> Ditanya Bahasa Inggris, Mahasiswa Bengong | Prigibeach Trenggalek

Ditanya Bahasa Inggris, Mahasiswa Bengong



MALANG
- Kuliah tamu yang menghadirkan David Anderson yang dilaksanakan American Corner UMM di ruang sidang rektor kemarin berlangsung unik. Gara-garanya, para mahasiswa banyak yang tidak nyambung dengan paparan David yang menggunakan Bahasa Inggris cepat.

David Anderson adalah ketua program The Indonesian Anti Corruption and Commercial Court Enhancement (In-ACCE) Project. Lembaga yang dibiayai USAID ini membantu Mahkamah Agung dalam meningkatkan akuntabilitas dan transparansi peradilan. Termasuk memudahkan publik dalam mengakses perkembangan perkara.

Dalam awal paparan, Anderson menanyakan pada para mahasiswa, apakah mereka bisa mengoperasikan komputer, para mahasiswa pun diam tak menjawab. Berkali-kali David mengulangi pertanyaan itu, tapi mereka tetap tidak menjawab.

Kejadian tidak nyambung juga berulang ketika David menanyakan apakah mahasiswa masuk di jejaring sosial facebook. Berkali-kali ditanya, para mahasiswa juga bengong. Meski ada yang menjawab, tapi nyaris tidak terdengar jelas dari depan.

Karena pertanyaannya tidak segera dijawab, maka penerjemah pun mengambil alih dengan mengatakan, "Apakah kalian punya facebook?" Baru setelah itu para mahasiswa menjawab, "Punyaaaaaa..."

Dalam paparannya, Anderson mengulas tentang sistem dokumentasi dalam dunia peradilan. Menurut dia, ke depan dokumentasi itu tidak hanya dengan media kertas. Tapi bisa melalui rekaman, file, atau website seperti di Amerika. Dokumentasi yang rapi merupakan bagian sistem peradilan yang bisa meningkatkan akuntabilitas.

Sementara, kepala Biro Hubungan Luar Negeri UMM Soeparto, mengatakan kuliah tamu ini penting bagi para dosen dan mahasiswa fakultas hukum. Tujuannya untuk menyerap berbagai informasi terkait konstitusi di Amerika. Selain itu juga sebagai media untuk pembelajaran Bahasa Inggris bagi mahasiswa dan dosen.

Apalagi cara mengajar dosen di Amerika dengan kebanyakan dosen di Indonesia berbeda. "Dosen-dosen di Amerika itu lebih interaktif dalam memberikan materi, kalau di Indonesia lebih banyak monolog," ujar sekretaris Dewan Pendidikan Kota Malang (DPKM) ini. (lid/war)


0 Komentar:

Poskan Komentar

Bila Anda suka dengan entry blog ini, sudilah menuliskan komentar di sini.
Terimakasih.