> Susiyati Lindungi Anak dari Reruntuhan Rumah | Prigibeach Trenggalek

Susiyati Lindungi Anak dari Reruntuhan Rumah


  • Puting Beliung Hajar Sejumlah Wilayah Jatim

Laporan:Nuraini Faiq | Nganjuk

Ny Susiyati, 39, menjadi korban saat rumahnya –bersama lima rumah warga yang lain– rata tanah dihantam angin puting beliung. Tulang punggungnya patah, dan harus dioperasi di RSUD Nganjuk, Sabtu (24/10).

Bencana angin puting beliung tersebut muncul di dusun Susiyati, Dusun Kandeg, Waung, Baron, Nganjuk, Jumat (23/10) petang. Istri Heri Budi Santoso, 40, itu luka berat pada bagian punggung dan kepala karena melindungi salah satu anaknya, Indra, dari reruntuhan rumah.

Selain merusakkan enam rumah warga termasuk rumah keluarga Heri Budi Santoso yang berukuran sekitar 10 kali enam meter angin puting beliung yang dibarengi hujan deras tersebut juga menyapu atap pabrik pupuk organik di Baron. Atap seng bersama cornya pun lepas dari bangunan pabrik.

Konstruksi atap berkerangka cor inilah yang menimpa dan membuat rusak enam rumah yang berada persis di sisi selatan pabrik. Enam rumah tersebut adalah milik Heri Budi Santoso, Tumiran, Kaseni, Sukamto, Samidi, dan Darsono.

“Kasihan Bu Susiyati, punggungnya patah kambrukan rumah,” kata Wati, tetangga korban.
Selain mematahkan punggung ibu dua anak tersebut, akibat angin puting beliung juga mematahkan kaki suaminya, Heri Budi Santoso, yang akrab disapa Budi. Hanya, luka Budi tak separah sang istri.

Saat ditemui Surya, Sabtu (24/10), Budi menuturkan bencana itu hanya muncul sesaat tidak sampai satu menit. Setelah terdengar suara gemuruh, langsung diikuti enam rumah ambruk.

“Kami bersama anak sedang nonton televisi. Istri saya merunduk mendekap Indra (anak, Red), saya menggendong ibu saya (Ny Suyuti, Red) yang sudah sepuh,” kenang Budi, yang mendampingi Susiyati di RSUD Nganjuk.

Sabtu (24/10) siang Susiyati dirujuk ke RSUD Nganjuk. Sebelumnya, Jumat (23/10) malam hingga Sabtu pagi, Susiyati dan Budi dirawat di RSUD Kertosono. “Kalau tidak ada istri saya, saya tidak tahu nasib Indra,” tambah Budi.

Saat itu, menjelang magrib, keluarga Budi berada di ruang tengah melihat acara televisi. Indra minta dibuatkan teh. Ketika hujan semakin deras dan diikuti angin ribut keluarga Budi semburat dari ruang tengah.

Budi menggendong ibunya sewaktu rumah ambruk, sedangkan Susiyati mendekap anaknya seraya berjalan minta tolong dengan kondisi darah mengucur deras dari kepala dan punggung. “Saya tidak tahu apa yang terjadi kemarin. Spontan, saya melindungi anak saya,” kata Susiyati, lirih.

***

TIDAK hanya di Nganjuk, puting beliung juga melanda sebagian wilayah Kabupaten Sampang, Madura, yaitu di tiga desa di Kecamatan Karang Penang (Karang Penang Oloh, Poreh, dan Bulmateh). Sedikitnya 80 rumah warga rusak berat dan ringan, serta tiga orang terluka setelah dihajar puting beliung, Sabtu (24/10) dini hari.

Kondisi tiga desa itu memprihatinkan. Di Desa Karang Penang Oloh, misalnya, tampak 15 rumah warga mengalami rusak berat dan 15 rusak ringan; sedangkan di Desa Poreh 10 rumah rusak berat, 27 rumah rusak ringan; dan di Bulmateh 10 rumah rusak parah, dan 13 rusak ringan.

“Rumah-rumah yang rusak berat kebanyakan terbuat dari kayu dan gedhek. Saat dilanda putting beliung rumah-rumah tersebut rata dengan tanah karena tidak punya kekuatan,” kata Maksoem, camat Karang Penang.

Pascabencana banyak warga mengalami trauma dan tidak berani masuk ke rumah masing-masing karena takut akan ada angin puting beliung susulan. Maksoem menambahkan, pihaknya sudah menerima bantian dari Pemkab Sampang untuk diteruskan kepada para korban bencana angin puting beliung tersebut.

Salah satu korban sekaligus saksi mata, Fauzan, 33, warga Dusun Becarbeh, Desa Karang Penang Oloh, mengungkapkan, saat kejadian dirinya melihat angin berputar kencang dari arah timur laut. Fauzan pun panik dan berusaha melarikan diri menjauhi rumah bersama keluarganya.

Setelah menyelamatkan diri, dia melihat dari kejauhan, gudang di belakang rumah tempat dirinya berjualan material bangunan disapu puting beliung. Akibatnya, bagian atas gudang, seperti genteng, plafon, dan seng, terlempar ke atas; sedangkan gudang Fauzan rata dengan tanah.

“Runtuhnya gudang memakan korban satu orang pekerja saya luka, yaitu Sumar. Dia luka di kepala, dan harus dirawat di puskesmas,” kata Fauzan.

Di Kabupaten Jember, hujan deras yang diikuti dengan angin puting beliung, Sabtu (24/10) siang, membuat puluhan bangunan rusak, pohon tumbang, gudang tembakau roboh dan tiang listrik serta telepon rusak. Bencana itu terjadi sekitar 13.00 WIB.

Beberapa pohon tumbang di Jalan Gajah Mada, Kecamatan Kaliwates; dan Jalan Subandi, Kecamatan Patrang. Pohon-pohon tumbang melintang di jalan sehingga membuat arus lalu lintas terhambat.

Sedikitnya enam rumah dan tiga warung rusak di Lingkungan Kreyongan Atas, Kelurahan Kreyongan, Patrang rusak. Kerusakan terjadi di bagian genteng.

“Ada yang gentengnya jatuh, ada yang juga beterbangan hingga habis. Warung saya juga roboh,” keluh Aris, pemilik warung di Jalan Subandi, Patrang.

Di Kecamatan Mumbulsari beberapa gudang tembakau roboh karena disapu angin puting beliung. Sedangkan atap sebuah pusat pertokoan di kawasan Mandiri Land, Kaliwates, juga terbang terbawa angin. (st33/st9/pbc)

0 Komentar:

Poskan Komentar

Bila Anda suka dengan entry blog ini, sudilah menuliskan komentar di sini.
Terimakasih.