> Sumpah Pemuda dan Masa Depan Karang Taruna | Prigibeach Trenggalek

Sumpah Pemuda dan Masa Depan Karang Taruna





Oleh : Hamzah Abdillah
Pimred PrigiBeach.com

Rabu, 28 Oktober 2009, besok, kita akan memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-81. Monumen adiluhung karakter Bangsa kita, yang bertekad memegang teguh NKRI. Rumusan teks sumpah pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin sebagai berikut :

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Peserta Kongres Sumpah Pemuda itu adalah dari berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi bahkan ada juga keturunan Tionghoa yang bertindak sebagai pengamat. Merupakan miniatur Nusantara !


Dalam konteks ini, kami bukan ingin membahas sebuah sejarah, melainkan bagaimana kita memaknai peristiwa monumental Sumpah Pemuda, bagi kelanjutan pembangunan Bangsa dan keutuhan NKRI.


Siklus 20-tahunan pernah menjadi rumor dan sempat membuat penguasa Orde Baru ketir-ketir. Bagaimana pun kita semua menyadari, pergerakan perjuangan Bangsa kita untuk menuju pada eksistensi sekarang, adalah karena Pemuda, generasi muda! Tahun 1908, 1928, 1945, 1965 serentetan tahun yang penuh dengan semangat patriotisme dan jiwa heroisme generasi muda kita.


Menjelang dua puluh tahun sesudah ambruknya Orde Lama, pemerintah Orde Baru telah memblokir "kebangkitan generasi muda" dengan berbagai filterisasi dan tindakan antisipatif yang ortodoks. Kopkamtib dengan institusi-institusi pendukungnya berusaha keras dan tanpa malu-malu membelenggu dinamika perjuangan Bangsa, khususnya para pemuda.


Namun, meskipun efektivitas kebijakan tirani Orde Baru tersebut sempat memenjarakan kobaran api "kami cinta Indonesia" dari generasi muda Bangsa kita, hingga tahun 1997. Kobaran api "kami cinta Indonesia"ternyata tidaklah padam. Masih hidup dan tiada akan pernah padam hingga akhir jaman!


Karang Taruna Wadah Bagi Generasi Muda


Semua mengakui, bahwa pemuda adalah "super power" yang sangat menentukan bagi kehidupan di masa depan. Pemerintah kita sejak jaman Bung Karno hingga Presiden Soeharto memberikan porsi khusus bagi generasi muda.


Era Soeharto, di desa/kelurahan dibentuk sebuah organisasi untuk membina generasi muda dan sampai sekarang pun masih ada, yakni Karang Taruna. Konotasi negatif, seharusnya tidak kita bicarakan secara berlebihan. Bagaimanapun juga kita memiliki banyak hal-hal yang positif. Bangsa kita dibangun dengan landasan dan pemikiran yang utuh mencakup segala aspek kehidupan dengan mengutamakan kepentingan rakyat, berpijak pada Pancasila dan UUD1945. Dan Karang Taruna adalah wadah yang dilestarikan oleh Orde Baru dengan banyak manfaat positifnya.


Dalam era reformasi, di daerah ini -Kabupaten Trenggalek- posisi Karang Taruna terkesan meredup. Padahal, apabila kita mau memaksimalkan kembali peranan dan fungsi Karang Taruna dalam upaya pembinaan generasi muda, niscaya derap gempitanya Reformasi dalam segala bidang akan lebih mudah mencapai tujuannya.


Ada 152 desa dan 5 kelurahan di 14 kecamatan, berarti Trenggalek memiliki 157 organisasi Karang Taruna. Selama 11 tahun Reformasi digulirkan, terlihat kegiatan dan upaya pemerintah Kabupaten yang menyentuh pembinaan generasi muda melalui organisasi ini, masih sangat terbatas. Pemkab selama ini hanya tervokus pada pembangunan fisik, baik yang berupa infrasturktur maupun sasrana dan prasarana publik. Jika pun ada kegiatan yang bersifat mental-spiritual, tampak yang lebih diperhatikan adalah ponpes dan tempat ibadah yang ada di desa-desa.


Kita tidak menganjurkan memberi Karang Taruna ikan, namun jangan dilupakan, akan keterbatasan pemuda pedesaan. Mengapa tidak kita siapkan "joran", "tali pancing" dan "kail" untuk mereka?


Konotasi tentang perlengkapan pemancing, jangan diartikan segudang kebutuhan modal finansial. Pembinaan mental-spiritual yang diguyurkan pada generasi muda pedesaan, jangan dibatasi pada Ponpes, tempat ibadah atau lembaga pendidikan formal/informal/nonformal. Namun harus lebih luas dan lebih menyentuh pada kebutuhan yang bisa mereka manfaatkan untuk hidup di masa depan.


Menyongsong kehidupan masa depan, bukan sekedar skill dan ketrampilan kerja saja. Para calon pengisi kemerdekaan Indonesia ini, membutuhkan sikap dan tindakan dari pemerintah yang bijaksana, memiliki integritas dan akuntabilitas yang terpuji.


Pemerintah menggembar-gemborkan gerakan anti korupsi, kolusi dan nepotisme. Sementara para pemuda di pedesaan yang nota bene masih awam tentang jalur-jalur KKN, tentu akan membabi buta menuding para pejabat yang korup. Mereka hanya melihat, pejabat "a" kaya, pasti karena hasil dari KKN. Prasangka ini akan menghunjam dalam pada benak mereka, dan tanpa segan-segan menyama-ratakan semua pejabat berperilaku korup.


Mengapa demonstrasi para generasi muda yang menentang "generasi tua" selalu saja terjadi? Itu antara lain karena prasangka jelek dan tidak adanya komunikasi dinamis antara dua generasi berbeda ini. Prasangka jelek bisa dinetralisir dan komunikasi dinamis bisa dilakukan oleh Pemkab melalui Karang Taruna di desa-desa.


Pancasila dan UUD 1945 adalah kitab suci bangsa kita dalam bernegara. Negeri ini dibangun atas landasan “spiritual”, “budi pekerti”, dan “cinta” yang mengutamakan kepentingan bersama, seluas-luasnya. Kebahagiaan, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan bagi semua rakyat. Karang Taruna, adalah wadah untuk menggodok kader-kader bangsa yang potensial dan bermartabat.


0 Komentar:

Poskan Komentar

Bila Anda suka dengan entry blog ini, sudilah menuliskan komentar di sini.
Terimakasih.