekalipun memenuhi panggilan KPK. Pertanyaan rakyat selanjutnya adalah, kenapa Polisi dan banyak pihak menjadi khawatir dengan penyelidikan KPK terhadap aliran dana ke YKDK ? Siapakah para Dewan Pembina organisasi YKDK?

Ternyata empat orang Dewan Pembina Yayasan ini, akhirnya semuanya dipromosikan menjadi Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II ataupun pejabat setingkat Menteri, yaitu Djoko Suyanto (Menko Polhukam), Purnomo Yusgiantoro (Menhan ¦'ªsekali lagi Menhan ?), Sutanto (Kepala BIN), Muh S Hidayat (Menperind).

Sejak Januari 2009, terlihat YKDK melakukan puluhan dan mungkin ratusan kegiatan, terutama menjelang pemilu Presiden tanggal 8 Juli 2009 dan sebulan setelah Pemilihan Presiden. Namun setelah bulan Agustus 2009, tidak ada satupun kegiatan dari yayasan ini.

Kalau melihat aktifitas kegiatannya tersebut, Yayasan ini nampaknya mirip sebuah organisasi team sukses kampanye seorang Presiden yang membagi-bagikan bantuan menjelang Pemilu dan memberikan ucapan terima kasih setelah Pemilihan selesai. Apakah karena Djoko Suyanto adalah Wakil Ketua Kampanye SBY-Boediono, sehingga YKDK adalah sebenarnya sebuah organisasi kampanye SBY-Boediono?

Lalu jikalau ternyata YKDK benar-benar sebuah organisasi kampanye, dan kemudian ternyata terbukti oleh KPK memakai dana korupsi, bagaimana implikasi hukumnya? Itulah kemungkinan sebabnya Djoko Suyanto, Menko Polhukam, merasa sulit untuk melakukan konperensi pers tentang kasus penangkapan Bibit dan Chandra.

Terlepas dari semua itu, rakyat menghendaki adanya kepastian hukum demi tegaknya rasa keadilan di Bumi Pertiwi. Rakyat menantikan sikap ksatria dan moralitas yang menjunjung tinggi martabat Bangsa dari segenap pemuka negeri ini. Rakyat tidak rela Ibu Pertiwi tersiksa karena disakiti oleh para koruptor dan oknum pejabat bermental biadab.


Read more..

Ironi Kriminalisasi

Pemerintahan tanpa stabilitas tidak mungkin. Namun, jika stabilitas dianggap sebagai norma tertinggi dalam pemerintahan, segera akan lahir kesulitan. Dalam keadaan stabil, kecenderungan berpikir formal menjadi kuat, berjalan seperti biasa.

Cara berpemerintah (dan bernalar) secara formal tampak jelas mengapa pihak-pihak yang berwenang tidak mudah memahami gejala yang oleh umum disebut kriminalisasi KPK. Hal yang sederhana, tetapi tidak mudah dimengerti. Atau tepatnya, jika dilihat secara formal/normatif, kasus KPK/Polri tidak akan tampak sebagai "masalah" politik. Maksudnya?

Makna kriminalisasi
Kriminalisasi pejabat negara tak hanya terkait penegakan hukum. Seperti saat presiden Amerika Serikat ingin membuka file CIA untuk penyiksaan dalam interogasi tawanan perang, reaksi keras muncul karena dengan rencana itu akan terjadi kriminalisasi seluruh prosedur intelijen AS. Masalah menjadi gawat karena teknik penyiksaan dituangkan dalam pedoman kerja yang diparaf kepala negara dan kehakiman. Artinya? Teknik penyiksaan yang melanggar hak asasi itu secara formal tanpa masalah, tetapi secara moral penuh masalah. Kasus seperti inilah yang ujungnya adalah pengadilan kriminal di Den Haag (ICJ) untuk kriminal melawan kemanusiaan.

Secara legal, begitulah duduk perkara kriminalisasi sebuah kebijakan politik yang sah secara formal prosedural dan nasional. Namun, selain secara legal, ada pergeseran lebih penting dalam tata pergaulan politik dewasa ini. Jika politik konvensional tak lain adalah penentuan kawan/lawan, politik zaman sekarang sedang menghadapi paradigma khusus yang muncul di abad XX. Politik bukan saja sekadar mengurusi konflik kepentingan (arti konvensional), yang lalu dapat diteruskan dengan perang jika perlu (penggunaan kekerasan). Politik harus menghormati kemanusiaan, atau manusia sebagai manusia, dan manusia tidak pernah dijadikan alat dalam politik.

Prinsip kemanusiaan sebagai tujuan mutlak (dan bukan sekadar alat) itulah yang dianut saat ini. Itulah yang disebut Kantianisme yang humanistik. Itulah yang menjelaskan mengapa reaksi amat luas atas tindakan Polri dalam kasus KPK. Kemanusiaan yang secara "sah dan resmi" dilanggar Polri itulah yang tampaknya dirasakan masyarakat luas.

Di bawah konsep kriminal melawan kemanusiaan itulah dalam skala kecil dapat dimengerti apa maksud kriminalisasi KPK. Jadi bukan sekadar soal cicak lawan buaya, bukan juga sekadar upaya melemahkan KPK oleh mereka yang terganggu aktivitas lembaga khusus ini.

Dalam konflik kekuasaan antarlembaga negara (Polri, kejaksaan, dan KPK), hal semacam itu dapat dan mungkin terjadi. Anda lebih mudah memahami kriminalisasi jika memerhatikan sikap politik teroris yang membunuh sambil meng-"kafir"-kan musuh. Mengingat KPK adalah lembaga khusus, maka pukulan terhadap KPK dengan cara seperti itu segera mendapat reaksi luas. Tindakan Polri telah meneror masyarakat.

Pelajaran politik
Dari semua yang terjadi itu muncul pelajaran politik yang amat berharga. Pelajaran itu muncul dari program pemerintah untuk melakukan reformasi birokrasi. Artinya, agar alat pemerintahan ditempati orang yang tepat, lembaga tinggi negara ditempati oleh mereka yang mengenal baik bahwa statecraft bukan sama sebangun dengan urusan organisasi swasta, seperti perusahaan!

Mengingat TNI sekarang sudah kian profesional (dalam arti penjaga keamanan negara) dan polisi adalah penjaga ketertiban dalam negeri, maka tuntutan profesionalisme polisi akan semakin kuat. Profesionalisme Polri bukan sekadar penguasaan keahlian tukang bengkel, tetapi polisi tak bisa lain dituntut memberi contoh bagaimana menghadirkan prinsip hukum secara layak dalam demokrasi. Dan apa pengertian hukum dalam negara demokrasi?

Asas dasarnya hanya satu, yakni "kepantasan". Sistem hukum dimaksudkan untuk memungkinkan keadilan yang penuh "kepantasan" ditegakkan. Pihak yang memungkinkan secara substansial kepantasan itu tegak tak lain adalah Polri dan penegak hukum lainnya. Jadi, reaksi keras dan meluas atas tindakan polisi terhadap KPK, suka atau tidak, adalah karena asas subtil "kepantasan" telah dilanggar. Itulah sejatinya kriminalisasi KPK.

Kembali ke dasar
Untuk menghindarkan diri secara kolektif tenggelam dalam arus liar membingungkan, sebaiknya dicatat tiga asas berikut.

Pertama, legalisme demokratik berdasarkan paham Kantian yang humanistik, seperti semboyan Brimob yang berbunyi "jiwa ragaku untuk kemanusiaan".

Kedua, kepantasan adalah kaidah juristik yang harus dipahami semua penegak hukum (polisi, jaksa, dan hakim). Dan mereka harus memberi contoh tegaknya aturan hukum itu.

Ketiga, mengingat kasus KPK/Polri terjadi dalam proses reformasi birokrasi, maka semua pejabat negara harus memahami, statecraft jauh beda dengan sekadar keterampilan tata kelola (SOP) yang formal, tekstual, dan normatif.

(Ditulis oleh: Emmanuel Subangun, Sosiolog)

Tulisan ini disalin dari Kompas, 6 November 2009


Read more..

Keajaiban Otak


Lahir di Sumedang tanggal 20-11-1966 - Orang biasa, yang ingin menambah kawan dan wawasan melalui Kompasiana - Guru Honorer Matematika di SMP NU Sumedang - Guru KKPI di SMK Ma'arif 1 Sumedang - Tenaga Kontrak sebagai Programmer di RSU Kabupaten Sumedang - Jadi Kompasianer sejak 14 Agustus 2009



muhammadirfani.wordpress.com

muhammadirfani.wordpress.com

Penelitian mutakhir menunjukan bahwa otak manusia terdiri dari bermilyar-milyar sel aktip. Dan sekitar 100 milyar sel otak aktip sejak lahir. Setiap sel mampu membuat jaringan dengan kecepatan sekitar 20.000 sambungan tiap detik. Marilah kita bandingkan dengan upaya manusia membangun jaringan internet pada 3 hari pertama tahun 1997, jutaan pengguna komputer membuat jaringan internet sebanyak 200 juta sambungan. Sel otak manusia mampu membuat jaringan sebanyak 20.000 sambungan tiap 1 detik sehingga dalam kurun waktu 3 hari jumlah sambungan yang terbentuk adalah 3 x 24 x 60 x 60 x 20.000 sambungan = 5.184.000.000 sambungan jadi dapat kita lihat bahwa proses pembentukan sambungan antar sel di otak 26 kali lebih cepat dari pembentukan jaringan internet.

Kemampuan otak memori manusia adalah 10800 (angka 1 dengan 800 buah angka 0), dengan kemampuan ini sesungguhnya seseorang mampu menghapal semua atom di alam semesta ini yang diperkirakan berjumlah 10100 (angka 1 dengan 100 buah angka 0). Kalau tidak salah kapasitas hardisk yang sekarang mampu menyimpan data sebanya 20 0 TB atau sekitar 2 x 1014 angka ini jauh lebih kecil dari kemampuan otak kita Sehingga tidaklah salah apabila Gordon Dryden menyatakan “You’re the owner of the world’s most powerfull computer.” (Anda adalah pemilik komputer paling hebat di dunia ). Tapi yang mengherankan, mengapa kita tidak merasakan kemampuan yang demikian besar itu ? Jawabannya sederhana kita belum bisa memanfaatkan secara maksimal otak kita. Ya bisa kita umpamakan kita memiliki peralatan super canggih, tapi kita tidak bisa mengoperasikannya kan sama saja dengan bohong.

Kita dapat menggunakan otak kita secara maksimal, apabila kita mengenal karakteristik dan cara kerja otak.Berdasarkan belahannya otak dapat dibagi menjadi yaitu Belahan otak kiri mempunyai ciri bekerja secara urut, parsial, dan logis. Belahan Kanan mempunayi ciri bekerja secara acak, hoistik, kreatip

Dalam proses belajar satau kehidupan sehari-hari, orang sering hanya menggunakan setengah kemampuannya yaitu otak kiri, misalnya sewaktu kita belajar di sekolah kita biasa dituntut untuk berpikir urut dan logis saja. Otak kanan membantu kita dalam menghafal cepat, membaca cepat, dan berfikir kreatif, sehingga dalam belajar kita menggunakan otak kiri dan otak kanan dapat dibayangkan hasil yang luar biasa, mungkin saja diluar apa yang kita bayangkan.

Beradasarkan kesadaran otak dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu Sadar dan Bawah sadar. Bagian yang sadar hanya menyumbangkan 1/7 bagian dari kemampuan otak secara keseluruhan cara kerja otak sadar : tegang dan detil. Sedangkan otak bawah sadar menyumbangkan 6/7 bagian dari seluruh kemampuan otak, cara kerja otak bawah sadar : santai, dan mengingat sesuatau menggunakan kata kunci. Untuk membedakan otak sadar, dan bawah bisa kita umpamakan seseorang yang sedang belajar mengemudi mobil dengan pengemudi yang profesional. Orang yang sedang belajar mengemudi yang bekerja adalah otak sadarnya, penuh konsentrasi, tegang dan hasilnya ? ya kurang efektip kita sebagai penumpang akan merasakan ketidaknyamanan. Tapi coba kita bandingkan dengan sopir taxi yang profesional dia mengemudikan mobil dengan santai, sambil nyanyi, sambil merokok, bahkan sambil ngobrol dengan penumpangnya tapi kita merasakan nyaman sebagai penumpang. Kenapa ? karena pengemudi taksi ini menggunakan otak bawah sadarnya untuk mengemudi.

Sehingga untuk memaksimalkan kemampuan, kita harus memaksimalkan bagaimana cara menggunakan otak yaitu : gunakan otak kiri dan otak kanan untuk berfikir, belajarlah menggunakan otak bawah sadar karena otak bawah sadar menyumbang 6/7 bagian dari kemampuan otak.

Ketidak tahuan kita untuk memanfaatkan fasilitas yang terdapat pada otak menyebabkan kita tertinggal jauh oleh orang lain sehingga timbul anekdot yang sangat memalukan, ceritanya sebagai berikut. Alkisah terjadilah proses pelelangan otak kelas dunia. Otak orang Jerman, yang ahli teknologi dilelang seharga 1000 dolar. Otak orang Jepang, yang kreatif dilelang seharga 10.000 dolar, Sedangkan otak orang Indonesia dilelang dengan harga paling mahal yaitu 100.0000.000 doal! Mengapa ? karena otak orang Indonesia masih utuh, asli, sama sekali belum pernah digunakan.


Read more..

"Jangan Ah Sayang, Ada Si kecil Tuh!"



Sabtu, 31 Oktober 2009

KOMPAS.com — Mesra di depan anak boleh aja, asal tidak terkesan erotis....

Kemesraan bukan hanya milik pengantin baru. Pasangan yang sudah tahunan menikah pun tetap butuh suasana hangat dan saling menyayangi (baca mesra). Sebab, kemesraan ibarat oase di tengah gurun pasir yang dapat menjaga hubungan Anda dan pasangan tetap segar meski dihadapkan pada setumpuk beban kehidupan sehari-hari.

Soal ungkapan kasih sayang bisa dilakukan dengan berbagai cara. Masing-masing suami-istri tentu memiliki tradisi sendiri-sendiri. Yang paling umum adalah mencium pipi atau dahi, merangkul, memeluk, bergelayut di pundak, menumpangkan tangan di lengan saat menonton TV, atau sekadar mengusap-usap punggungnya. Memanggil pasangan dengan sebutan khas seperti "Yang" atau "Cinta" juga dapat tetap menyuburkan benih-benih kemesraan. Tak perlu malu-malu atau gengsi dong! Justru dengan sikap seperti itu, pasangan jadi senang serta suasana makin akrab dan hangat.

Tak perlu vulgar

Bagaimana bila ingin mesra-mesraan tetapi ada si kecil? Sebenarnya tak masalah kok. Justru dengan begitu anak belajar bagaimana mengungkapkan rasa sayang pada ayah-ibu serta anggota keluarga lainnya. Lewat suasana mesra, anak pun belajar memahami kehangatan cinta kasih dari kehidupan pernikahan kedua orangtuanya.

Hanya memang, ada rambu-rambu yang perlu dipatuhi. Yang pasti jangan sampai ungkapan sayang tadi mencerminkan adanya gairah yang tengah memuncak. Umpamanya, tak sadar Anda dan pasangan berciuman bibir hingga terkesan erotis atau justru adegan ranjang Anda dan pasangan dipergoki si kecil.

Dampak menyaksikan mesra-mesraan yang berlebihan bagi si kecil tak bisa dibilang ringan. Misalnya, anak bisa menganggap berciuman bibir (yang hot sekalipun) merupakan hal lumrah dilakukan di mana saja dan dengan siapa saja. Bukan tidak mungkin, rekaman adegan mesra tadi bisa-bisa dilakukan pada teman-temannya tanpa malu dan merasa bersalah. Atau pada kasus yang lebih vulgar, ­ Anda tepergok sedang berhubungan intim dengan pasangan. Ada kemungkinan dalam benak anak terbentuk persepsi. "Jangan-jangan, Ayah telah menyakiti Bunda!"

Persepsi ini diambil karena dalam benaknya, ayahnya telah bersikap "agresif" dan menyakiti bundanya. Efeknya, ia bisa marah pada ayahnya. Atau anak selalu merasa tidak nyaman bila kedua orangtuanya tampak berduaan atau mesra-mesraan meskipun sekadar pelukan.

Beri penjelasan

Apa yang perlu dilakukan saat anak memergoki adegan mesra tadi? Bagi anak yang kemampuan verbalnya sudah berkembang, usia prasekolah atau sekolah, dia bisa saja bertanya tentang adegan yang dilihatnya itu. Tak perlu gelagapan. Usahakan untuk mengetahui apa yang ada dalam benaknya. Misalnya dengan balik bertanya, "Memangnya apa yang kamu lihat?" Atau, "Menurut kamu Ayah-Ibu memangnya sedang apa?"

Boleh jadi, lontaran pertanyaan itu tak dapat dijawab anak. Atau dia sendiri bingung bagaimana menjawabnya. Nah, barulah beri penjelasan misalnya, "Itu sebagai tanda ayah dan ibu saling menyayangi." Untuk anak usia sekolah, diperlukan penjelasan lanjutan, misalnya, "Hal itu hanya boleh dilakukan orang-orang yang sudah menikah, seperti Ayah dan Ibu. Pernikahan antara Ayah dan Ibu dilakukan karena adanya saling sayang. Nah, apa yang kamu lihat itu, salah satu cara Ayah menunjukkan rasa sayang pada Ibu." Begitu kira-kira. Jadi, selain meluruskan persepsi yang negatif, hal itu sekaligus memberikan pendidikan seks kepada anak.

Pendidikan seks memang semestinya disesuaikan dengan perkembangan usia si kecil. Saat anak sudah mengerti perbedaan jenis kelamin, kenalkan ia tentang alat reproduksi. Jangan gunakan kata-kata kiasan seperti "burung" untuk alat kelamin pria. Akan lebih baik bila kita memberikan sebutan yang benar. Contoh lain, para ibu harus berbagi cerita mengenai pengalaman pribadinya kepada si upik, termasuk saat pertama kali mendapat haid serta bagaimana perasaannya. Singkatnya, apa pun yang ingin diketahui anak tentang seks, harus dijawab agar keingintahuannya terpenuhi dengan benar.

Hal kecil lain yang tak kalah penting berkaitan dengan mesra-mesraan ini, sebaiknya ruang tidur anak dan Anda terpisah. Juga ajari anak untuk terlebih dulu mengetuk pintu setiap akan masuk kamar orangtua. Jangan lupa mengunci pintu kalau sedang ingin berdua-duaan dengan pasangan. Intinya, perlu ada kehati-hatian sebelum melangsungkan percumbuan yang melibatkan gairah seksual. (NAKITA/Hilman Hilmansyah)


Read more..

Hukum Dibawah Segala-galanya

batarahrp

Perseteruan antara KPK dengan Polri memasuki babak baru dengan ditahannya anggota non aktif KPK Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto. Sejak awal kasus yang menimpa kedua anggota non aktif KPK ini telah banyak menuai kritik. Tuduhan awal adalah menerima suap tapi kemudian berubah menjadi penyalahgunaan wewenang karena menerbitkan surat pencekalan terhadap salah satu tersangka korupsi Anggoro Wijoyo. Padahal dalam undang- undang yang mengatur tugas dan wewenang KPK disebutkan bahwa institusi ini berhak mengeluarkan surat perintah kepada pihak berwenang untuk melarang seseorang bepergian ke luar negeri.

Perseteruan kedua institusi ini boleh dibilang diawali sejak mencuatnya testimony Antasari Azhar yang menyebut anggota KPK ada yang menerima suap. Tetapi pada saat yang bersamaan KPK mengindikasikan adanya pejabat Polri yang terlibat dalam kasus Bank Century.. Belum lagi KPK menindak lanjuti kasus tersebut tiba tiba Polri memeriksa kedua anggota KPK tersebut dalam kasus menerima suap dari Anggoro Wijoyo. Tapi kemudian tuduhan yang disangkakan kepada keduanya adalah penyalahgunaan wewenang dalam penerbitan surat cekal. Isu yang berkembang kemudian adalah Polri dalam hal ini tidak mau KPK bertindak lebih jauh dalam kasus bank Century sehingga dibuatlah kasus kepada KPK sehingga KPK tidak bias bekerja menyelesaikan kasus bank century.


Dari kasus ini lah kemudian public menganggap telah terjadi proses kriminalisasi terhadap KPK. Bukan rahasia umum KPK telah banyak membuat pihak “gerah” karena gebrakan mereka dalam membrantas korupsi. Sepak terjang KPK memang tidak pandang bulu. Hal ini lah yang sebagian orang menyebut telah membuat gerah mereka yang mempaunyai kekuasaan uang dan kekuasaan politik. Ketika kasus kedua anggota non aktif KPK ini sedang berjalan, beredarlah transkrip rekaman pembicaraan antara Anggodo Wijoyo (adik Anggoro Wijoyo) dengan beberapa orang yang diduga meruapakan pejabat di Kejaksaan Agung dan Polri. Pembicaraan itu mengarah kepada rekayasa kasus terhadap kedua anggota non aktif KPK itu.


Belum lagi rekaman itu diteliti kebenarannya, tiba- tiba Polri telah menahan kedua anggota non aktif KPK tersebut. Asumsi yang kemudian muncul adalah Polri dan Kejagung sepertinya takut dan kelabakan akibat munculnya rekaman itu. Alasan yang digunakan untuk menahan juga sepertinya tidak masuk akal karena dianggap dapat menghilangkan barang bukti dan dikhawatirkan mengulangi perbuatan. Bukannya barang bukti telah ada di kepolisian?. Kalau disebut dapat mengulangi perbuatan, bagaimana mungkin bias mengulangi perbuatan, karena keduanya sekarang telah non aktif sehingga tidak punya kewenangan apapun sebagai seorang anggota KPK.


Sepertinya Polri tidak mau kecolongan atau tidak mau didahului atau bingung dan kelabakan akibat munculnya rekaman tersebut. Dengan kejadian ini hukum seolah- olah dapat dipermainkan sesuai dengan kepentingan masing- masing. Dalam Negara demokrasi prinsip hukum tetap harus dihormati artinya segala sesuatunya harus tetap bertumpu pada norma hukum. Hukum harus menjadi panglima dan bukannya hukum dibawah kepentingan penguasa dan kepentingan mereka yang punya uang.


Dari kasus ini juga kita mendapat pelajaran bagaimana kemudian aparat penegak hukum ini tidak memiliki moral. Rekaman itu menunjukkan bagaimana kemudian mereka yang punya uang memiliki akses yang begitu mudah kepada aparat hukum walaupun dia yang sedang terlibat kasus. Mereka yang dituduhkan menerima suap dan menyalahgunakan wewenang telah ditahan tetapi si pemberi suap masih berkeliaran bebas entah dimana dan sepertinya aparat hukum kita cuek. Mungkin apa yang sering dikatakan orang Batak ada benarnya,”hepeng do mangatur nagaraon” (uang lah yang mengatur Negara ini).



Tanggapan Tulisan
29 Oktober 2009 | 09:53

1

Sebagai Ketua LSM Pemantau Kinerja Kepolisian, saya sedih melihat Mabes Polri telah menurunkan wibawa nya dengan masuk dalam permainan semacam ini. Tapi itu juga tanda2 bahwa permainan2 kotor di tubuh polri mendapat sorotan rakyat. Kabareskrim yang bermain inteligen-kontrainteligen terasa menggelikan dan kekanak2an. Rakyat sebenarnya muak, tapi apa lacur petinggi polri, antar mereka, merasa hebat. Meskipun demikian, satu hal yang membuat saya senang adalah penerapan KUHP-421 tentang penyelah gunaan wewenang. Kedua pimpinan KPK dijerat pasal itu, karena menurut UU KPK semua keputusan harus diambil secara kolegial, dan karena kedua pimpinan KPK itu mengambil sendiri2 maka melanggar UU KPK, dan karena melanggar UU KPK maka dianggap melakukan penyalahgunaan wewenang. Kalau demikian, jika ada pelanggaran KUHAP oleh penyidik polri, jaksa penuntut umum, dan majelis hakim, maka mereka dapat diadukan dengan penyalahgunaan wewenang. Tgl 04 September 2009 lalu, saya mengadukan Kajari Makassar karena telah menerima berkas pada tanggal 03 Juni 2009, namun tidak menerbitkan P21, pada tanggal 17 Juni 2009, padahal menurut KUHAP, seharusnya berkas dinyatakan lengkap pada tanggal tersebut. Maka, saya mengadukan pelanggaran ini ke Polsek Ujung Pandang. Nyatanya, perkaranya tidak diproses, itu berarti polri juga gamang memberlakukan pasal ini.


Balas tanggapan | Anda telah merating komentar ini.
30 Oktober 2009 | 12:44

0

Sesungguhnya, saya melihat ada indikasi arogansi dan narsis dalam tubuh pimpinan Polri. Saya yakin, narsis dan arogansi dalam tubuh oknum tersebut muncul karena sugesti sebuah kepentingan untuk melindungi diri/klik/golongan tertentu.


Alangkah bejadnya perilaku para tokoh penegak hukum yang senantiasa memaksakan kehendaknya. Mungkin, mereka sedang bermimpi untuk kembali mundur ke masa tirani Orba. Di mana waktu itu ABRI bak gempa yang mampu meluluh lantakkan Sumbar!


Wahai para penguasa dan penegak hukum, jangan pernah mimpi bisa menyeret negeri ini dalam kenistaan kuasa penuh tirani. Kami bukan lagi generasi “embeeek” !


Kami ingin, mati sebagai manusia Indonesia yang memperjuangkan reformasi, menegakkan kuasa hukum demi mengisi kemerdekaan.


Kami benci para koruptor yang menggerogoti harta negara, melebihi rasa benci kami pada para teroris. Dan kami lebih muak lagi pada para penegak hukum yang memberikan ketiaknya jadi tempat perlindungan para koruptor ! Kami benci dan muak!

Read more..

Selamat Ulang Tahun Ke-39, UUPA Nomor 5 Tahun 1960


By : Budi Santoso

Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA Nomor 5/1960) sekarang sudah berusia 39 tahun. Sebuah produk hukum yan diundangkan pada tanggal 24 September 1960, penuh semangat agraris yang diharapkan bisa menjadi landasan pacu untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Lahirnya UUPA Nomor 5/1960 bertujuan mensejahterakan rakyat dengan cara membangun masyarakat agraris yang terbebas dari praktek-praktek feodalisme dan kapitalisme. Pertanyaannya adalah : Apakah pelaksanaan Undang-Undang tersebut sesuai dengan tujuan yang melandasinya?

UUPA Nomor 5/1960, menegaskan betapa pertanahan sebagai masalah yang amat strategis dalam rantai pembangunan NKRI. Kepentingan Negara dan segenap Bangsa Indonesia menjadi prioritas utama. Oleh sebab itu, harus mengacu pada UUD 1945 utamanya pasal 33 ayat (3) yang menggariskan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Profesor Budi Harsono yang pernah menjadi Panitia Perumus UUPA Nomor 5/1960 berpendapat, UUPA mengakhiri keanekaragaman (hukum barat, adat istiadat dan antar golongan) dengan menciptakan hukum tanah tunggal yang berlaku nasional, yang mngenai semua tanah di seluruh wilayah Indonesia dan kemudian dikenal dengan hukum tanah nasional. Hukum tanah nasional tersebut dijiwai oleh hukum adat, sehingga penguasaan tanah secara kolektif lebih dominan dari pada kepemilikan pribadi/privat secara mutlak.

Prakteknya, pelaksanaan UUPA Nomor 5/1960 tidak semulus dari harapan dan semangat kelahirannya. Hal ini disebabkan banyak undang-undang yang semestinya berkaca pada UUPA tersebut, tidak menjadi dasar untuk peraturan perundangan yang lainnya, seperti undang-undang tentang kehutanan, transmigrasi, lingkungan hidup, dll. Sehingga ketika ada pasal yang berbenturan memicu timbulnya konflik kepentingan dan berujung pada kerugian masyarakat secara materiil. Fakta tersebut tidak bisa dipungkiri, banyak kasus pertanahan di daerah-daerah yang mengacu pada peraturan perundangan lingkungan menjadi dasar kebijakan sebuah departemen.

Timbulnya kesimpang-siuran dalam pengelolan kekayaan Bangsa berupa bumi, air dan ruang angkasa, salah satu penyebabnya adalah belum adanya peta tata guna tanah nasional serta batas-batas undang-undang pun belum pasti atau belum dipotret secara menyeluruh. Akibatnya, tetangga kita Malaysia berhasil merebut beberapa pulau kecil di Kalimantan Timur. Itu yang bersifat nasional, belum lagi masalah yang terjadi dalam internal masyarakat di daerah-daerah. Konflik kepentingan antar departemen juga sering muncul, antar institusi pemerintah, juga antara badan usaha milik Negara versus rakyat jelata.

BPN yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah untuk mengatur dan melaksanakan UUPA Nomor 5/1960, selama ini ternyata belum maksimal memenuhi harapan Negara dan semangat yang tertulis dalam undang-undang ini. Seharusnya Badan Pertanahan Nasional (BPN) bertindak atas nama undang-undang yang sudah menjadi kesepakatan bangsa, dan tidak sekedar melayani tapi justru berani bersikap tegas untuk menerapkannya dalam berbagai kasus menyangkut masalah pertanahan yang bersifat strategis. BPN adalah mandataris rakyat untuk mengamankan dan melaksanakan UUPA Nomor 5 Tahun 1960.

Mandat UUPA Nomor 5 Tahun 1960 kepada BPN dalam era reformasi barangkali perlu didukung dengan reformasi agraria, baik menyangkut tata guna tanah maupun berbagai permasalahan pertanahan yang terjadi di daerah-daerah. Kendati demikian, segala bentuk reformasi harus dijiwai semangat demi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dan tidak seperti yang dirasakan masyarakat sekarang ini, reformasi agraria memberi kesan faktual bahwa BPN lebih mementingkan kualitas pelayanan administratif daripada tata guna tanah dan peta strategis lainnya.

Reformasi agraria (Land Reform) bukan hanya politis, akan tetapi butuh dukungan dari aparat yang mampu bertindak tegas dan bersih, baik sipil maupun militer. Perancang pembangunan juga perlu meyakini reformasi agraria yang berhasil tentu akan mempercepat kemandirian Negara, dan juga harus dilaksanakan. Berjuta-juta petani penggarap akan berperan serta karena mereka merasa bisa memperbaiki nasib mereka. Walaupun demikian, tidak pula dapat dipungkiri, bahwa dalam proses reformasi agraria akan timbul banyak konflik. Untuk itu perlu dibentuk suatu lembaga peradilan khusus yang menangani setiap konflik yang terjadi di daerah maupun pusat.

Segenap komponen Bangsa semestinya yakin akan UUPA Nomor 5/1960 yang sampai hari ini belum dicabut. Di dalamnya tercantum prinsip-prinsip Land Reform yaitu perombakan dari struktur dan penggunaan pertanahan. Dengan demikian akan ada titik temu yang saling menguntungkan, akan dicapai win-win solution tata cara penggunaan tanah yang adil sesuai prinsip Land Reform untuk mengakhiri system feodalisme, liberalism dan kapitalisme. Itulah yang dimaksud : bumi, air dan ruang angkasa beserta kekayaan alam yang terkandung didalamnya adalah karunia Tuhan YME, yang diamanatkan pada bangsa Indonesia.

Pada prinsipnya UUPA Nomor 5/1960 adalah dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional, sebagai alat kemakmuran dan keadilan Negara serta petani, dalam rangka mewujudkan masyarakiat adil makmur. Mensederhanakan dan mempersatukan dalam beranekaragam hukum pertanah, sehingga memberikan kepastian hukum hak-hak atas tanah bagi seluruh rakyat tanpa kecuali.


Penulis adalah Wakil Ketua
DPC PDI-P Trenggalek.
Read more..

Blog Sahabat Saya

Recent Posts