> Puncak Prosesi Hari Jadi Trenggalek Ke-815 | Prigibeach Trenggalek

Puncak Prosesi Hari Jadi Trenggalek Ke-815




  • Bupati H. Soeharto dan Istrinya membagikan “udik-udik” senilai Rp.815 ribu

Trenggalek, Memo

Puncak peringatan Hari Jadi Trenghgalek tahun ini terkesan sederhana namun tetap sakral dan dogmatis dalam nuansa Bulan Suci Ramadhan. Prosesi berlangsung siang hari Senin, (31/08) di Pendapa Trenggalek, serta kirab pusaka mengelilingi alun-alun. Seluruh tamu dan undangan pada acara ini diwajibkan mengenakan pakaian tradisional jawa, begitu juga dengan seluruh dialog pada prosesi menggunakan bahasa jawa.

Prosesi diawali dengan penyerahan pusaka serta bendera kabupaten oleh Bupati Trenggalek H. Soeharto kepada Wakil Bupati Mahsun Ismail S.Ag., MM. untuk diarak mengelilingi alun-alun Trenggalek. Kirab Pusaka diiringi oleh puluhan penabuh rebana berbusana muslim putih-putih. Perwira Kirab, Wabup Mahsun Ismail diikuti para pejabat eselon tiga ke bawah, dengan rute keliling aloon-aloon. Pusaka yang dikirab adalah dua tombak koro welang, tiga songsong tunggul projo, tunggul nogo dan tunggul wibowo. Prasasti Kamulan dan penghargaan Parasamya Purna Karya Nugraha juga ditampilkan.

Sebelum memasuki acara puncak prosesi hari ini, kemarin diselenggarakan rangkaian acara. Mulai dari ziarah makam ke makam para leluhur yakni makam Mbah Kawak di Kelurahan Ngantru; makam Minak Sopal di SentonoGedong, Kelurahan Ngantru. Berikutnya ke makam Kyai Kanjeng Jimat di Aryo Ayu, Kecamatan Pogalan;serta ke Pemakaman Sumber. Ziarah ke makam para leluhur dilakukan Bupati Trenggalek Soeharto, para unsur muspida dan pejabatlain, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Selain ziarah makam, malam hari juga diselenggarakan tahlilan, istighotsah dan diakhiri mocopatan oleh para sesepuh.

Selain semua pejabat dan tokoh masyarakat, hadir pula mantan bupati (1975-1985), mantan bupati Slamet (1990-1995) dan mantan bupati Ernomo (1995-2000). Mantan bupati Mulyadi tak nampak hadir, hanya diwakili istrinya Peny Mulyadi.

Dalam prosesi tetap ada tari gambyong , namun jika biasanya penari mengenakan kemben, maka hari ini penari berpakaian muslimah dengan aurat tertutup. Prosesi berjalan lancar, hingga pada pembacaan sejarah Trenggalek Slamet Rijanto S.Sos MM, sambutan bupati dan terakhir pemotongan tumpeng agung. Kali ini warga yang ketiban potongan tumpeng dari Bupati H. Soeharto adalah pasangan suami istri Muyadi & Mitun warga Desa Sumberdadi mewakili warga Trenggalek. Panitia menyediakan delapan ribu nasi bungkus bagi masyarakat yang mau berbuka bersama. Terakhir Bupati Soeharto menyebar ‘udik-udik’, yaitu uang recehan Rp. 500,00 senilai 815 ribu rupiah yang bisa diambil oleh warga Trenggalek yang datang ke pendapa. “Udik-udik” ini baru pertama kali dilakukan, dan akan ditradisikan setiap kali perayaan Hari Jadi.(Haz)

0 Komentar:

Poskan Komentar

Bila Anda suka dengan entry blog ini, sudilah menuliskan komentar di sini.
Terimakasih.