> Prigibeach Trenggalek
Tampilkan postingan dengan label Tanggung Jawab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanggung Jawab. Tampilkan semua postingan

Pengantar Redaksi


Kami online berdasarkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kami mohon maaf, bila tampilan kami masih dalam bentuk blog. Web site kami masih dalam proses rekonstruksi (design). Berbagai persyaratan administrasi untuk pengurusan perijinan sedang kami lengkapi, untuk legilitas sesuai peraturan-perundangan yang berlaku.

Kami hadirkan catatan dan peristiwa aktual dari berbagai daerah, kami utamakan tentang Bumi Trenggalek, Propinsi Jawa Timur. Blog ini, adalah kreasi dari warga Trenggalek, yang disajikan sebagai wujud kepedulian kami pada perkembangan, pertumbuhan dan akselerasi pembangunan Trenggalek. Blog ini semula bernama "memo trenggalek online" namun demi kredibilitas, integritas dan eksklusivisme kami ubah menjadi "PrigiBeach.Com".


Susunan Redaksi :

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi /Penangggungjawab : Hamzah Abdillah;

Redaktur Pelaksana : Maksum Abdul Hamid;

Sekretaris Redaksi : Nuur Khafidzah Kariim

Dewan Redaksi : M. Ikrar Auliady, Fitria Puji Harmini, Bambang Adi Nugroho, Kasmu, Lilik Retnohadi.

Reporter : Ernaningtyas (Yogyakarta), Dede Febrianurachman (Surabaya) Hari Anugrah (Kediri)
, Yusuf Ashari, Mentho Eko Priyono (Trenggalek);

Alamat Redaksi : Jalan WR. Supratman.
Gang. Paran Janoko, No. 4
Sumbergedong, Trenggalek (Kode Pos 66315).

Telepon : (0355) 793804

E-mail Redaksi : redaksi@prigibeach.com
Pasang Iklan : iklan@prigibeach.com
Pimred : hamzah.abdillah@yahoo.co.id

Kami menerima komentar, saran dan kritik dari segenap pembaca dengan mengedepankan integritas dan profesionalisme jurnalistik. Untuk itu, kami sangat menghargai dan terima kasih.


Read more..

Sumpah Pemuda dan Masa Depan Karang Taruna





Oleh : Hamzah Abdillah
Pimred PrigiBeach.com

Rabu, 28 Oktober 2009, besok, kita akan memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-81. Monumen adiluhung karakter Bangsa kita, yang bertekad memegang teguh NKRI. Rumusan teks sumpah pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin sebagai berikut :

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Peserta Kongres Sumpah Pemuda itu adalah dari berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi bahkan ada juga keturunan Tionghoa yang bertindak sebagai pengamat. Merupakan miniatur Nusantara !


Dalam konteks ini, kami bukan ingin membahas sebuah sejarah, melainkan bagaimana kita memaknai peristiwa monumental Sumpah Pemuda, bagi kelanjutan pembangunan Bangsa dan keutuhan NKRI.


Siklus 20-tahunan pernah menjadi rumor dan sempat membuat penguasa Orde Baru ketir-ketir. Bagaimana pun kita semua menyadari, pergerakan perjuangan Bangsa kita untuk menuju pada eksistensi sekarang, adalah karena Pemuda, generasi muda! Tahun 1908, 1928, 1945, 1965 serentetan tahun yang penuh dengan semangat patriotisme dan jiwa heroisme generasi muda kita.


Menjelang dua puluh tahun sesudah ambruknya Orde Lama, pemerintah Orde Baru telah memblokir "kebangkitan generasi muda" dengan berbagai filterisasi dan tindakan antisipatif yang ortodoks. Kopkamtib dengan institusi-institusi pendukungnya berusaha keras dan tanpa malu-malu membelenggu dinamika perjuangan Bangsa, khususnya para pemuda.


Namun, meskipun efektivitas kebijakan tirani Orde Baru tersebut sempat memenjarakan kobaran api "kami cinta Indonesia" dari generasi muda Bangsa kita, hingga tahun 1997. Kobaran api "kami cinta Indonesia"ternyata tidaklah padam. Masih hidup dan tiada akan pernah padam hingga akhir jaman!


Karang Taruna Wadah Bagi Generasi Muda


Semua mengakui, bahwa pemuda adalah "super power" yang sangat menentukan bagi kehidupan di masa depan. Pemerintah kita sejak jaman Bung Karno hingga Presiden Soeharto memberikan porsi khusus bagi generasi muda.


Era Soeharto, di desa/kelurahan dibentuk sebuah organisasi untuk membina generasi muda dan sampai sekarang pun masih ada, yakni Karang Taruna. Konotasi negatif, seharusnya tidak kita bicarakan secara berlebihan. Bagaimanapun juga kita memiliki banyak hal-hal yang positif. Bangsa kita dibangun dengan landasan dan pemikiran yang utuh mencakup segala aspek kehidupan dengan mengutamakan kepentingan rakyat, berpijak pada Pancasila dan UUD1945. Dan Karang Taruna adalah wadah yang dilestarikan oleh Orde Baru dengan banyak manfaat positifnya.


Dalam era reformasi, di daerah ini -Kabupaten Trenggalek- posisi Karang Taruna terkesan meredup. Padahal, apabila kita mau memaksimalkan kembali peranan dan fungsi Karang Taruna dalam upaya pembinaan generasi muda, niscaya derap gempitanya Reformasi dalam segala bidang akan lebih mudah mencapai tujuannya.


Ada 152 desa dan 5 kelurahan di 14 kecamatan, berarti Trenggalek memiliki 157 organisasi Karang Taruna. Selama 11 tahun Reformasi digulirkan, terlihat kegiatan dan upaya pemerintah Kabupaten yang menyentuh pembinaan generasi muda melalui organisasi ini, masih sangat terbatas. Pemkab selama ini hanya tervokus pada pembangunan fisik, baik yang berupa infrasturktur maupun sasrana dan prasarana publik. Jika pun ada kegiatan yang bersifat mental-spiritual, tampak yang lebih diperhatikan adalah ponpes dan tempat ibadah yang ada di desa-desa.


Kita tidak menganjurkan memberi Karang Taruna ikan, namun jangan dilupakan, akan keterbatasan pemuda pedesaan. Mengapa tidak kita siapkan "joran", "tali pancing" dan "kail" untuk mereka?


Konotasi tentang perlengkapan pemancing, jangan diartikan segudang kebutuhan modal finansial. Pembinaan mental-spiritual yang diguyurkan pada generasi muda pedesaan, jangan dibatasi pada Ponpes, tempat ibadah atau lembaga pendidikan formal/informal/nonformal. Namun harus lebih luas dan lebih menyentuh pada kebutuhan yang bisa mereka manfaatkan untuk hidup di masa depan.


Menyongsong kehidupan masa depan, bukan sekedar skill dan ketrampilan kerja saja. Para calon pengisi kemerdekaan Indonesia ini, membutuhkan sikap dan tindakan dari pemerintah yang bijaksana, memiliki integritas dan akuntabilitas yang terpuji.


Pemerintah menggembar-gemborkan gerakan anti korupsi, kolusi dan nepotisme. Sementara para pemuda di pedesaan yang nota bene masih awam tentang jalur-jalur KKN, tentu akan membabi buta menuding para pejabat yang korup. Mereka hanya melihat, pejabat "a" kaya, pasti karena hasil dari KKN. Prasangka ini akan menghunjam dalam pada benak mereka, dan tanpa segan-segan menyama-ratakan semua pejabat berperilaku korup.


Mengapa demonstrasi para generasi muda yang menentang "generasi tua" selalu saja terjadi? Itu antara lain karena prasangka jelek dan tidak adanya komunikasi dinamis antara dua generasi berbeda ini. Prasangka jelek bisa dinetralisir dan komunikasi dinamis bisa dilakukan oleh Pemkab melalui Karang Taruna di desa-desa.


Pancasila dan UUD 1945 adalah kitab suci bangsa kita dalam bernegara. Negeri ini dibangun atas landasan “spiritual”, “budi pekerti”, dan “cinta” yang mengutamakan kepentingan bersama, seluas-luasnya. Kebahagiaan, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan bagi semua rakyat. Karang Taruna, adalah wadah untuk menggodok kader-kader bangsa yang potensial dan bermartabat.


Read more..

TKW Asal Pule, Trenggalek, Tewas


Jasad Sriyati TKW yang tewas, akan diotopsi di RSUD dr. Sudomo Trenggalek (PrigiBeach))

Trenggalek, PrigiBeach.com

Diduga karena mengalami perlakuan kasar dan disiksa oleh majikannya di Taiwan perempuan asal Trenggalek yang menjadi Tenaga Kerja Wanita masih beberapa bulan ini akhirnya tewas. Nasib naas itu dialami Sriyati, 26, perempuan asal Dsn Ngledok Desa Tanggaran Kecamatan Pule Trenggalek. TKW ini awalnya diberangkatkan PT Jabung Perkasa Jakarta melalui UP3 Trenggalek saat pertengahan Puasa kemarin. Belum genap tiga bulan wanita malang yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga ini dikabarkan kepada pihak keluarganya mengalami sakit parah dan sedang menjalani perawatan di RS Dr. Sukanto Jakarta Timur sejak Minggu (11/10) lalu. Rekam medis dari rumah sakit di Jakarta itu korban mengalami serangan Typus, radang otak dan gejala TBC. Tapi maut tak dapat ditolak, hari Kamis (15/10) korban menghembuskan nafas yang terakhir. Duka keluarga korban tak terelakkan saat itu, jasadnya kemudian dibawa ke RSUD Trenggalek esoknya untuk meyakinkan penyebab kematian korban.

Dr Vonita yang menangani dan selaku pihak RSUD Dr Sudomo Trenggalek sendiri langsung melakukan otopsi dengan disaksikan petugas dari Mapolres Trenggalek. Menurutnya tidak ada atau tidak ditemukan luka memar maupun luka bekas penganiayaan. Ketika ada yang mengetahui luka yang sedikit memar pada kaki dan tangan seperti bekas pukulan, buru-buru Vonyta mengelak. Alasan Dokter senior ini, luka tersebut karena jeratan tali pocongan kain kafan korban ketika di pulangkan dari Jakarta.

Kesempatan yang sama Jaenal Arifin, 29, suami korban mengaku hanya pasrah akan musibah yang menimpa istrinya tersebut. Bahkan, sebelum meninggal dunia, ibu satu anak itu sempat mengeluh kepada Zaenal Arifin (29), suaminya, bahwa ia kekurangan makan. "Dalam telponnya, satu hari pernah hanya dikasih makan satu bungkus mie saja. Padahal, persoalannya sepele, yaitu karena salah dalam bekerja," ujar Zaenal Arifin, kepada sejumlah wartawan, Jumat (16/10/2009).

Harapan laki-laki yang bekerja serabutan ini agar pemerintah bisa mengupayakan gaji istrinya yang sampai sekarang belum diterima. Pihak keluarga berharap hak-hak Sriyati bisa diberikan, termasuk adanya tali asih dari pihak PT, sebagai PJTKI yang memberangkatkannya. Pemerintah juga sebisa mungkin membantu biaya perawatan serta obat selama Sriyati dirumah sakit. “Melas mas, dia telpon katanya selama satu bulan bekerja di sana hanya dikasih makan mie satu kali sehari saja, makanya sewaktu pulang saya lihat dia sangat kurus sekali“ ujar Jaenal mengulangi ucpannya sambil menggendong anak semata wayangnya.

Korban Sriyati TKW naas tersebut berpulang ke rahmatullah meninggalkan satu orang anak laki-laki bernama Rifan, 2,5, dan suami Jaenal Arifin. Atas persetujuan keluarga dan orang tua korban yakni Sero, 49, dan Tuminem, 42, korban di bawa pulang untuk di makamkan. Keluarga menolak untuk diotopsi ulang di RSUD dr. Sutomo Surabaya karena alasan tidak ada biaya.(pbc)

Read more..

MEMO TRENGGALEK MENULIS BERITA BUKAN GOSIP

Hamzah Abdillah Pimred/Penanggungjawab Memo Trenggalek Online

Kami, segenap redaksi, menyampaikan penghargaan tanpa batas, kepada seluruh pengunjung Memo Trenggalek Online. Khusus kepada para tamu yang menulis komentar maupun respon, berupa kritik ataupun sanjungan, kami sangat berterimakasih.

Selanjutnya, kami ingin tegaskan bahwa tulisan yang kami tayangkan adalah berita hasil investigasi dengan melalui prosedur jurnalisme. Untuk berita kasus kriminal dan pidana khusus, kami berusaha memuat ulang apa yang telah ditayangkan oleh media cetak di mana kami terlibat sebagai kontributor. Dan lebih dari 80% tayangan kami, telah lebih dulu dimuat di Memo Kediri, Kediri Advertiser, Waskita (Ponorogo), Hukum & Kriminal (Jakarta), dll. Jelasnya, kami menghindari gosip murahan, mengedepankan berita yang aktual dan akurat. Namun tetap berada dalam posisi sebagai "pewarta" dan tidak memihak pada kubu obyek yang mungkin sedang bersengketa.

Oleh sebab itu, apabila ada pihak yang merasa tesinggung atau tersudutkan secara moral, kami membuka pintu untuk menayangkan informasi, konfirmasi, sanggahan atau argumentasinya. Bahkan, kami akan meneruskannya kepada media cetak yang telah memuat berita bersangkutan serta akan meneruskannya kepada institusi yang terkait jika berkenaan dengan birokrasi, legeslasi dan yuridis. Setiap obyek berita kami, dapat memberikan bantahan dan kami sangat peduli.

Menyinggung tentang UU ITE, kami juga senantiasa bertanggung jawab bila kelak UU tersebut sudah diterapkan dengan aturan pelaksanaannya. Walaupun demikian, kami pun akan berpegang pula pada UU KIP (Keterbukaan Informasi Publik). Serta berlandaskan pada UU Pers dan kode etik jurnatistik, karena kami, redaksi dan kontributor Memo Online adalah wartawan sah, resmi dan punya kartu identitas sebagai anggota PWI.

Memo Trenggalek Online kami sajikan sebagai wujud partisipasi dan kecintaan kami terhadap Trenggalek. Kami hadir untuk damai, kami datang untuk sejahtera, kami menulis untuk kepentingan bersama. Bukan karena materi atau harta lalu kami menghentikan tayangan suatu kasus (berita), tetapi lebih utama adalah dikarenakan kepentingan publik, demi stabilitas keamanan dan terjaminnya kelangsungan hidup masyarakat yang berkeadilan dan bermartabat.

Memo Trenggalek Online kami sajikan sebagai embrio media massa berbasis internet di daerah ini, dengan harapan dalam waktu dekat akan kami resmikan dan kami daftarkan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Kami, segenap redaksi, kontributor dan staf teknis, dengan kerendahan hati mengharapkan dukungan dan partisipasi aktif dari para pengunjung kami.

Akhirul kalam, "tiada rotan akar pun berguna dan tiada gading yang tak retak" . Kami menyadari bahwa kami hanyalah manusia yang jauh dari sempurna, dan sangat dekat dengan kebathilan maupun kedzoliman. Seuntai maaf - serangkai kritik dari pengunjung, bagi kami lebih bernilai dari pada kemegahan yang glamor. Terimakasih. Merdeka ! Dan terus berkarya, jaya wijayagung Trenggalek jayati.
Read more..

Blog Sahabat Saya

Recent Posts