> Prigibeach Trenggalek

Warga Tugurejo Blokir Ases Jalan Pabrik "Trison" dan "Singa"


Reporter : Nanang Masyhari

Trenggalek, Memo

Akses jalan masuk ke dua perusahaan yakni, Pabrik Daur Ulang Kertas PT. Trison Paperindo Jaya dan Gudang Distribusi Kopi Singa di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri mendadak diblokir paksa warga setempat. Penutupan itu dilakukan warga karena dua perusahaan tersebut tidak juga menepati janji untuk memperbaiki kerusakan jalan yang menghubungkan Dusun Loksongo, Desa Tugurejo dengan Dusun Balong, Desa Gogorante, akses jalan desa yang dilewati truk-truk pabrik.

Ketua RT III/ RW VI Sucipto menegaskan, aksi blokir jalan masuk ke dua perusahaan itu wujud dari puncak dari kejengkelan warga yang merasa dipermainkan oleh janji-janji perusahaan. Sementara, jalan dibiarkan terus dalam keadaan rusak. Bahkan, batas tepi jalan runtuh, dan pipa air PAM hancur. "Sebelumnya, pabrik telah berulang kali berjanji akan memperbaiki jalan dengan memaving, namun hingga kini belum juga terealisasi," terang Sucipto, Selasa (1/9/2009)

Janji dua perusahaan untuk mempaving jalan itu, imbuh Sucipto, terjadi dalam kesepakan bersama pada pertemuan sebelumnya, antara warga Loksongo, pabrik kertas PT. Trison, gudang Kopi Singa dan pihak Desa Tugurejo yang langsung dihadiri Kepala Desa Totok. "Kami telah melakukan apa yang diminta perusahaan, seperti menebang Pohon Randu di pinggir jalan. Tapi, justru perusahaan, tidak juga memperbaiki jalan tersebut," tutur Sucipto.

Terpisah, Kepala Dusun Loksongo Supriyadi mengatakan, aksi warga memblokir jalan tidak ada pemberitahuan ke perangkat. Namun, Supriyadi membenarkan jika aksi itu dilakukan karena warga jengkel dengan perusahaan yang tidak kunjung memperbaiki jalan yang setiap hari dilalui truk-truk mereka dengan kapasitas muatan hingga 20 ton, terlebih setelah Pipa PAM hancur karena terlindas.

"Saya tahu jalan sudah dalam kondisi terblokir," kata Supriyadi. Lebih lanjut dijelaskan Supriyadi, terkait kesepakatan sebelumnya, memang benar jika dua perusahaan berjanji akan memaving jalan, secara bersama. "Seingat saya, dari PT. Trison dibebankan 60 persen, dan Gudang Kopi Singa 40 persen," terus Supriyadi. Sebagaimana diketahui, dalam seharinya, jalan tersebut dilalui sebanyak 9-12 truk pembawa limbah kertas dari PT. Tjiwi Mojokerto, dan truk gandeng Kopi Singa.

Usai pemblokiran jalan di Dusun Loksongo, Tugurejo oleh warga, truk-truk dua perusahaan itu beralih melalui akses jalan Dusun Balong, Desa Gogorante, atau sebelah barat perusahaan. (nng/Haz)

Read more..

Dirazia, Eksodus Penambang Pasir Liar Kota Kediri Dilepas Kembali


Reporter : Nanang Masyhari

Trenggalek, Memo

Satuan Polisi (Sapol) PP Kabupaten Kediri melepas kembali 15 mesin disel milik penambang pasir liar 'eksodus' wilayah Kota Kediri yang kini dijaga super ketat. Disel-disel itu berasal dari dua titik lokasi penambangan illegal di Desa Jongbiru dan Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo.

Kepala Sat Pol PP Kabupaten Kediri Gembong Sujatmiko mengaku, mengembalikan disel-disel hasil razia itu karena merasa kasian kepada penambang pasir. " Kita kasian kepada mereka, harga satu disel bisa mencapai Rp 15 juta. Kami kembalikan, agar mereka bisa menjualnya ke pasar," terang Gembong Sujatmiko, ditemui Memo-online, Selasa (1/9/2009) siang.

Lebih lanjut dijelaskan Gembong Sujatmiko, bentuk penanganan penambang pasir liar di Sungai Brantas yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kediri, berbeda dengan Pemerintah Kota Kediri. "Jika kami tidak mungkin untuk melakukan penjagaan ketat, dan razia besar seperti Kota Kediri, namun lebih cenderung untuk mengawasi mereka setiap hari, lalu mengambil disel mereka. Selain biayanya murah, juga efektif," terang Gembong Sujatmiko.

Dengan upaya pengawasan dan pengambilan disel setiap hari, ungkap Gembong Sujatmiko, para pemilik tambang yang notabene masyarakat kecil, dengan sendirinya akan beralih. Pasalnya, dalam sekali menurunkan mesin disel ke sungai, biaya yang mereka keluarkan cukup tinggi yakni, dari Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu. Jika, kegiatan itu dilakukan terus menerus, imbuh Gembong, para penambang akan rugi, dan memilih berhenti sendiri.

Data yang ada pada Satpol PP Kabupaten Kediri, saat ini jumlah penambang pasir mekanik yang masih bertahan sebanyak 59 penambang. Padahal, sebelumnya mencapai 249 penambang. Menurut Gembong Sujatmiko, mereka banyak yang berhenti, karena tidak bisa bertahan. (nng/Haz).

Read more..

Dua Pengecer Togel Diringkus


Trenggalek, Memo

Dua tersangka pengecer togel di wilayah hukum Polres Trenggalek sabtu (29/8) di tangkap, yakni Sugianto (50) alias Gito warga Rt 14 Rw 06 Desa Salamrejo Kecamatan Karangan dan seorang ibu rumah tangga yang bernama Mujiatun (51) warga Rt 17 Rw 01 Desa Karangsoko Kecamatan Trenggalek. Keduanya di tangkap saat melayani penombok dan sedang merekap nomor togel di rumahnya, penangkapan keduanya berkat adanya laporan dan pengaduan masyarakat yang sudah resah dengan adanya aktifitas penjualan kupon haram tersebut ke polisi.

Setelah menindak lanjuti adanya laporan, melakukan penyelidikan, tak berapa lama petugas Reskrim Polres Trenggalek berhasil meringkus mereka. Dari tangan kedua tersangka disita duit ratusan ribu rupiah, dua lembar kertas rekap nomor togel, pulpen, dan bundel kupon judi.

Kapolres Trenggalek AKBP Desmawan Putra melalui Kasad Reskrim AKP Saipul Rokhman membenarkan penangkapanya, keduanya akan kami jerat pasal 303 tentang perjudian, terancam hukuman empat tahun penjara, jelasnya.(Haz)

Read more..

Warga Binaan Rutan Nikmati Berkah Agustusan

Bupati Suharto secara simbolis serahkan SK Remisi kepada para warga binaan (Hamzah)

Trenggalek Memo

Perayaan Hari Kemerdekaan RI selalu diikuti dengan pemberian remisi atau pengurangan hukuman kepada para narapidana. Dan di Kabupaten Trenggalek, Bupati Trenggalek, H. Soeharto, berkenan menyerahkan Remisi Umum kepada 56 orang narapidana sesuai dengan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : W10 – 2013 – PK. 01. 01.02. Tahun 2009, bertempat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kabupaten Trenggalek pada hari Minggu, 17 Agustus 2009.

Adapun rincian remisi yang diberikan adalah 27 orang mendapat remisi 3 bulan, 10 orang mendapat remisi 2 bulan, dan 19 orang

mendapat remisi 1 bulan. Remisi ini diberikan dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun ke-64 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Dari 56 orang yang mendapatkan remisi tersebut, 4 orang diantaranya langsung bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Kabupaten Trenggalek.

Dalam sambutannya Bupati Trenggalek, H. Soeharto, menyatakan bahwa pemberian remisi kepada narapidana adalah salah satu indikator bahwa suatu bangsa sangat peduli dengan kebebasan individual yang pada dasarnya merupakan hak paling hakiki dari manusia. Dengan diberikannya remisi ini, narapidana akan lebih cepat bebas dan dapat segera kembali ke tengah–tengah pergaulan masyarakat, bertemu orang tua, istri, anak, sanak saudara berikut keluarga sehingga dapat melakukan kegiatan yang bersifat positif dalam rangkaian mengisi kemerdekaan. Selanjutnya, H. Soeharto berpesan agar para narapidana yang bebas nantinya, dapat menyadari kesalahannya di masa lalu dan mampu menciptakan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat.

Terpisah Krismono SH,BcIP Kepala Rutan Trenggalek sangat berterima kasih kepada seluruh Muspida utamanya Bupati Suharto yang sangat peduli dengan keberadaan Rutan yang di pimpinnya . Menurutnya kepedulian tersebut sangat berpengaruh pada keberhasilan
tujuan pembinaan kepada para warga binaan selama ini. “ faktor dukungan dari pemerintah setempat sangat penting, karena mereka kebanyakan adalah warga Trenggalek sendiri, jadi pendekatan kultural dan emosi kedaerahan di utamakan dalam membina
warga binaan “ Ucap pria asli kota “ Gudeg” kepada Memo.(Haz)

Read more..

Puncak Prosesi Hari Jadi Trenggalek Ke-815




  • Bupati H. Soeharto dan Istrinya membagikan “udik-udik” senilai Rp.815 ribu

Trenggalek, Memo

Puncak peringatan Hari Jadi Trenghgalek tahun ini terkesan sederhana namun tetap sakral dan dogmatis dalam nuansa Bulan Suci Ramadhan. Prosesi berlangsung siang hari Senin, (31/08) di Pendapa Trenggalek, serta kirab pusaka mengelilingi alun-alun. Seluruh tamu dan undangan pada acara ini diwajibkan mengenakan pakaian tradisional jawa, begitu juga dengan seluruh dialog pada prosesi menggunakan bahasa jawa.

Prosesi diawali dengan penyerahan pusaka serta bendera kabupaten oleh Bupati Trenggalek H. Soeharto kepada Wakil Bupati Mahsun Ismail S.Ag., MM. untuk diarak mengelilingi alun-alun Trenggalek. Kirab Pusaka diiringi oleh puluhan penabuh rebana berbusana muslim putih-putih. Perwira Kirab, Wabup Mahsun Ismail diikuti para pejabat eselon tiga ke bawah, dengan rute keliling aloon-aloon. Pusaka yang dikirab adalah dua tombak koro welang, tiga songsong tunggul projo, tunggul nogo dan tunggul wibowo. Prasasti Kamulan dan penghargaan Parasamya Purna Karya Nugraha juga ditampilkan.

Sebelum memasuki acara puncak prosesi hari ini, kemarin diselenggarakan rangkaian acara. Mulai dari ziarah makam ke makam para leluhur yakni makam Mbah Kawak di Kelurahan Ngantru; makam Minak Sopal di SentonoGedong, Kelurahan Ngantru. Berikutnya ke makam Kyai Kanjeng Jimat di Aryo Ayu, Kecamatan Pogalan;serta ke Pemakaman Sumber. Ziarah ke makam para leluhur dilakukan Bupati Trenggalek Soeharto, para unsur muspida dan pejabatlain, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Selain ziarah makam, malam hari juga diselenggarakan tahlilan, istighotsah dan diakhiri mocopatan oleh para sesepuh.

Selain semua pejabat dan tokoh masyarakat, hadir pula mantan bupati (1975-1985), mantan bupati Slamet (1990-1995) dan mantan bupati Ernomo (1995-2000). Mantan bupati Mulyadi tak nampak hadir, hanya diwakili istrinya Peny Mulyadi.

Dalam prosesi tetap ada tari gambyong , namun jika biasanya penari mengenakan kemben, maka hari ini penari berpakaian muslimah dengan aurat tertutup. Prosesi berjalan lancar, hingga pada pembacaan sejarah Trenggalek Slamet Rijanto S.Sos MM, sambutan bupati dan terakhir pemotongan tumpeng agung. Kali ini warga yang ketiban potongan tumpeng dari Bupati H. Soeharto adalah pasangan suami istri Muyadi & Mitun warga Desa Sumberdadi mewakili warga Trenggalek. Panitia menyediakan delapan ribu nasi bungkus bagi masyarakat yang mau berbuka bersama. Terakhir Bupati Soeharto menyebar ‘udik-udik’, yaitu uang recehan Rp. 500,00 senilai 815 ribu rupiah yang bisa diambil oleh warga Trenggalek yang datang ke pendapa. “Udik-udik” ini baru pertama kali dilakukan, dan akan ditradisikan setiap kali perayaan Hari Jadi.(Haz)

Read more..

Blog Sahabat Saya

Recent Posts