> Prigibeach Trenggalek

Kusprigianto: Tidak Ada Titipan Untuk PSB di Sekolah Favorit

Trenggalek (prigibeach.com) – Rumor tentang adanya kasus dan keluhan masyarakat menyangkut penerimaan siswa baru di Trenggalek, Jawa Timur, ditepis oleh Kepala Dinas Pendidikan, Kusprigianto dengan mengatakan “Itu tidak benar. Tidak ada istilah titipan anak pejabat atau anak siapapun untuk bisa diterima di sekolah favorit tanpa melalui sistem yang sudah ditetapkan”.

Selanjutnya, dia menegaskan bahwa sistem penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah di seluruh Kabupaten Trenggalek, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga SMU dan SMK sudah diatur dalam petunjuk pelaksanaan yang berpedoman pada peraturan Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama, yang selanjutnya dituangkan dalam peraturan sesuai hasil musyawarah jajaran pendidikan di daerah ini.

“Dan untuk menjamin pelaksanaan penerimaan siswa baru tahun pelajaran 2011/2012 berasas objektif, transparan, akuntabel dan tidak diskriminatif, telah kami susun pedoman pelaksanaan penerimaan siswa baru (PSB) di Kabupaten Trenggalek, mulai dari jenjang TK/RA, SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA dan SMK tahun pelajaran 2011/2012”, katanya.

Kusprigianto menambahkan, bahwa model PSB mengakomodir minat dan kompetensi calon peserta didik pada jenjang tertentu sesuai kemampuannya serta daya tampung yang dimiliki sekolah. Model PSB yang digunakan yaitu : PSB Jalur Khusus, Tes Pengendali Mutu (TPM), Tes Kemampuan Akademik (TKA)/ Reguler dan Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Untuk meminimalisir kerawanan dan unsur subyektivitas sekolah pada pelaksanaan PSB maka pelaksanaannya dilakukan oleh Tim yang terdiri atas unsur Dinas Pendidikan Trenggalek, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK, serta pemandu bakat.

Di beberapa sekolah, selain mempergunakan nilai hasil ujian nasional, juga ada yang dipadukan dengan nilai rata-rata raport kelas terakhir. “Yang jelas, sistem tersebut sudah kami terapkan di semua sekolah. Jadi, issu adanya titipan siswa baru di sekolah tertentu, adalah tidak benar. Bila ada masyarakat yang mengetahui, silakan lapor, kami akan menindak lanjuti kecurangan tersebut dengan membatalkan murid yang sudah diterima melalui cara itu”, tegas Kusprigianto di ruang kerjanya, Rabu (6/7).

Terkait adanya pungutan biaya pendaftaran yang memberatkan wali murid, Kusprigianto mengakui memang ada sekolah yang melakukan hal itu. Namun semuanya sudah melalui persetujuan dari Komite Sekolah. “Khusus untuk sekolah menengah atas dan kejuruan, itu bisa dilakukan karena mereka tidak disubsidi dana BOS (Biaya Operasional Sekolah). Sementara untuk jenjang SMP bisa saja mereka memungut biaya untuk –misalnya- pakaian seragam, mamun harus melalui persetujuan Komite Sekolah dan walimurid yang baru,” katanya.

Kendati demikian, Kusprigianto mengaku telah menginstruksikan semua Sekolah agar menekan seminim mungkin cost pendidikan. “Bila ada iuran untuk seragam dan lain sebagainya hendaknya tidak bersamaan dan seyogyanya bisa dicicil oleh wali murid,” katanya. Menurut Kusprigianto, cost pendidikan di daerah ini terhitung paling rendah dibandingkan dengan daerah kabupaten lain. Oleh sebab itu, dia menghimbau kepada masyarakat dan wali murid menyadari nya dan memberikan toleransi.

Untuk pendidikan dasar sudah ada dana BOS, namun itu tidak berarti bahwa biaya sekolah jenjang ini 100% gratis. Sebab, penggunaan dana BOS sudah ada aturannya dan hanya cukup untuk menutupi biaya operasional sekolah.

“Walaupun demikian untuk siswa yatim dan siswa yang memang sungguh-sungguh tidak mampu, diberikan fasilitas khusus dengan gratis 100%. Sehingga dengan demikian yang bersangkutan dapat menyelesaikan pendidikan dasar tanpa biaya sepeser pun, bahkan bila perlu diberikan biaya transportasi pulang pergi dari rumah ke sekolah,” kata Kusprigianto. (haz).
Read more..

HUT Bhayangkara Ke-65: Polri Siap Mewujudkan Pelayanan Prima

Trenggalek (prigibeach.com) - Tepat pada tanggal 1 Juli 2011, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) Memperingati HUT Bhayangkara ke-65. Dengan momentum ini, diharapkan dapat menjadi pelecut semangat bagi anggota kepolisian di seluruh wilayah tanah air untuk dapat lebih memberikan pelayanan, perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat serta dapat menjalankan tugas dengan penuh kesungguhan, keteguhan, keikhlasan dan pengabdian terbaik kepada rakyat, bangsa dan negara yang kita cintai.

Petikan sambutan Presiden Republik Indonesia di atas dibacakan oleh Kapolres Trenggalek, AKBP. Totok Suharyanto, SIK, M.Hum. dalam Upacara Peringatan HUT Bhayangkara ke-65 di Halaman Mapolres Trenggalek, Jawa Timur, Jumat pagi (1/7). Upacara ini dihadiri oleh Bupati Trenggalek H. Mulyadi WR, Kketua DPRD S. Akbar Abbas, jajaran Forpimda Kabupaten Trenggalek serta segenap anggota kepolisian yang ada di Resort Trenggalek.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa Hari Bhayangkara tahun ini yang mengambil tema "Dengan Semangat Kemitraan Kita Mantapkan Revitalisasi Polri Guna Mewujudkan Pelayanan Prima" . Tema besar ini terdiri dari tiga kunci utama, yakni melaksanakan kemitraan, memantapkan Revitalisasi Polri dan mewujudkan Pelayanan Prima. dan hal ini sangat tepat dan relevan dengan tugas utama Polri di era reformasi saat ini.

Kemitraan utamanya dengan masyarakat merupakan faktor yang sangat mendukung terhadap kinerja Polri. Tanpa kemitraan yang erat dengan masyarakat, mustahil Polri dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik dan berhasil. Revitalisasi Polri juga sangat strategis, mengingat dalam beberapa tahun terakhir ini, Polri terus menjalankan reformasi internal untuk mewujudkan postur Polri yang semakin taktis, reformis dan humanis. Semuanya itu, bertujuan untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

SBY juga menggarisbawahi terkait meningkatnya gejala-gejala radikalisme, terorisme dan kekerasan horizontal di kalangan masyarakat. Bahkan sebagian telah berani melakukan aksi penyerangan terhadap anggota Polri yang sedang mengemban tugas negara. Kenyataan ini merupakan peringatan agar jajaran kepolisian negara tetap siap-siaga terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Jika tidak ditangani secara sungguh-sungguh, maka keamanan dalam negeri mendapat ancaman yang serius. "Kita tidak boleh lengah, kita harus tetap waspada!",lanjut Presiden.

Kepada Polri dan jajarannya, Presiden meminta untuk lebih mengutamakan pendekatan dengan menggunakan cara-cara yang lebih persuasif, bukan tindakan represif. "Kedepankan upaya pre-emptif dan preventif",tuturnya. Namun jika telah terjadi pelanggaran hukum maka pendekatan upaya paksa atau tindakan represif tidaklah salah. Pendekatan soft power menjadi cermin dari proses Reformasi Birokrasi serta Revitalisasi Polri yang terus berjalan. Kita ingin menampilkan wajah Polri yang kian humanis. Kita juga ingin meningkatkan sinergitas kemitraan yang positif dengan masyarakat luas. "Karena itulah, mengedepankan pendekatan soft power lebih memberi peluang yang lebih luas bagi Polri untuk membangun kemitraan sebagai bagian dari Grand Strategy Polri", kata Presiden.

Dalam upacara kali ini, AKBP. Totok Suharyanto, SIK, M.Hum. memberikan penghargaan kepada 23 anggotanya yang berprestasi dan disiplin dalam menjalankan tugas kedinasan. (haz).
Read more..

KORPRI Peduli Kartini - Beri Bantuan Rp.5 juta dan Kursi Roda

Kartini yang menderita lumpuh
Trenggalek (prigibeach.com) - Keceriahan terpancar dari raut wajah Kartini (40), warga Dusun Krajan Desa Gondang Kecamatan Tugu, Trenggalek Jawa Timur, ketika mendapatkan ''hadiah'' dari KORPRI Trenggalek.  "Bantuan ini, kami berikan demi meringankan beban yang diderita oleh Kartini sekeluarga, dari Dewan Pengurus KORPRI Kabupaten Trenggalek", ujar Ir. Cipto Wiyono, M.Si. Ketua Umum Dewan Pengurus Korpri Kabupaten Trenggalek. Selain itu, Cipto Wiyono yang juga menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Trenggalek ini memberikan bantuan kursi roda untuk Kartini.

Serombongan Pengurus KORPRI itu telah mengunjungi kediaman Kartini  guna menyerahkan bantuan paket sembako dan uang senilai Rp 5 juta, Selasa (28/6).  Rombongan tersebut antara lain adalah Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik Ir. Ekanto Malipurbowo, MM., Kepala Dinas Pendidikan, Drs. Kusprigianto, MM., Kepala Dinas Nakertransos Ir. Surya Admadja Wisnubrata, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana,  Machfud Effendi, SH. MM., serta Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah, Agus Yahya SE. M.Si.

Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial di masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian. Banyaknya anak yang putus sekolah, maraknya prostitusi, perampokan dan pencurian yang merajalela, hingga sakit menahun karena tidak mampu berobat  merupakan dampak turunan dari masalah sosial ini.

Kartini yang tinggal di Dusun Krajan Desa Gondang Kecamatan Tugu, wanita yang saat ini berusia 40-an tahun namun kelihatan lebih tua tersebut  sudah  lama tidak bisa berjalan akibat kelumpuhan yang dialami oleh kedua kakinya. Menurut penuturan keponakannya, Sunarsih, kelumpuhan yang dialami oleh Kartini ini bukanlah bawaan dari lahir.

Diceritakan oleh Sunarsih bahwa kelumpuhan diawali ketika saat remaja Kartini diajak pergi ke Desa Duren Kecamatan Tugu dengan mengendarai bus. Ketika pulang, Kartini merasa payah dan dipangku oleh seorang lelaki tua. “Sejak saat itulah, Kartini merasakan demam yang sangat panas dan lama kelamaan kedua kakinya menjadi lumpuh”, cerita Sunarsih. Sayangnya,  pihak keluarga pada saat itu tidak segera memeriksakan Kartini ke dokter ataupun rumah sakit karena takut akan tingginya biaya berobat. “Dulu waktu awal menderita sakit,  pernah diobati dengan jampi-jampi”, lanjut Sunarsih.

Foto : Cipto Wiyono memberikan bantuan kepada Sunarsih

Tidak hanya Kartini, ibu dan juga kakak perempuannya saat ini juga sedang menderita sakit. Ibunya menderita katarak, sedangkan kakak perempuannya menderita sakit akibat buruknya cuaca akhir-akhir ini. Sehingga hanya Sunarsih beserta suaminya, Ginanto, yang menjadi tulang punggung keluarga. Sunarsih sendiri saat ini memiliki 4 orang anak.

Kepada putra pasangan Ginanto - Sunarsih nomor dua yang saat ini akan memasuki jenjang SMA/SMK, Cipto Wiyono mengharapkan untuk dimasukkan ke SMK saja. Mengingat usai SMK para siswa telah dibekali keterampilan untuk bekerja. Bahkan Cipto Wiyono berjanji membelikan sepeda dengan syarat mau menggunakan sepeda ke SMK yang ada di Kota Trenggalek. “Saya juga bisa menjadi Sekda seperti ini juga karena dulu menggunakan sepeda”,ujar pria yang juga tinggal di Desa Gondang ini.(haz).
Read more..

Kontingen Rembang “Ngudi Kaweruh” Tentang Mocaf

 Foto : Ny.Penny Mulyadi dan Ketua Tim Penggerak  PKK Kabupaten Rembang, Hj.Umi Jazilah Salim (kiri).

Trenggalek (prigibeach.com) -
Keberhasilan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur dalam mengolah ketela pohon menjadi sumber makanan non beras yang mengandung nutrisi berkualitas ternyata mengundang beberapa daerah untuk menimba ilmu. Kali ini giliran Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, bertandang ke daerah yang juga kesohor dengan keripik tempe ini  Senin, (27/6). Rombongan yang dipimpin oleh Ketua Tim Penggerak  PKK Kabupaten Rembang, Hj. Umi Jazilah Salim dengan anggotanya sebanyak 46 orang terdiri dari beberapa unsur mulai dari Tim Penggerak  PKK Kabupaten Rembang, kelompok tani pengembang ketela pohon serta Dinas Pertanian Kabupaten Rembang.

Sebelum melakukan ramah tamah dengan  Ketua Tim Penggerak  PKK Kabupaten Trenggalek, rombongan terlebih dahulu mengunjungi Koperasi Gemah Ripah Loh Jinawi di Desa Kerjo Kecamatan Karangan, serta beberapa cluster untuk melihat langsung proses pembuatan tepung mocaf yang didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Trenggalek, Ir.Joko Surono.

Selanjutnya rombongan diterima secara resmi oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek, Ny. Penny Mulyadi di Pendopo Kabupaten Trenggalek, didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Trenggalek, Ir. Joko Surono.

Selanjutnya Joko Surono memaparkan beberapa hal terkait dengan potensi Kabupaten Trenggalek serta perkembangan pengolahan ketela pohon kepada rombongan study banding.   Menurut Ir.Joko Surono, Kabupaten Trenggalek sudah terkenal dengan makanan khas yang berasal dari singkong yang disebut nasi thiwul sejak dahulu. Tetapi sejak tahun 1985, penggunaan thiwul sebagai makanan pokok selain nasi terus mengawali penurunan.  Oleh karena itu, demi meningkatkan minat masyarakat untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat non beras inovasi terus dilakukan.

“Gaplek yang sering dinomor-duakan, terus kami kembangkan. Juga pemanfaatan ubi kayu, garut dan lainnya, sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat. Sekaligus sebagai upaya kemandirian pangan, sehingga bisa mengurangi ketergantungan terhadap import gandum.” katanya.

Meskipun produksi ketela pohon pada tahun ini mengawali penurunan dari dua tahun sebelumnya yaitu tahun 2009 dan 2010, tetapi produksi ketela pohon masih tergolong tinggi yaitu 328.073 ton.  Penurunan produksi ini lebih disebabkan karena adanya musim yang tidak menentu. Dengan produksi sebesar itu, tambah Ir.Joko Surono ketela pohon akan diolah menjadi tepung tapioka, tepung mocaf dan tepung cassava non fermentasi.

Selain itu, dengan berkembangnya pengolahan ketela pohon menjadi tepung mocaf telah menambah nilai jual ketela pohon di masyarakat. Hal ini secara tidak langsung juga telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Trenggalek terutama mengangkat taraf hidup petani ketela pohon. Yang paling menggembirakan ribuan tenaga kerja berhasil diserap untuk mendukung produksi mocaf di beberapa cluster.

Ketua Tim Penggerak  PKK Kabupaten Rembang,  Hj. Umi Jazilah Salim dalam sambutannya mengungkapkan rasa gembiranya karena telah disambut dengan hangat di Kabupaten Trenggalek. “Kami merasa senang karena telah diajak untuk mengunjungi dan melihat secara langsung proses pengolahan mocaf di beberapa cluster” ungkapnya. Lebih lanjut dinyatakan atas upaya menimba ilmu di Kabupaten Trenggalek ini diharapkan mampu dikembangkan di daerahnya.

Ny. Penny Mulyadi selaku Ketua Tim Penggerak  PKK Kabupaten Trenggalek memaparkan beberapa program pokok TP PKK dari Kabupaten Trenggalek yang menitik beratkan kepada pelayanan sosial kepada masyarakat. “Semoga beberapa program yang berhasil diaktualisasikan Tim Penggerak  PKK Kabupaten Trenggalek bisa menginspirasi Tim Penggerak  PKK Kabupaten Rembang untuk berbuat lebih baik dan lebih banyak” pungkasnya.

Acara diakhiri dengan pemberian cindera mata berupa Plakat Lambang Daerah Kabupaten Trenggalek dengan Kabupaten Rembang oleh Ny.Penny Mulyadi kepada Ketua Tim Penggerak  PKK Kabupaten Rembang, Hj.Umi Jazilah Salim.
(haz).

Read more..

Identifikasi Mayat di Pantai Cengkrong, Polres Minta Bantuan Puslabfor Polda Jatim

AKBP Totok Suharyanto, S.Ik.M.Hum, Kapolres Trenggalek


Trenggalek (prigibeach.com) - Ditemukannya sesosok mayat laki-laki di pantai Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Trenggalek Jawa Timur, pada Jumat sore pukul 15.00 WIB, membuat Polres Trenggalek memerlukan bantuan Tim Pusat Laboratorium Forensik Polda Jatim. Pasalnya kondisi mayat tersebut sebagian besar tubuhnya hangus terbakar dan tidak ditemukan identitas di lokasi penemuan. Tim Pusat Laboratorium Forensik Polda Jatim, yang sedianya akan tiba siang ini, diminta untuk mengidentifikasi mayat tersebut yang diduga korban pembunuhan.

"Langkah ini kami ambil untuk mengetahui DNA, sidik jari, serta beberapa hal yang sekiranya diperlukan untuk proses penyelidikan," kata Kapolres Trenggalek AKBP Totok Suhariyanto, S.Ik.M.Hum, Sabtu (25/6). Selain itu, lanjut kapolres, pihaknya juga meminta bantuan tim dokumentasi kesehatan (Dokkes) Polda Jatim untuk ikut melakukan identifikasi. Kapolres AKBP Totok Suharyanto menambahkan, pihaknya menemukan adanya bekas bacokan benda tajam pada kepala korban. Diduga, pria malang tersebut sempat dianiaya terlebih dahulu sebelum kemudian digantung dan dibakar.

Tim puslabfor dan dokkes sendiri rencananya akan langsung menuju di Desa Karangandu dan melakukan identifikasi tempat kejadian perkara (TKP) serta mencari sejumlah bukti atau petunjuk yang mungkin masih tersisa.

Kondisi mayat korban pembunuhan di Karanggandu.
Sementara menunggu kedatangan tim labfor dan dokkes Polda Jatim, jajaran Kepolisian Trenggalek saat ini menyiagakan satu kompi personel Samapta untuk mengamankan lokasi penemuan mayat.

"Lokasi kami sterilkan sambil menunggu tim Puslabfor datang," ujar Kasat Samapta AKP Supriyanto yang nampak ikut terjun melakukan pengamanan di lokasi kejadian.


Pertama kali ditemukan, jenazah pria yang belum diketahui identitasnya tersebut dalam kondisi sangat mengenaskan, sudah tidak utuh lagi akibat dibakar.
Sayang, tidak satupun identitas berhasil ditemukan. Polisi saat ini baru mengidentifikasi jenis kelamin serta ciri-ciri fisik pria malang tersebut.

Penemu mayat pertama kali, Tumiran (45), salah seorang nelayan di sekitar pantai Cengkrong, di hadapan polisi bersaksi bahwa saat itu dirinya baru saja melaut di lepas pantai Cengkrong sekitar satu kilometer dari lokasi penemuan mayat.

Saat itu saksi melihat sesosok benda mencurigakan di sisi jalan. Penasaran, saksi langsung mendekatinya. Ternyata sosok tersebut adalah tubuh manusia yang kondisinya mengenaskan. Sebagian besar tubuhnya menjadi abu akibat hangus terbakar.(Mentho/Haz).
Read more..

Blog Sahabat Saya

Recent Posts